Harga Diri Wong Lanang: Menggawe Apa Bae, Demi Keluarga
Harga Diri Wong Lanang: Menggawe Apa Bae, Demi Keluarga
Ada kalimat sederhana yang sering kita dengar di kampung-kampung, di warung kopi, di obrolan bapak-bapak yang pulang kerja saat senja: “Harga diri wong lanang iku menggawe.” Kalimat ini pendek, tapi berat. Tidak puitis, tidak romantis, tapi sarat makna. Ia bukan slogan motivasi, melainkan kesimpulan hidup yang lahir dari pengalaman panjang, dari keringat yang jatuh ke tanah, dari punggung yang lelah, dari kepala yang penuh hitung-hitungan.
Bagi banyak lelaki, terutama yang tumbuh dalam budaya sederhana, harga diri tidak diukur dari gelar, jabatan, atau pujian. Harga diri diukur dari satu hal yang sangat konkret: apakah dia bekerja atau tidak. Menggawe apa bae, sing penting halal. Sing penting ana sing digowo muleh. Sing penting keluarga iso mangan lan turu kanthi tentrem.
Di titik inilah, harga diri wong lanang sering kali dipahami bukan sebagai kebanggaan ego, melainkan sebagai tanggung jawab hidup.
Seorang lelaki mungkin tidak pandai berbicara tentang perasaan. Ia jarang mengeluh. Bahkan ketika dadanya sesak oleh cemas, ia memilih diam. Namun satu hal yang jarang ia lepaskan: kemauan untuk bekerja. Karena baginya, berhenti bekerja sama dengan berhenti menjadi lelaki seutuhnya.
Menggawe apa bae—kalimat ini sering disalahpahami. Seolah-olah berarti asal kerja, tanpa mimpi, tanpa cita-cita. Padahal di baliknya ada keikhlasan yang besar. Banyak lelaki melepaskan gengsi, menurunkan ego, dan mengubur mimpi mudanya demi satu tujuan: keluarga tetap hidup dengan layak.
Ada yang dulu bermimpi jadi sarjana sukses, tapi akhirnya jadi buruh. Ada yang ingin membuka usaha besar, tapi memilih jadi kuli bangunan. Ada yang punya bakat seni, tapi bekerja di pabrik dengan sistem shift. Semua itu bukan karena mereka tidak punya mimpi, tetapi karena hidup menuntut prioritas.
Dalam budaya wong cilik, kerja bukan soal kebanggaan diri, tapi soal kewajiban moral. Lelaki merasa gagal bukan ketika diremehkan orang lain, tetapi ketika ia pulang tanpa membawa apa-apa. Ketika anaknya bertanya soal uang jajan. Ketika istrinya diam karena kebutuhan rumah belum terpenuhi.
Di situlah harga diri diuji. Bukan di depan orang banyak, tapi di depan keluarga sendiri.
Ironisnya, dunia jarang memberi ruang empati untuk kelelahan lelaki. Lelaki diharapkan kuat, tahan banting, tidak cengeng. Jika mengeluh, dianggap lemah. Jika berhenti, dianggap tidak bertanggung jawab. Maka banyak lelaki belajar satu hal sejak kecil: tahan sendiri.
Mereka belajar bahwa capek itu biasa. Sakit bisa ditunda. Perasaan bisa disimpan. Yang penting kerja jalan. Yang penting keluarga aman.
Sering kali, lelaki tidak butuh pujian besar. Cukup satu kalimat sederhana: “Matur nuwun wis ngupadi.” Terima kasih sudah berusaha. Kalimat itu mungkin terdengar sepele, tapi bagi lelaki, itu seperti mengisi ulang tenaga batin yang nyaris habis.
Menggawe apa bae juga mengajarkan kerendahan hati. Lelaki belajar bahwa pekerjaan tidak selalu sesuai keinginan. Ada kalanya ia harus melakukan hal yang tidak ia banggakan, demi orang-orang yang ia cintai. Di situlah letak pengorbanan yang sering tidak terlihat.
Banyak lelaki tidak sedang mengejar kaya. Mereka hanya ingin cukup. Cukup untuk makan. Cukup untuk sekolah anak. Cukup untuk bayar listrik. Cukup untuk bertahan satu bulan lagi.
Dan bertahan, bagi lelaki, adalah bentuk keberanian.
Dalam diam, lelaki sering memikul ketakutan besar: takut tidak berguna. Takut dianggap gagal. Takut mengecewakan keluarga. Ketakutan ini jarang diucapkan, tapi selalu hadir. Maka ketika ada pekerjaan, apa pun bentuknya, ia genggam erat. Karena bekerja bukan hanya soal uang, tapi soal identitas.
Harga diri wong lanang tidak selalu teriak. Ia hadir dalam rutinitas. Dalam bangun pagi meski kurang tidur. Dalam berangkat kerja meski badan pegal. Dalam pulang sore dengan wajah lelah tapi tetap berusaha tersenyum.
Namun kita juga perlu jujur: narasi ini sering membuat lelaki lupa merawat dirinya sendiri. Terlalu fokus bekerja, terlalu takut berhenti, hingga lupa bahwa dirinya juga manusia. Lelaki juga bisa rapuh. Lelaki juga bisa butuh didengar. Lelaki juga bisa lelah secara mental.
Menggawe demi keluarga adalah kemuliaan. Tapi menjaga diri agar tetap sehat, lahir dan batin, juga tanggung jawab.
Keluarga tidak hanya butuh uang. Mereka juga butuh kehadiran. Butuh komunikasi. Butuh sosok yang hidup, bukan sekadar mesin pencari nafkah. Di sinilah keseimbangan menjadi penting. Harga diri sejati bukan hanya soal bekerja tanpa henti, tetapi soal bertahan dengan utuh.
Budaya kita perlu mulai memberi ruang untuk memahami bahwa lelaki yang beristirahat bukan berarti malas. Lelaki yang bercerita bukan berarti lemah. Lelaki yang meminta bantuan bukan berarti gagal. Semua itu justru tanda kesadaran diri.
Namun sampai hari ini, realitas di lapangan masih keras. Banyak lelaki tidak punya pilihan selain terus bekerja. Dunia belum sepenuhnya ramah. Sistem belum adil. Maka kalimat “menggawe apa bae” masih menjadi pegangan hidup yang paling realistis.
Dan mungkin, di situlah keagungan lelaki sederhana berada. Mereka tidak banyak bicara tentang pengorbanan. Mereka tidak menuntut penghargaan. Mereka hanya ingin satu hal: keluarganya baik-baik saja.
Jika suatu hari kita melihat lelaki yang pakaiannya lusuh, tangannya kasar, wajahnya lelah, jangan buru-buru meremehkan. Bisa jadi di balik tubuh itu ada keluarga yang bergantung penuh padanya. Ada doa yang dipanjatkan diam-diam. Ada harga diri yang dijaga dengan kerja keras.
Harga diri wong lanang iku menggawe.
Menggawe apa bae, demi keluarga.
Bukan karena ia tidak punya pilihan lain, tetapi karena cintanya lebih besar daripada egonya. Dan dalam dunia yang sering bising oleh pamer keberhasilan, lelaki-lelaki seperti inilah yang sesungguhnya menopang kehidupan—dengan cara yang sunyi, tapi nyata.
