Pusing yang Baru Datang Setelah Ada yang Peduli
Pusing yang Baru Datang Setelah Ada yang Peduli
Oleh Akang Marta
Ada kalimat sederhana yang sering dilontarkan sambil bercanda, tapi diam-diam menyimpan makna dalam: kalau sudah nikah, saat pusing atau sakit kepala ada yang mijitin. Kalau sebelum menikah, aku ora tau puyeng endasku. Sekilas terdengar lucu, seolah menikah adalah penyebab datangnya pusing. Padahal kalau direnungkan lebih dalam, kalimat ini justru bicara tentang sesuatu yang lebih manusiawi: tentang kehadiran, perhatian, dan keberanian untuk mengakui lelah.
Sebelum menikah, banyak dari kita merasa “baik-baik saja”. Capek ditahan, pusing dianggap biasa, sakit kepala dibiarkan berlalu. Bukan karena tubuh tidak lelah, tetapi karena tidak ada tempat untuk bersandar. Kita terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri. Kalau pusing, minum air, tidur sebentar, atau ya sudah—diabaikan. Tidak ada yang bertanya, “kenapa?” Tidak ada tangan yang dengan refleks memijat pelan sambil berkata, “istirahat dulu.”
Setelah menikah, justru pusing itu terasa lebih sering muncul. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi lebih berat semata, tetapi karena ada ruang untuk jujur pada tubuh sendiri. Ada seseorang yang peduli. Ada yang memperhatikan perubahan raut wajah. Ada yang peka ketika nada bicara mulai pelan. Dan anehnya, justru di situ kita berani berkata, “aku capek.”
Pusing itu bukan hal baru. Yang baru adalah keberanian untuk mengakuinya.
Pernikahan, dalam bentuk paling sederhananya, adalah tentang kehadiran. Bukan selalu soal romantisme besar, bukan soal hadiah mahal, bukan soal foto estetik. Kadang ia hadir dalam bentuk paling sepele: pijatan kecil di kepala, segelas air hangat, atau kalimat lirih, “rebahan aja.” Hal-hal yang dulu tidak kita miliki, bukan karena tidak butuh, tapi karena tidak ada yang menyediakan.
Kalimat “sebelum menikah aku ora tau puyeng endasku” bisa dibaca sebagai ironi. Bukan berarti kepala tidak pernah pusing, tetapi karena tidak ada yang peduli, maka pusing itu dianggap tidak penting. Kita belajar menormalisasi kelelahan. Kita menganggap kuat sebagai tidak mengeluh. Kita mengira mandiri berarti tidak membutuhkan siapa pun.
Padahal manusia tidak diciptakan untuk sendirian.
Setelah menikah, hidup memang tidak otomatis lebih mudah. Justru sering kali lebih kompleks. Tanggung jawab bertambah, pikiran bercabang, kebutuhan berlipat. Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang berubah: kita tidak lagi sendirian menghadapi lelah. Ada yang ikut memikirkan. Ada yang ikut merasakan. Ada yang ikut memikul, meski hanya dengan pijatan sederhana.
Pijatan itu bukan soal teknik. Bukan soal seberapa kuat tekanannya. Ia adalah simbol perhatian. Simbol bahwa ada seseorang yang berkata, “lelahmu penting.” Dan bagi banyak orang dewasa, itu adalah kemewahan yang baru dirasakan setelah menikah.
Menariknya, pusing sering datang justru ketika kita merasa aman. Tubuh punya cara sendiri untuk memberi sinyal. Ketika sendirian, kita memaksa diri bertahan. Ketika ada yang menjaga, tubuh akhirnya berani jujur. Ia berkata, “aku capek.” Dan kepala pun terasa berat.
Ini bukan kelemahan. Ini adalah proses menjadi manusia seutuhnya.
Pernikahan mengajarkan bahwa kuat tidak selalu berarti diam. Bahwa mencintai dan dicintai membuka ruang untuk saling merawat. Bahwa perhatian kecil bisa menjadi obat paling mujarab. Kadang lebih ampuh daripada obat apotek. Karena yang menyembuhkan bukan hanya sentuhan, tetapi rasa aman.
Namun refleksi ini juga mengingatkan: pijatan bukan kewajiban sepihak. Ia adalah bahasa cinta yang perlu dijaga dua arah. Ada hari ketika kita yang pusing, ada hari ketika pasangan yang lelah. Pernikahan yang sehat adalah tentang saling peka, bukan saling menuntut.
Jangan sampai kalimat “ada yang mijitin” berubah menjadi standar yang dipaksakan. Ia seharusnya lahir dari cinta, bukan tuntutan. Dari empati, bukan kewajiban mekanis. Karena pijatan yang paling menenangkan bukan datang dari tangan, tetapi dari hati yang mau peduli.
Di balik candaan tentang pusing setelah menikah, ada pesan penting: betapa berharganya kehadiran seseorang yang mau mendengar keluhan paling kecil sekalipun. Betapa hidup berubah ketika kita tidak lagi harus pura-pura kuat sendirian. Betapa sederhana namun dalam makna dari perhatian kecil yang konsisten.
Bagi mereka yang belum menikah, refleksi ini bukan promosi, apalagi glorifikasi. Ini hanya pengingat bahwa manusia butuh ruang aman. Entah itu pasangan, keluarga, atau sahabat. Tempat di mana kita boleh berkata, “aku capek,” tanpa takut dianggap lemah.
Dan bagi yang sudah menikah, ini adalah ajakan untuk tidak meremehkan hal-hal kecil. Karena sering kali, yang membuat seseorang bertahan bukan solusi besar, tetapi pijatan sederhana di saat kepala terasa penuh.
Pada akhirnya, pusing bukan musuh. Ia adalah pesan. Pesan bahwa kita lelah, bahwa kita butuh berhenti sejenak, bahwa kita butuh diperhatikan. Dan betapa indahnya ketika pesan itu tidak jatuh ke ruang kosong, tetapi disambut oleh tangan yang peduli.
Maka jika hari ini kepalamu terasa berat, mungkin itu bukan karena hidup terlalu keras. Mungkin itu karena akhirnya ada yang membuatmu merasa cukup aman untuk mengakuinya. Dan itu, dalam dunia yang sering memaksa kita kuat sendirian, adalah anugerah yang patut disyukuri.
