Ads

Susah Bikin Mahasiswa Fokus Saat Kuliah? Sebuah Refleksi tentang Kelas, Zaman, dan Cara Belajar yang Berubah

Susah Bikin Mahasiswa Fokus Saat Kuliah? Sebuah Refleksi tentang Kelas, Zaman, dan Cara Belajar yang Berubah

Oleh: Akang Marta



Susah bikin mahasiswa fokus saat kuliah bukan sekadar keluhan dosen yang lelah menghadapi kelas sepi respons. Ia adalah tanda zaman. Tanda bahwa dunia belajar telah berubah, sementara sebagian ruang kuliah masih berjalan dengan cara lama. Ketika mahasiswa terlihat sibuk dengan layar ponsel, tampak abai pada penjelasan, atau hanya hadir secara fisik tanpa kehadiran batin, sering kali yang disalahkan adalah karakter generasi: katanya generasi instan, katanya mudah bosan, katanya tidak tahan proses. Namun benarkah masalahnya sesederhana itu?

Kita perlu jujur mengakui bahwa fokus mahasiswa hari ini tidak bisa diperlakukan dengan pendekatan yang sama seperti dua puluh atau bahkan sepuluh tahun lalu. Dunia mereka penuh distraksi, bukan karena mereka lemah, tetapi karena realitas digital memang dirancang untuk merebut perhatian. Media sosial, video pendek, notifikasi tanpa henti—semuanya berkompetisi dengan suara dosen di kelas. Dalam situasi seperti ini, modul PDF setebal puluhan halaman yang hanya berisi teks hitam-putih jelas bukan lagi “senjata” yang memadai.

Masalahnya, banyak pendidik masih bertanya: kenapa mahasiswa tidak serius? Padahal pertanyaan yang lebih reflektif seharusnya adalah: apakah cara kita mengajar masih relevan dengan cara mereka belajar? Pendidikan bukan sekadar soal siapa yang paling benar secara akademik, tetapi siapa yang mampu menjembatani ilmu dengan cara penerimaan audiensnya. Jika mahasiswa hari ini hidup dalam dunia visual, interaktif, dan cepat, maka metode belajar yang statis tentu akan terasa asing, bahkan membosankan.

Modul PDF sebenarnya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika modul itu diperlakukan sebagai satu-satunya medium, tanpa narasi, tanpa konteks, tanpa interaksi. Banyak modul disusun dengan niat baik—rapi, lengkap, referensial—namun lupa bahwa mahasiswa bukan mesin penghafal. Mereka membutuhkan alasan untuk peduli. Mereka perlu merasa bahwa apa yang dipelajari berkaitan dengan hidup mereka, dengan realitas sosial, dengan masa depan yang mereka bayangkan.

Di sinilah refleksi penting bagi dunia pendidikan tinggi: fokus mahasiswa tidak bisa dipaksa, tetapi bisa diciptakan. Fokus lahir dari keterlibatan emosional dan intelektual. Ketika mahasiswa merasa dilibatkan, diajak berpikir, diajak berdiskusi, diajak mempertanyakan, maka fokus hadir dengan sendirinya. Bukan karena takut absen, bukan karena nilai, tetapi karena rasa ingin tahu yang terbangun.

Namun kita juga tidak bisa menutup mata pada beban dosen. Banyak dosen mengajar dengan jadwal padat, tuntutan administrasi menumpuk, kewajiban riset dan publikasi terus mengejar. Di tengah semua itu, menyiapkan materi kuliah sering kali menjadi beban tambahan yang menguras energi. Maka wajar jika muncul kelelahan, bahkan kejenuhan. Di sinilah paradoks pendidikan modern: mahasiswa bosan karena materi tidak menarik, dosen stres karena harus terus berinovasi tanpa dukungan sistem yang memadai.

Karena itu, gagasan “mencoba cara baru yang bikin mahasiswa betah belajar tanpa bikin dosen stres” bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan nyata. Cara baru tidak selalu berarti teknologi yang rumit atau mahal. Ia bisa berupa perubahan pendekatan: dari ceramah satu arah menjadi dialog, dari penekanan hafalan ke pemaknaan, dari sekadar menyampaikan materi ke membangun pengalaman belajar.

Mahasiswa hari ini lebih responsif terhadap pembelajaran berbasis kasus, cerita nyata, simulasi, dan diskusi terbuka. Mereka ingin tahu “kenapa ini penting”, bukan hanya “apa definisinya”. Mereka ingin dilibatkan sebagai subjek, bukan objek. Ketika dosen berani membuka ruang tanya, bahkan ruang salah, mahasiswa justru lebih hidup. Kelas menjadi ruang berpikir, bukan ruang menunggu waktu selesai.

Refleksi ini juga menuntut kita untuk berdamai dengan kenyataan bahwa otoritas dosen tidak lagi absolut. Dulu, dosen adalah satu-satunya sumber ilmu. Kini, mahasiswa bisa mengakses ribuan sumber hanya lewat gawai di tangan. Maka peran dosen bergeser: bukan lagi sekadar penyampai informasi, tetapi kurator pengetahuan, fasilitator diskusi, dan pembimbing cara berpikir kritis. Pergeseran ini memang menuntut adaptasi, tetapi juga membuka peluang besar untuk pembelajaran yang lebih bermakna.

Ketika modul PDF tidak lagi menarik, itu bukan akhir segalanya. Ia bisa dihidupkan kembali dengan konteks, dengan visual, dengan pertanyaan reflektif, dengan contoh yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Materi yang sama, jika disampaikan dengan pendekatan berbeda, bisa menghasilkan respons yang jauh berbeda pula. Di sinilah kreativitas pedagogis menjadi kunci, bukan sekadar kecanggihan alat.

Lebih jauh, refleksi ini juga menyentuh dimensi etis pendidikan. Apakah kita mengajar hanya untuk menggugurkan kewajiban, atau benar-benar ingin menghadirkan pembelajaran yang memanusiakan? Mahasiswa bukan angka di daftar hadir, bukan sekadar penerima nilai. Mereka adalah individu yang sedang mencari jati diri, arah hidup, dan makna. Jika ruang kuliah gagal menyentuh dimensi itu, wajar jika fokus mereka mudah buyar.

Pada akhirnya, kesulitan membuat mahasiswa fokus bukanlah aib, melainkan undangan untuk berubah. Ia adalah sinyal bahwa sistem, metode, dan cara pandang perlu dievaluasi. Dunia terus bergerak, dan pendidikan tidak boleh tertinggal. Mencari cara baru bukan berarti mengkhianati nilai lama, tetapi justru menjaga esensi pendidikan agar tetap relevan: mencerdaskan, membebaskan, dan memanusiakan.

Maka pertanyaannya bukan lagi “kenapa mahasiswa sulit fokus?”, melainkan “apa yang bisa kita ubah agar mereka mau fokus?”. Dari pertanyaan itulah refleksi dimulai, dan dari refleksi itulah harapan pembelajaran yang lebih hidup bisa tumbuh.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel