Ads

Diam yang Berwibawa: Mendengar sebagai Inti Etika Kekuasaan

Diam yang Berwibawa: Mendengar sebagai Inti Etika Kekuasaan



Ada satu pelajaran yang berulang dan terasa kuat dalam narasi ini: mendengar. Bukan mendengar sambil lalu, bukan mendengar untuk segera membalas, melainkan mendengar sebagai sikap batin. Menariknya, kemampuan ini justru tampak pada mereka yang telah berada di puncak ilmu dan kekuasaan: guru besar, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, menteri, sekaligus intelektual publik. Mereka dipersatukan bukan oleh jabatan, melainkan oleh kesediaan untuk menyimak.

Ketika Gus Nadir mengatakan, “sesok tahu-sok tahunya saya, beliau mendengar sambil senyum,” di situ terkandung pengakuan yang jujur sekaligus kritik halus terhadap praktik kekuasaan yang sering kita jumpai. Kekuasaan yang matang tidak alergi terhadap kritik, tidak defensif terhadap perbedaan, dan tidak merasa terancam oleh kebodohan atau ketidaksempurnaan orang lain. Ia justru tenang, karena yakin bahwa wibawa tidak lahir dari memotong pembicaraan, melainkan dari kesanggupan menampungnya.

Inilah etika kekuasaan yang hari ini semakin langka. Di ruang publik kita, terutama di era media sosial, orang berlomba bicara. Timeline dipenuhi pendapat, podcast dipenuhi suara, forum dipenuhi klaim. Semua ingin didengar, tetapi sedikit yang benar-benar mau mendengarkan. Akibatnya, percakapan berubah menjadi kebisingan, dan perbedaan pendapat mudah menjelma permusuhan.

Padahal konstitusi, demokrasi, dan persahabatan intelektual tidak lahir dari teriakan, melainkan dari kesediaan menunda penghakiman. Mendengar memberi waktu bagi akal sehat bekerja dan bagi empati tumbuh. Ia membuka kemungkinan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari diri kita sendiri.

Penting untuk ditegaskan: mendengar bukan berarti setuju. Mendengar juga bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, mendengar adalah bentuk penghormatan paling dasar terhadap martabat manusia. Ia mengakui bahwa setiap orang, secerdas atau sesederhana apa pun, layak diperlakukan sebagai subjek, bukan objek.

Dalam konteks kekuasaan, sikap mendengar menjadi fondasi keadilan. Tanpanya, hukum mudah berubah menjadi alat, dan kebijakan menjelma perintah sepihak. Maka, jika ada satu pelajaran etis yang layak dijaga hari ini, itu adalah keberanian untuk diam sejenak agar kita sungguh-sungguh bisa mendengar.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel