Ads

Santri, Konstitusi, dan Jalan Sunyi Ilmu Pengetahuan

Santri, Konstitusi, dan Jalan Sunyi Ilmu Pengetahuan



Ada kalimat yang terdengar sederhana, bahkan nyaris bercanda, tetapi sesungguhnya menyimpan kedalaman etika intelektual yang semakin langka di ruang kekuasaan: “Setolol apa pun yang saya omongkan, beliau mendengar menyimak dulu.” Kalimat ini bukan sekadar ekspresi rendah hati, melainkan potret karakter kepemimpinan dan persahabatan intelektual yang matang. Ia menegaskan bahwa inti dari ilmu pengetahuan, konstitusi, dan kekuasaan bukanlah kemampuan berbicara paling keras, melainkan kesediaan untuk mendengar dengan sungguh-sungguh.

Dalam dunia yang dipenuhi oleh debat kusir, interupsi tanpa jeda, dan klaim kebenaran sepihak, sikap mendengar menjadi tindakan radikal. Mendengar berarti mengakui bahwa diri kita tidak selalu paling benar. Mendengar berarti memberi ruang bagi gagasan untuk tumbuh, diuji, bahkan disangkal, tanpa harus langsung dimatikan oleh ego atau jabatan. Di titik ini, etika intelektual bertemu dengan etika kekuasaan.

https://youtube.com/shorts/S0MKJheRQok?si=-CF9lKe4yLirthkq

Narasi perjumpaan antara seorang santri global seperti Gus Nadir dan seorang negarawan yang telah menapaki tiga cabang kekuasaan negara eksekutif, legislatif, dan yudikatif bukanlah kisah tentang siapa yang lebih tinggi ilmunya atau lebih panjang daftar jabatannya. Ini adalah cerita tentang dialog lintas dunia: dari pesantren ke Mahkamah Konstitusi, dari Ciputat ke Melbourne Law School, dari khazanah fikih klasik ke hukum konstitusi modern. Ilmu bergerak, tidak membeku dalam satu ruang atau identitas.

Pada titik ini, yang dipertemukan bukan sekadar dua individu, melainkan dua tradisi besar: tradisi keilmuan Islam pesantren dan tradisi hukum konstitusional negara modern. Keduanya sering dianggap bertentangan, padahal justru saling melengkapi. Pesantren mengajarkan kerendahan hati intelektual, sementara konstitusi menuntut rasionalitas dan keadilan prosedural.

Karena itu, kisah ini sejatinya berbicara tentang wajah Islam Indonesia yang ramah, reflektif, dan dialogis. Wajah santri yang tidak inferior di hadapan dunia global. Dan wajah konstitusi yang hidup, karena dijaga oleh manusia-manusia yang mau mendengar sebelum berbicara, dan memahami sebelum menghakimi.

Penulis: Akang Marta

Indramayu Tradisi

https://youtube.com/shorts/S0MKJheRQok?si=-CF9lKe4yLirthkq

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel