Ads

Ketika NU Menjadi Budaya: Dari Jam’iyah ke Kehidupan Sehari-hari

Ketika NU Menjadi Budaya: Dari Jam’iyah ke Kehidupan Sehari-hari

Oleh: AKang Marta




Salah satu temuan menarik dari berbagai penelitian dan survei sosial beberapa tahun terakhir adalah sebuah fakta yang mungkin terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam maknanya: mayoritas orang Indonesia hari ini adalah mauludan. Mereka merayakan Maulid Nabi, menghadiri tahlilan, ikut selawatan, dan merasa ada yang kurang jika ritus-ritus itu tidak hadir dalam peristiwa penting kehidupan. Menariknya, pada saat yang sama, banyak dari mereka tidak lagi peduli atau bahkan tidak tahu apakah praktik itu “NU” atau bukan.

Di titik inilah kita menyaksikan sebuah transformasi besar: NU tidak lagi sekadar organisasi, melainkan telah menjelma menjadi kebudayaan. Tradisi yang dahulu dilekatkan pada satu kelompok sosial tertentu kini telah menjadi milik bersama. Maulidan, tahlilan, yasinan, selawatan semuanya hidup sebagai kebiasaan kolektif, melampaui batas organisasi, bahkan melampaui kesadaran ideologis.

Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Jika kita menengok ke belakang, hingga masa Orde Baru, tradisi-tradisi keagamaan khas NU masih sulit menembus ruang-ruang kekuasaan. Istana adalah ruang yang terasa jauh, formal, dan kering dari praktik-praktik ritual semacam itu. Namun hari ini, pemandangannya sangat berbeda. Di Istana Negara ada tahlilan, ada selawatan. Pejabat negara yang menggelar hajatan pernikahan anaknya hampir pasti menghadirkan pengajian dan selawat. Bahkan mereka yang tidak mengidentifikasi diri sebagai warga NU merasa ada yang kurang jika acara “mantu” tidak diawali doa bersama ala pesantren.

Di sinilah terlihat bahwa tradisi NU telah menjadi rasa bersama. Ia tidak lagi diperdebatkan sebagai soal benar atau salah, bid’ah atau sunnah, tetapi dirasakan sebagai kebutuhan kultural. Ketika ada keluarga meninggal dunia, misalnya, di kompleks perumahan elite sekalipun Pondok Indah, BSD, atau kawasan urban lainnya orang akan mencari ustaz untuk tahlilan. Mereka mungkin tidak hafal Yasin, tidak fasih doa, tetapi ada kegelisahan batin jika kematian dilewati tanpa tahlil.

Inilah tanda paling nyata bahwa Islam kultural telah mengakar jauh lebih dalam daripada Islam struktural. NU, dalam konteks ini, menang bukan karena kekuatan organisasinya, tetapi karena tradisinya diterima sebagai budaya.

Dari sini, pertanyaan tentang NU menjadi semakin menarik: ketika kita membicarakan NU hari ini, yang sedang kita bicarakan itu NU sebagai jam’iyah atau NU sebagai jama’ah?

Jam’iyah adalah organisasi: PBNU, struktur, kepengurusan, keputusan resmi. Jama’ah adalah umat: masyarakat luas yang hidup dengan tradisi NU, entah mereka punya kartu anggota atau tidak. Dalam banyak kasus, justru jama’ah inilah wajah NU yang paling nyata di ruang sosial.

Pak Mahfud MD melihat NU dari perspektif jama’ah yang dekat dengan jam’iyah seorang warga NU kultural yang memahami dinamika organisasi. Sementara Gus Nadir memiliki posisi unik: secara fisik jauh dari Indonesia, tetapi secara intelektual dan emosional sangat dekat. Dari jarak itulah ia memiliki semacam helicopter view pandangan dari atas untuk membaca NU secara lebih utuh.

Jika kita melihat sejarah, perbedaan pendapat dalam NU bukanlah hal baru. Sejak awal, NU tumbuh dalam dialektika. Kiai Wahab Hasbullah dikenal progresif, dinamis, politis. Kiai Bisri Syansuri dikenal sebagai penjaga gawang fikih. Keduanya sering berbeda pandangan, bahkan berdebat keras. Namun perdebatan itu terjadi dalam satu rumah besar, bahkan dalam ikatan keluarga.

Umat NU tahu betul perbedaan karakter ini. Jika bertanya soal hukum yang ketat, mereka datang ke Kiai Bisri. Jika mencari solusi yang lebih luwes, mereka datang ke Kiai Wahab. Ada kisah klasik tentang seseorang yang bertanya apakah satu keluarga besar yang berjumlah delapan orang bisa patungan satu sapi untuk kurban. Kiai Bisri menjawab tegas: tidak bisa, karena sapi maksimal untuk tujuh orang. Ketika pertanyaan yang sama diajukan ke Kiai Wahab, jawabannya kreatif: tetap satu sapi untuk tujuh orang, yang satu lagi disiapkan kambing kecil sebagai “pijakan” agar bisa ikut naik sapi ke surga. Substansinya sama, cara menyampaikannya berbeda.

