Menyeberang Tanpa Kehilangan Arah: Wajah Santri Global di Dunia Ilmu
Menyeberang Tanpa Kehilangan Arah: Wajah Santri Global di Dunia Ilmu
https://youtube.com/shorts/eIzHIZD0CTE?si=oicCCjR2ZUfxADvA
Perjalanan intelektual Gus Nadir—dari IAIN Ciputat, Universitas Muhammadiyah Jakarta, lalu menyeberang ke Australia, Singapura, hingga Melbourne Law School—menyampaikan satu pesan mendasar: ilmu pengetahuan tidak mengenal paspor ideologis. Yang menentukan kualitas keilmuan bukanlah label institusi atau asal-usul ijazah, melainkan integritas berpikir dan kejujuran intelektual. Ilmu hidup dari keberanian bertanya, bukan dari sekat-sekat administratif yang membatasi imajinasi.
Dalam sejarah pendidikan kita, ijazah syariah atau latar belakang pesantren kerap dipandang “tidak layak” untuk memasuki wilayah ilmu politik atau hukum umum. Sarjana sastra Arab sering dipagari pada ranah keagamaan semata, sementara alumni pesantren dicurigai jika berbicara konstitusi, demokrasi, atau hukum modern. Batas-batas disiplin dijaga begitu ketat, seolah-olah lintas ilmu adalah bentuk penyimpangan. Padahal, sejarah justru menunjukkan hal sebaliknya.
Mereka yang berani menyeberangi batas itulah yang sering memperkaya khazanah keilmuan. Dengan membawa perspektif berbeda, mereka membuka pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak terpikirkan oleh mereka yang hanya tinggal di satu disiplin. Gus Nadir adalah contoh santri global yang tidak tercerabut dari tradisi. Ia tidak meninggalkan pesantren, tetapi membawa nilai-nilai pesantren—adab, ketekunan, dan kehati-hatian berpikir ke medan akademik yang lebih luas.
Santri global tidak alergi pada ilmu Barat, tetapi juga tidak silau olehnya. Ia berdialog, bukan meniru. Ia menyaring, bukan menelan mentah-mentah. Dalam dialog itulah, identitas justru menguat, bukan melemah. Tradisi tidak membeku; ia bergerak, beradaptasi, dan menemukan bentuk baru tanpa kehilangan ruhnya.
https://youtube.com/shorts/eIzHIZD0CTE?si=oicCCjR2ZUfxADvA
Di sinilah pesan penting bagi generasi muda Indonesia: jangan takut pada lintasan hidup yang tidak lurus. Ilmu tidak selalu bergerak linier. Kadang ia berkelok, tertunda, bahkan tampak gagal. Namun selama niatnya jujur dan prosesnya dijalani dengan integritas, jalan itu pada akhirnya akan menemukan maknanya sendiri.
Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi