Ads

Menjaga Akar, Menyapa Dunia: Kejujuran Intelektual Seorang Santri Global

Menjaga Akar, Menyapa Dunia: Kejujuran Intelektual Seorang Santri Global



Dalam imajinasi banyak orang, jalan hidup santri digambarkan lurus dan nyaris baku: dari pesantren menuju Timur Tengah, dari kitab kuning ke mimbar dakwah. Pola ini seolah menjadi pakem yang tak boleh dilanggar. Namun perjalanan intelektual Gus Nadir justru menantang bayangan itu. Ia memilih arah yang berbeda bergerak ke Barat, ke Australia, masuk ke ruang-ruang akademik modern yang kerap dicurigai sebagai “sekuler”, “liberal”, bahkan dianggap berbahaya bagi iman dan tradisi.

Akan tetapi, justru di sanalah kejujuran seorang pencari ilmu diuji dan ditemukan. Gus Nadir tidak meninggalkan Islam ketika mempelajari hukum konstitusi Australia. Ia tidak menanggalkan identitas santri ketika mengajar dan berdiskusi di universitas ternama. Ia juga tidak tercerabut dari akar pesantren meski berpindah benua dan berhadapan dengan tradisi keilmuan yang berbeda. Sebaliknya, ia membawa nilai-nilai pesantren ketekunan, adab dalam berpikir, kehati-hatian dalam menyimpulkan, serta keberanian intelektual ke pusat dunia akademik Barat.

https://youtube.com/shorts/ysWhwTenJs0?si=bdIFf5Cg6932ptOD

Di titik inilah muncul pertanyaan klasik dari sebagian kalangan Barat: apakah kehadiran santri atau figur dengan latar belakang keislaman yang kuat di jantung penjagaan konstitusi akan mengubah konstitusi menjadi negara agama? Pertanyaan ini sejatinya memuat dua lapis problem: ketidaktahuan terhadap tradisi Islam Indonesia dan ketakutan berlebihan terhadap simbol-simbol keagamaan.

Jawaban santri tidak lahir dalam bentuk kemarahan atau sikap defensif. Ia hadir melalui karya ilmiah yang jernih, integritas akademik yang konsisten, dan keteladanan personal yang tenang. Dengan cara itu, santri menunjukkan bahwa iman yang matang tidak mengancam konstitusi, justru memperkuatnya. Kehadiran santri di Mahkamah Konstitusi, di ruang akademik hukum internasional, dan di forum global bukanlah ancaman bagi demokrasi, melainkan penegasan bahwa nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan etika bisa berjalan seiring dengan konstitusi modern.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

https://youtube.com/shorts/ysWhwTenJs0?si=bdIFf5Cg6932ptOD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel