Ribut Pemimpin, Lupa Penyakit Kampung
Ribut Pemimpin, Lupa Penyakit Kampung
Oleh: Akang Marta
Aja pada ribut pemimpin bae. Kalimat sederhana ini terdengar sepele, tapi sesungguhnya mengandung teguran yang dalam. Setiap periode ganti pemimpin, yang ribut selalu sama. Grup WhatsApp panas, kolom komentar Facebook penuh debat, status demi status saling sindir. Padahal, di luar layar ponsel itu, penyakit wong kampung masih saja sama: iri, dengki, gibah, lan seneng nyalahke wong liya.
Lucunya, yang paling kenceng ngomong soal kepemimpinan sering kali lupa memimpin dirinya sendiri. Mudah menunjuk salah orang lain, tapi berat sekali mengakui kekurangan pribadi. Padahal pemimpin sejati itu dimulai dari rumah sendiri, dari keluarga dewek, dari cara mengendalikan lisan, pikiran, dan sikap.
Mumpung bae keluarga dewek. Artinya, sebelum sibuk mengurusi siapa lurah, siapa kuwu, siapa pejabat, coba tengok dulu: apakah rumah kita sudah rukun? Apakah anak-anak kita sudah diberi contoh yang baik? Apakah kita sudah bisa adil di lingkup paling kecil, yaitu keluarga?
Banyak orang bermimpi punya pemimpin hebat. Tapi lupa bahwa pemimpin hebat lahir dari masyarakat yang mau berbenah. Tidak mungkin berharap keadilan dari atas kalau di bawah masih gemar cang-cing-cung, saling sikut, dan merasa paling benar.
Lan bisa bli mengendalikan penyakit e wong kampung ayo. Penyakit kampung bukan soal miskin atau tidak sekolah. Penyakit kampung itu soal mental: suka iri melihat tetangga maju, panas ketika orang lain dipuji, dan ringan sekali lidahnya menggunjing. Sedikit-sedikit gibah, sedikit-sedikit fitnah. Kalau dibiarkan, penyakit ini menular lebih cepat daripada flu.
Baka bisa kaya segara sejen hebat bli duwe sifat iri dengki. Ibarat laut, segara itu luas. Ia menerima semua aliran sungai, baik yang jernih maupun keruh, tanpa meluap karena iri. Orang yang hatinya luas tidak sibuk membandingkan nasib. Dia fokus mengolah dirinya, bukan mengurusi piring orang lain.
Sayangnya, di kampung-kampung, iri dengki sering dibungkus dengan dalih kepedulian. Katanya demi kebenaran, padahal sebenarnya demi kepuasan batin. Katanya demi keadilan, padahal hanya ingin menjatuhkan. Tukang gibah selalu merasa dirinya paling bersih, padahal justru dia yang paling kotor lisannya.
Sekiyen wis karuan ganti tiap periode. Ya wis. Pemimpin memang berganti. Itu sunatullah demokrasi. Tidak ada yang abadi. Hari ini A, besok B. Yang jadi masalah bukan pergantiannya, tapi reaksi kita setiap kali terjadi pergantian. Kenapa selalu ribut? Kenapa selalu merasa paling benar?
Bli usah akeh cang cing cunge. Terlalu banyak omongan tanpa aksi hanya bikin lelah. Debat tanpa solusi hanya memperpanjang masalah. Kadang diam dan bekerja jauh lebih bermakna daripada teriak-teriak tapi tidak berbuat apa-apa.
Durung tentu sampeyan sampeyan kabeh bisa adil lan bijak. Ini tamparan halus. Kita sering menuntut pemimpin adil dan bijak, tapi lupa bertanya: apakah kita sendiri sudah adil? Sudah bijak? Atau jangan-jangan kita hanya adil pada diri sendiri dan keras pada orang lain?
Adil itu berat. Bijak itu mahal. Tidak semua orang mampu, termasuk kita. Maka alih-alih sibuk menghakimi, lebih baik belajar memperbaiki diri. Sana koreksi diri dewek dipit lur pada. Mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dari kebiasaan sehari-hari.
Koreksi diri itu tidak viral. Tidak dapat like. Tidak dapat tepuk tangan. Tapi dampaknya nyata. Orang yang mau mengoreksi diri akan lebih tenang, tidak mudah tersulut emosi, dan tidak haus pengakuan. Dia tidak sibuk membuktikan apa-apa, karena tahu siapa dirinya.
Bayangkan jika setiap orang di kampung ini mau sedikit saja menahan iri, mengurangi gibah, dan belajar jujur pada diri sendiri. Tidak perlu menunggu pemimpin ideal. Kampung itu sendiri sudah jadi tempat yang layak dihuni.
Masalahnya, kita sering terbalik. Sibuk mengoreksi pemimpin, tapi alergi dikoreksi. Padahal perubahan tidak pernah datang dari atas saja. Ia tumbuh dari bawah, dari kesadaran kolektif.
Pemimpin yang baik lahir dari rakyat yang dewasa. Rakyat yang dewasa tidak gampang diadu domba. Tidak mudah terpancing isu. Tidak senang menyebar kabar yang belum tentu benar. Mereka kritis, tapi santun. Tegas, tapi beretika.
Kalau setiap periode hanya diisi ribut, maka yang capek bukan cuma pemimpin, tapi masyarakat sendiri. Energi habis untuk konflik, bukan untuk membangun. Padahal hidup ini sudah cukup berat tanpa harus ditambah drama yang tidak perlu.
Aja pada ribut pemimpin bae. Kalimat ini bukan ajakan apatis. Bukan berarti diam terhadap ketidakadilan. Tapi ajakan untuk menempatkan energi pada hal yang lebih substansial: membangun diri, keluarga, dan lingkungan.
Mengkritik boleh, tapi jangan lupa bercermin. Menuntut perubahan boleh, tapi pastikan kita juga siap berubah. Kalau tidak, kita hanya mengganti aktor, tapi panggungnya tetap sama.
Akhirnya, setiap orang adalah pemimpin. Minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Kalau diri sendiri saja belum bisa dikendalikan, bagaimana mau mengendalikan arah kampung, desa, atau bangsa?
Maka lur, pada-pada wae. Kurangi ribut, perbanyak manfaat. Kurangi gibah, tambah karya. Kurangi iri, perbanyak syukur. Dari situ, keadilan dan kebijaksanaan pelan-pelan akan menemukan jalannya sendiri.
Karena perubahan sejati tidak lahir dari teriakan, tapi dari kesadaran. Dan kesadaran selalu dimulai dari diri sendiri.