Perbedaan seperti ini diterima sebagai rahmat. Ikhtilaf ummati rahmah. Namun tantangan hari ini bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan bagaimana mengelola perbedaan agar rahmat tidak berubah menjadi laknat.

Dulu, perbedaan dalam NU umumnya berakar pada perbedaan fikih dan metodologi keagamaan. Hari ini, perbedaan sering kali bercampur dengan kepentingan politik, kekuasaan, dan ego institusional. Inilah yang membuat konflik terasa lebih keras dan lebih emosional.

Namun sejarah NU memberi pelajaran penting. Konflik besar antara kubu Cipete dan Situbondo pada era 1980-an yang mempertemukan figur-figur kuat seperti Kiai Achmad Siddiq dan Abdurrahman Wahid akhirnya melahirkan Gus Dur sebagai pemimpin NU. Dari konflik itulah lahir transformasi besar NU: kembali ke khittah, pembaruan pemikiran, dan keterbukaan.

Ke depan, banyak yang pesimistis bahwa NU akan kembali memiliki sosok sekelas Gus Dur. Mungkin memang benar. Zaman telah berubah. Karisma personal seperti Gus Dur sulit terulang. Tetapi bukan berarti NU kehilangan harapan. Kepemimpinan kolektif, gagasan-gagasan baru, dan kesadaran bersama bisa menjadi jalan keluar. Yang penting bukan siapa tokohnya, tetapi bagaimana konflik dikelola dan dimaknai.

PBNU berkantor di Jalan Kramat Raya. Pertanyaan reflektif yang sering muncul adalah: apakah PBNU masih “keramat”? Apakah berkahnya masih mengalir? Dalam tradisi NU, berkah bukan konsep abstrak. Ia terasa nyata: pengajian yang ramai, berkat yang dibagikan, silaturahmi yang terjaga. Selama tradisi itu hidup, optimisme masih relevan.

Optimisme itu juga tampak dalam cara NU beradaptasi dengan zaman digital. Di sinilah peran figur-figur seperti Gus Nadir menjadi penting. Di era ketika media sosial dipenuhi oleh celetukan kosong dan sensasi instan, Gus Nadir tampil dengan gaya yang berbeda. Postingan-postingannya ringan, mengikuti bahasa anak muda, tetapi substansinya dalam. Ia tidak sekadar “viral”, tetapi “bermakna”.

Hal yang sama juga tampak pada Pak Mahfud MD. Banyak orang mengatakan, satu utas tweet Mahfud MD setara dengan satu semester kuliah hukum tata negara. Bukan karena bahasanya rumit, tetapi karena ia mampu merangkum kompleksitas menjadi penjelasan yang jernih.

Inilah kunci komunikasi digital hari ini: kedekatan tanpa kehilangan bobot. Gus Nadir, meski tinggal jauh di Australia, terasa dekat dengan anak-anak muda Indonesia. Ia memahami tren, tetapi tidak tenggelam dalam dangkalnya tren. Ia mengikuti arus, tetapi tetap membawa kedalaman ilmu.

Konten semacam ini selalu ditunggu. Netizen tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga makna. Ketika konten disajikan dengan niat berbagi pengetahuan, orang akan merespons dengan diskusi, bukan sekadar komentar kosong. Inilah bentuk dakwah baru: bukan ceramah satu arah, tetapi dialog terbuka di ruang digital.

Dalam dunia yang serba cepat dan gaduh, substansi menjadi pembeda. Gus Nadir dan Mahfud MD menunjukkan bahwa intelektualitas tidak harus kaku, dan religiusitas tidak harus eksklusif. Keduanya bisa hadir dalam bahasa yang akrab, bersahabat, dan relevan.

Pada akhirnya, NU hari ini hidup dalam dua dunia sekaligus: dunia organisasi dan dunia kebudayaan. Jam’iyah boleh bergolak, berdebat, bahkan konflik. Tetapi jama’ah tetap berjalan dengan ritmenya sendiri: tahlilan terus hidup, maulidan terus dirayakan, selawatan terus bergema.

Justru di situlah kekuatan NU. Ia tidak bergantung sepenuhnya pada struktur. Ia hidup di dapur-dapur rumah, di musala kampung, di aula perumahan elite, bahkan di Istana Negara. Ketika sebuah tradisi sudah menjadi budaya, ia tidak mudah hilang oleh pergantian kepemimpinan atau konflik elite.

Tantangan ke depan bukan mempertahankan NU sebagai organisasi semata, tetapi menjaga agar nilai-nilai dasarnya moderasi, kebijaksanaan, dan keberpihakan pada kemanusiaan tetap hidup dalam budaya. Selama NU tetap menjadi ruang di mana perbedaan dikelola dengan adab, bukan amarah, selama itu pula NU akan tetap relevan.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari NU hari ini: ia tidak harus selalu disebut, tidak harus selalu diklaim, tetapi terus dihidupi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel