Ads

Bertempur, Bertahan, dan Bahagia Tanpa Izin Siapa Pun

Bertempur, Bertahan, dan Bahagia Tanpa Izin Siapa Pun

Oleh Akang Marta



Di awal tahun ini, aku akhirnya berdamai dengan satu kenyataan yang pahit tapi membebaskan: tidak ada yang benar-benar peduli dengan susahmu. Dunia tidak berhenti hanya karena kamu lelah. Waktu tidak melambat karena hatimu retak. Orang-orang mungkin mendengar ceritamu, mengangguk, lalu kembali sibuk dengan hidup mereka masing-masing. Dan itu bukan kejahatan. Itu realitas.

Kesadaran ini awalnya terasa kejam. Namun semakin kupikirkan, justru di sanalah letak kekuatannya. Ketika kita berhenti berharap dunia akan menyelamatkan kita, di situlah kita mulai menyelamatkan diri sendiri. Tidak ada yang akan turun tangan sepenuhnya mengangkat beban kita. Maka satu-satunya pilihan adalah bertempur—dengan sehancur-hancurnya jika perlu.

Bertempur di sini bukan soal memukul dunia dengan amarah, tetapi tentang tidak menyerah meski keadaan memaksa kita merangkak. Tentang bangun setiap hari dengan tubuh lelah, pikiran kusut, dan tetap memilih berjalan. Tentang jatuh berkali-kali lalu berdiri lagi, meski lutut berdarah dan hati babak belur. Tidak ada tepuk tangan di proses ini. Tidak ada sorotan. Yang ada hanya dirimu dan tekad yang kamu paksa tetap hidup.

Aku belajar bahwa hidup bukan soal selalu menang. Hidup adalah tentang bertahan cukup lama sampai kita menemukan ulang cara untuk maju. Ada hari-hari di mana semua terasa kacau. Rencana runtuh. Harapan berantakan. Usaha tidak berbuah. Di titik itu, kita sering merasa gagal. Namun refleksi di awal tahun ini mengajarkanku: gagal bukan akhir. Gagal adalah sinyal untuk setting ulang.

Setting ulang berarti berani berhenti sejenak dan jujur pada diri sendiri. Mengakui bahwa strategi lama tidak lagi bekerja. Mengakui bahwa kita perlu cara baru, sudut pandang baru, bahkan mungkin versi diri yang baru. Tidak semua kegagalan harus ditangisi lama-lama. Sebagian cukup dijadikan data. Apa yang salah? Apa yang bisa diperbaiki? Apa yang harus dilepas?

Ketika berjaya, rayakan. Rayakan sekecil apa pun. Jangan pelit pada diri sendiri. Dunia terlalu sering meremehkan pencapaian kita, jadi jangan ikut-ikutan meremehkannya. Bertahan satu hari lagi saat hampir menyerah itu layak dirayakan. Bangkit setelah jatuh itu layak dirayakan. Tidak semua perayaan harus besar. Kadang cukup secangkir kopi, napas panjang, dan senyum kecil yang jujur.

Namun di balik semua ini, ada satu hal yang tidak bisa diabaikan: pembenci. Mereka selalu ada. Mereka yang tidak pernah hadir saat kamu susah, tetapi tiba-tiba paling vokal saat kamu mulai bangkit. Mereka yang diam saat kamu jatuh, namun resah saat kamu berdiri. Jangan heran. Pembenci tidak akan pernah suka melihat kita bahagia. Kebahagiaanmu adalah cermin yang memantulkan ketidakpuasan mereka terhadap hidupnya sendiri.

Awalnya, aku sempat terganggu. Bertanya-tanya kenapa kebahagiaanku seperti mengusik orang lain. Namun kini aku mengerti: bukan tugasku untuk mengecil agar orang lain nyaman. Bukan kewajibanku untuk redup hanya supaya tidak menyilaukan mereka yang memilih tinggal di gelap. Jika kebahagiaanku membuat mereka gelisah, itu bukan dosaku.

Maka di awal tahun ini, aku memilih satu sikap yang mungkin terdengar keras tapi jujur: teruslah bahagia. Teruslah hidup. Teruslah bergerak. Bukan untuk pamer, bukan untuk membalas dendam, tetapi sebagai bentuk perlawanan paling elegan. Bahagia adalah bentuk kemenangan yang tidak bisa dirampas siapa pun.

Bahagia di sini bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru sebaliknya. Bahagia adalah kemampuan untuk tetap tersenyum meski tahu besok belum tentu mudah. Bahagia adalah keberanian untuk menikmati hidup di tengah kekacauan. Bahagia adalah keputusan sadar, bukan kondisi sempurna.

Aku menyadari bahwa orang-orang yang membencimu sering kali berharap kamu berhenti. Mereka menunggu kamu lelah. Mereka menunggu kamu menyerah. Maka teruslah berjalan. Teruslah tertawa. Teruslah mencintai hidupmu sendiri sampai mereka lelah membencimu, sampai mereka kehabisan tenaga untuk memantau langkahmu.

Refleksi ini bukan ajakan untuk menjadi keras tanpa empati. Justru sebaliknya. Kita boleh baik, boleh peduli, boleh membantu. Tetapi jangan lupa menjaga diri sendiri. Jangan mengorbankan kesehatan mental demi menyenangkan orang-orang yang bahkan tidak peduli saat kamu terpuruk.

Awal tahun ini adalah momentum untuk menegaskan ulang posisi kita: aku bertanggung jawab atas hidupku sendiri. Aku berhak atas kebahagiaanku sendiri. Aku berhak untuk jatuh, gagal, lalu bangkit dengan caraku sendiri. Dan aku tidak perlu izin siapa pun untuk itu.

Jika hari ini terasa berat, ingat satu hal: kamu masih berdiri. Dan selama kamu masih berdiri, pertarungan belum selesai. Bertempurlah dengan sehancur-hancurnya jika perlu, tetapi jangan berhenti. Rayakan kemenanganmu. Setting ulang kegagalanmu. Dan jangan pernah menunda kebahagiaan hanya karena takut ada yang tidak suka.

Karena pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar peduli dengan susahmu selain dirimu sendiri. Maka jagalah dirimu. Kuatkan langkahmu. Dan teruslah bahagia—bukan untuk mereka, tetapi untuk dirimu yang sudah bertahan sejauh ini.

Awal tahun ini aku memilih hidup dengan satu prinsip sederhana: dunia boleh keras, tapi aku tidak akan berhenti merayakan hidupku sendiri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel