Jagate Mendung, Aja Klalen Sarapan: Sebuah Potret Pagi dan Status Facebook
Jagate Mendung, Aja Klalen Sarapan: Sebuah Potret Pagi dan Status Facebook
Oleh Akang Marta
Jagate mendung aja klalen sarapan. Kalimat ini terdengar ringan, seperti guyonan warung kopi. Tapi di balik kelucuannya, tersimpan potret kehidupan modern yang semakin sering kita alami. Pagi hari yang seharusnya dimulai dengan kesadaran diri, tubuh, dan rasa syukur, justru sering dibuka dengan satu ritual baru: nengok status Facebook. Dan pagi itu, status Kang Yahya Anshori menjadi pemicunya.
Langit mendung. Udara dingin. Perut belum diisi. Tapi jempol sudah lincah menggulir layar. Sarapan bisa nunggu, tapi update status jangan sampai ketinggalan. Begitulah ironi zaman. Kita hafal algoritma media sosial, tapi lupa jadwal makan sendiri. Kita tahu siapa yang ribut di kolom komentar, tapi tak sadar tubuh kita sendiri sedang protes pelan-pelan.
Status Facebook kini bukan sekadar tulisan. Ia sudah menjadi alarm sosial. Begitu bangun tidur, yang dicek bukan kondisi badan, melainkan kondisi linimasa. Siapa posting apa, siapa nyindir siapa, siapa lagi rame, siapa lagi pamer, siapa lagi sok bijak. Semua dikonsumsi mentah-mentah, bahkan sebelum nasi menyentuh lidah.
Jagate mendung itu sebenarnya isyarat alam. Alam seperti ingin berkata: “Pelan-pelan dulu.” Tapi manusia modern sering tak peka. Mendung justru jadi alasan rebahan sambil main HP lebih lama. Sarapan dilupakan. Pikiran malah dijejali opini orang lain. Padahal pagi adalah waktu paling jujur untuk diri sendiri.
Status Kang Yahya Anshori pagi itu mungkin sederhana. Bisa jadi hanya kalimat pendek, refleksi ringan, atau sindiran halus. Tapi entah kenapa, status seperti itu sering lebih menggugah daripada ceramah panjang. Karena ia hadir di saat kita masih setengah sadar, setengah lapar, dan setengah jujur pada diri sendiri.
Facebook memang unik. Ia mempertemukan orang-orang yang sebenarnya tak sedang ingin bertemu. Di sana, kita bisa tersenyum membaca status orang, lalu tiba-tiba emosi karena komentar yang tak kita kenal. Semua terjadi cepat, spontan, dan sering tanpa filter. Pagi hari yang seharusnya tenang, berubah jadi ramai hanya karena satu unggahan.
Klalen sarapan bukan cuma soal lupa makan. Ia simbol lupa prioritas. Kita lebih cepat memberi “like” daripada memberi perhatian pada tubuh sendiri. Lebih sigap membalas komentar daripada mendengar perut yang keroncongan. Lebih peduli drama linimasa daripada kesehatan.
Ironisnya, banyak status Facebook yang isinya nasihat hidup sehat, tapi dibaca sambil mengabaikan kebutuhan paling dasar: makan. Kita membaca kata-kata bijak tentang keseimbangan hidup, sambil hidup kita sendiri tidak seimbang sejak pagi.
Jagate mendung juga sering bikin hati ikut mendung. Status-status yang dibaca bisa memperparah. Ada yang pamer keberhasilan, ada yang curhat kesusahan, ada yang menyindir dengan bahasa agama, ada yang berteriak soal keadilan. Semua bercampur jadi satu. Dan kita, yang belum sarapan, mencoba mencerna semuanya sekaligus.
Tak heran kalau emosi mudah naik. Perut kosong, pikiran penuh. Kombinasi paling rawan untuk salah paham. Banyak debat di media sosial sebenarnya bukan karena perbedaan prinsip, tapi karena orang-orang sedang lelah, lapar, dan belum berdamai dengan dirinya sendiri.
Status Kang Yahya Anshori mungkin justru hadir sebagai jeda. Sebuah pengingat bahwa hidup tidak harus selalu serius. Bahwa guyonan sederhana bisa lebih menyehatkan daripada ceramah panjang. Bahwa menertawakan diri sendiri kadang lebih bijak daripada menghakimi orang lain.
Di tengah jagat maya yang semakin riuh, status-status semacam itu seperti warung kopi di pagi mendung. Tidak menawarkan solusi besar, tapi memberi ruang untuk berhenti sejenak. Untuk menarik napas. Untuk sadar bahwa kita ini manusia, bukan mesin respon cepat.
Klalen sarapan juga bisa dimaknai sebagai lupa bersyukur. Pagi hari adalah anugerah. Masih bisa bangun, masih bisa melihat mendung, masih bisa membaca status orang lain. Tapi semua itu sering dianggap biasa. Kita baru sadar pentingnya sarapan ketika tubuh mulai lemas. Sama seperti hidup: kita baru sadar pentingnya hal-hal sederhana ketika sudah kehilangan.
Facebook, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sebenarnya hanya alat. Yang menentukan dampaknya adalah cara kita menggunakannya. Kalau setiap pagi kita mulai dengan emosi dari linimasa, jangan heran kalau seharian jadi berat. Tapi kalau kita bisa menertawakan status lucu, mengambil hikmah secukupnya, lalu kembali ke dunia nyata, mungkin hidup jadi lebih ringan.
Jagate mendung seharusnya mengajak kita untuk memperlambat langkah. Menyeduh kopi, menyiapkan sarapan, menikmati pagi. Status Facebook bisa dibaca nanti. Dunia maya tidak akan runtuh kalau kita telat satu jam. Tapi tubuh kita bisa runtuh kalau terus diabaikan.
Fenomena lupa sarapan karena media sosial ini sebenarnya cermin dari gaya hidup yang terlalu reaktif. Kita bereaksi lebih cepat daripada merenung. Lebih cepat menilai daripada memahami. Padahal hidup tidak menuntut kita untuk selalu cepat, tapi untuk tepat.
Status Kang Yahya Anshori mungkin tidak dimaksudkan untuk sedalam ini. Tapi begitulah media sosial bekerja. Satu kalimat sederhana bisa membuka banyak pintu refleksi. Tergantung siapa yang membaca dan dalam kondisi apa ia membaca.
Pagi hari, perut kosong, langit mendung—itu kombinasi yang jujur. Di situ, topeng sosial belum sepenuhnya terpasang. Kita masih menjadi diri sendiri, sebelum hari memaksa kita berperan. Mungkin justru di momen itulah kita perlu lebih sadar: jangan biarkan linimasa mengatur suasana hati sejak awal hari.
Sarapan bukan hanya soal makan, tapi soal memberi hak pada diri sendiri. Hak untuk dirawat. Hak untuk dihargai. Hak untuk tidak selalu tersedia bagi dunia maya. Jika hal sesederhana itu saja sering kita lupakan, pantas saja hidup terasa berat.
Maka lain kali, kalau jagate mendung dan jempol sudah gatal ingin buka Facebook, coba berhenti sebentar. Siapkan sarapan. Minum air. Duduk tenang. Setelah itu, baru buka status orang lain. Siapa tahu, kita bisa membaca dengan lebih bijak, lebih santai, dan lebih manusiawi.
Karena pada akhirnya, status Facebook hanyalah cerita orang. Tapi tubuh dan hidup kita adalah cerita yang harus kita jalani sendiri. Jangan sampai sibuk membaca status Kang Yahya Anshori, tapi lupa menulis kebaikan untuk diri sendiri sejak pagi.
