Ads

Amanah yang Terhenti di Pintu Pelantikan

Amanah yang Terhenti di Pintu Pelantikan

Oleh Akang Marta



Suasana duka menyelimuti Desa Sukasari, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Desa yang biasanya hidup oleh denyut aktivitas warganya mendadak senyap, seolah ikut menundukkan kepala. Pada Jumat pagi, 2 Januari 2026, kabar memilukan itu datang tanpa aba-aba: Tarsitem, Kuwu terpilih Desa Sukasari, mengembuskan napas terakhir sebelum sempat menjalani pelantikan resmi. Sebuah kepergian yang terasa begitu dekat, begitu tiba-tiba, dan begitu menyayat.

Almarhumah wafat di usia 46 tahun, usia yang bagi banyak orang masih dianggap sebagai masa produktif untuk mengabdi, berkarya, dan menunaikan harapan. Namun takdir berkata lain. Amanah besar yang telah dipercayakan masyarakat melalui Pemilihan Kuwu (Pilwu) pada 10 Desember 2025 lalu, harus terhenti bahkan sebelum resmi disematkan. Tarsitem pergi, meninggalkan duka yang bukan hanya milik keluarga, tetapi juga milik seluruh warga desa.

Kabar duka tersebut dengan cepat menyebar dari mulut ke mulut, dari satu grup WhatsApp ke grup lainnya, lalu memenuhi lini masa media sosial warga Indramayu. Ungkapan belasungkawa, doa, dan rasa tidak percaya membanjiri ruang digital. Banyak warga yang masih sulit menerima kenyataan bahwa sosok yang beberapa hari lalu masih ditemui dalam senyum kampanye dan silaturahmi, kini telah tiada.

Rumah duka yang berada tepat di depan Balai Desa Sukasari dipenuhi pelayat sejak pagi hari. Warga berdatangan silih berganti, tak hanya dari Sukasari, tetapi juga dari desa-desa sekitar. Ada yang datang dengan mata sembab, ada yang hanya terdiam, dan ada pula yang larut dalam isak tangis. Balai desa yang seharusnya menjadi saksi pelantikan seorang pemimpin baru, justru menjadi latar bisu bagi perpisahan yang tak pernah dibayangkan.

Di tengah suasana penuh haru itu, perwakilan keluarga, Tarjono, menyampaikan permohonan maaf sekaligus ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat. Dengan suara tertahan, ia menyampaikan pesan yang sarat makna dan kerendahan hati.

“Kami dari keluarga memohon apabila almarhumah ada kekhilafan mohon dimaafkan, dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang sudah datang mendoakan almarhumah,” ujarnya.

Kata-kata itu sederhana, tetapi mengandung pesan mendalam tentang keikhlasan, tentang bagaimana sebuah kepergian mengajarkan manusia untuk saling memaafkan dan saling menguatkan. Di saat duka, keluarga tidak menuntut apa-apa selain doa dan maaf, dua hal yang sering kali justru terlupa saat seseorang masih hidup.

Menurut penuturan keluarga, sebelum meninggal dunia kondisi kesehatan Tarsitem sempat menurun. Pada Jumat pagi itu, almarhumah sempat jatuh pingsan. Keluarga pun segera berupaya membawanya ke RSUD Indramayu untuk mendapatkan penanganan medis. Harapan masih ada, meski samar. Namun di tengah perjalanan menuju rumah sakit, takdir lebih dulu menjemput.

“Meninggal dunia sekitar jam setengah sembilan saat dibawa ke RSUD,” kata Tarjono lirih.

Pihak rumah sakit kemudian menyatakan bahwa status almarhumah tercatat sebagai dead on arrival (DOA), atau meninggal dunia saat tiba di fasilitas kesehatan. Hingga kini, penyebab pasti wafatnya Tarsitem belum diketahui secara medis, karena almarhumah meninggal sebelum sempat menjalani pemeriksaan tenaga kesehatan.

Meski demikian, keluarga menilai kepergian Tarsitem sangat mungkin disebabkan oleh kelelahan fisik dan mental setelah melalui rangkaian panjang proses Pemilihan Kuwu. Sejak masa kampanye hingga pasca-kemenangan, aktivitas almarhumah terbilang padat. Silaturahmi dari rumah ke rumah, pertemuan dengan warga, konsolidasi pendukung, hingga berbagai agenda sosial dijalani hampir tanpa jeda.

Tak hanya itu, Tarsitem juga menjalani tradisi adat setempat, yakni mengelilingi batas desa pada tengah malam. Ritual tersebut lazim dilakukan oleh calon kepala desa di wilayah tersebut sebagai simbol kesiapan menjaga dan memimpin wilayah. Sebuah tradisi yang sarat makna, tetapi juga menuntut stamina fisik yang tidak sedikit.

“Itu kan sangat melelahkan sekali, apalagi almarhumah ini perempuan. Hal itu dilakukan almarhumah karena sudah menjadi adat di sini,” ujar Tarjono.

Pernyataan itu seakan membuka ruang refleksi bersama: betapa besar beban yang sering kali dipikul oleh para pemimpin di tingkat akar rumput. Di balik jabatan yang tampak sederhana, tersimpan tanggung jawab moral, sosial, bahkan kultural yang tidak ringan. Tarsitem, sebagai seorang perempuan, telah membuktikan keberanian dan kesiapannya untuk memikul semua itu, meski akhirnya tubuhnya tak mampu lagi bertahan.

Kepergian Tarsitem bukan sekadar peristiwa duka personal, tetapi juga kehilangan kolektif. Banyak warga menaruh harapan besar pada kepemimpinannya. Ia dipandang sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat, memahami persoalan desa, dan membawa semangat perubahan. Kemenangan dalam Pilwu menjadi simbol kepercayaan rakyat, sebuah mandat yang lahir dari proses demokrasi desa.

Namun takdir berkata lain. Amanah itu kini tinggal cerita, niat baik itu kini tinggal kenangan. Desa Sukasari harus kembali belajar menerima kenyataan pahit bahwa tidak semua rencana manusia berjalan sesuai harapan. Ada garis takdir yang tak bisa ditawar, meski niat dan usaha telah maksimal.

Di akhir pernyataannya, Tarjono kembali memohon doa dari seluruh masyarakat agar almarhumah diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Sebuah permohonan yang sederhana, tetapi menjadi penutup yang khidmat dari kisah hidup seorang pemimpin desa yang pergi terlalu cepat.

Kepergian Tarsitem mengajarkan banyak hal: tentang rapuhnya manusia, tentang mahalnya amanah, dan tentang pentingnya menjaga kesehatan di tengah tuntutan sosial yang tinggi. Ia juga menjadi pengingat bahwa jabatan bukanlah segalanya, dan hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua untuk menunaikan rencana-rencana besar.

Kini, Desa Sukasari berduka. Balai desa yang berdiri tepat di depan rumah duka menjadi saksi bisu bahwa sebuah amanah bisa berhenti bahkan sebelum dimulai. Namun doa-doa warga yang mengalir, kenangan tentang niat baik, dan nilai pengabdian yang ditinggalkan almarhumah, akan tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Selamat jalan, Tarsitem. Amanahmu memang belum sempat kau jalankan, tetapi niat baikmu telah tercatat. Semoga Tuhan menempatkanmu di sisi terbaik-Nya, dan semoga Desa Sukasari diberi kekuatan untuk melanjutkan harapan yang sempat kau titipkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel