Fatamorgana, Suara Bising, dan Keberanian untuk Tetap Melangkah
Fatamorgana, Suara Bising, dan Keberanian untuk Tetap Melangkah
Oleh Akang Marta
Pandanglah sejauh mungkin mata memandang. Kalimat ini sering terdengar seperti ajakan bijak, seolah-olah di kejauhan sana ada jawaban, ada tujuan, ada makna yang sedang menunggu untuk ditemukan. Tapi semakin jauh mata memandang, semakin sering pula kita menyadari satu hal yang pahit: tidak semua yang terlihat itu nyata. Banyak yang hanya fatamorgana. Indah dari jauh, kosong saat didekati.
Namun hidup tidak pernah memberi pilihan untuk berhenti hanya karena yang terlihat belum tentu benar. Kita tetap diminta berjalan, melangkah, dan mengambil keputusan, meski pijakan sering terasa samar. Di titik inilah kebijaksanaan diuji, bukan dari seberapa tajam penglihatan, tapi dari seberapa tenang hati menerima kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dipahami sejak awal.
Di tengah usaha memandang jauh, selalu ada suara-suara yang menyela. “Ngomong apa kunuh?” kata mereka. Sebuah kalimat pendek, tapi cukup untuk memotong alur pikiran. Kadang diucapkan sambil bercanda, kadang bernada meremehkan, kadang hanya sekadar refleksi kebingungan orang yang tidak mau repot memahami.
Lucunya, suara-suara seperti ini sering datang bukan dari orang asing, tapi dari sekitar kita sendiri. Dari lingkaran yang seharusnya memberi dukungan, justru muncul keraguan. Dari mereka yang tidak ikut berjalan, tapi sibuk mengomentari arah langkah orang lain.
Di sinilah kita dihadapkan pada pilihan sederhana tapi berat: berhenti menjelaskan atau terus melangkah. Karena menjelaskan kepada orang yang tidak ingin memahami hanyalah pemborosan energi. Maka lahirlah sikap yang terdengar cuek tapi sebenarnya matang: abaikan wes.
Mengabaikan bukan berarti kalah. Mengabaikan adalah seni bertahan hidup di tengah dunia yang terlalu bising. Tidak semua opini layak ditanggapi. Tidak semua komentar perlu dijawab. Ada saatnya diam lebih lantang daripada seribu pembelaan.
Lalu ada kalimat lain yang muncul, entah tulus atau setengah mengejek: “Keren pa bos q.” Sebuah pujian yang ambigu. Bisa jadi bentuk dukungan, bisa pula sindiran halus. Tapi justru di sinilah pelajaran pentingnya: jangan menggantungkan semangat pada pengakuan orang lain. Hari ini dipuji, besok bisa ditertawakan. Hari ini dianggap keren, besok dianggap aneh.
Jika langkah kita bergantung pada tepuk tangan, maka kita akan berhenti setiap kali tepuk tangan itu menghilang. Tapi kalau langkah kita berangkat dari keyakinan, maka sunyi sekalipun tidak akan mematahkan niat.
“Lanjutkan,” kata suara lain. Kalimat ini sederhana, tapi punya daya dorong yang besar. Karena hidup pada dasarnya memang tentang melanjutkan. Bukan karena semuanya jelas, tapi justru karena tidak ada jaminan apa-apa. Kita melanjutkan bukan karena yakin akan hasil, tapi karena berhenti bukan pilihan yang lebih baik.
Dan di ujung semua itu, terdengar seruan yang khas, penuh energi dan keakraban: “Eya nengannnn.” Sebuah bentuk afirmasi, semacam anggukan kolektif yang mengatakan: ya sudah, jalani saja. Tidak perlu terlalu serius menjelaskan, tidak perlu sibuk membuktikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan paradoks ini. Di satu sisi, kita diminta bermimpi sejauh mungkin. Di sisi lain, kita dipaksa berhadapan dengan realitas bahwa mimpi sering disalahpahami. Apa yang kita anggap visi, orang lain lihat sebagai omong kosong. Apa yang kita sebut proses, orang lain anggap buang-buang waktu.
Fatamorgana menjadi metafora yang tepat. Banyak orang terjebak mengejar bayangan. Tapi lebih banyak lagi yang takut melangkah karena khawatir apa yang dilihat hanyalah ilusi. Padahal, hidup bukan soal memastikan semuanya nyata sejak awal. Hidup adalah tentang keberanian bergerak meski hasil belum tentu sesuai bayangan.
Yang sering dilupakan, fatamorgana tidak selalu berarti sia-sia. Kadang ia berfungsi sebagai pemicu. Ia memberi arah, meski bukan tujuan akhir. Ia mendorong langkah pertama, meski nanti kita harus berbelok. Dan itu tidak apa-apa.
Masalah muncul ketika kita terlalu sibuk membela visi kita di hadapan mereka yang tidak berkepentingan. Terlalu lelah menjelaskan makna kepada mereka yang hanya ingin komentar. Di titik itu, nasihat paling masuk akal tetap sama: abaikan wes.
Bukan karena kita paling benar, tapi karena waktu dan energi kita terbatas. Lebih baik dipakai untuk melangkah daripada berdebat. Lebih baik dipakai untuk memperbaiki diri daripada memperbaiki persepsi orang lain.
Pada akhirnya, hidup memang tidak selalu bisa dijelaskan. Tidak semua proses perlu diumumkan. Tidak semua tujuan harus dipahami bersama. Ada perjalanan yang memang harus dijalani sendiri, dengan keyakinan yang sunyi.
Pandanglah sejauh mungkin mata memandang. Kalau yang terlihat fatamorgana, tidak apa-apa. Selama kaki tetap melangkah di tanah nyata. Selama hati tetap jujur pada niat awal. Dan selama kita tidak kehilangan keberanian hanya karena suara-suara yang berkata, “Ngomong apa kunuh?”
Karena yang menentukan arah hidup bukan mereka yang berkomentar dari pinggir jalan, tapi mereka yang terus berjalan meski panas menyengat, meski pandangan kabur, meski tujuan belum sepenuhnya jelas.
Jadi, kalau hari ini kamu melangkah dan merasa asing, tetaplah jalan. Kalau ada yang bingung, biarkan. Kalau ada yang meremehkan, abaikan. Kalau ada yang menyemangati, simpan di hati. Dan kalau tidak ada siapa-siapa, cukup katakan pada diri sendiri: lanjutkan.
Eya nengannnn.
