Ads

Terima Kasih Pak Anang: Ilmu, Ketulusan, dan Harapan untuk Pengembangan Peternakan di Bumi Segandum

Terima Kasih Pak Anang: Ilmu, Ketulusan, dan Harapan untuk Pengembangan Peternakan di Bumi Segandum

Oleh: Akang Marta



Terima kasih, Pak Anang. Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tapi di baliknya tersimpan rasa hormat, syukur, dan penghargaan yang tidak kecil. Terima kasih atas ilmu yang telah ditransferkan kepada kami, bukan hanya sebagai pengetahuan teknis, tetapi sebagai bekal berpikir, bersikap, dan melangkah ke depan. Ilmu yang tidak berhenti di ruang belajar, melainkan hidup dan tumbuh di lapangan, di kandang-kandang ternak, dan di tangan para peternak yang ingin maju.

Dalam dunia peternakan, ilmu bukan sekadar teori. Ia adalah pengalaman yang diuji oleh waktu, cuaca, kondisi alam, dan karakter masyarakat. Apa yang Pak Anang bagikan kepada kami terasa nyata karena lahir dari proses panjang, dari jatuh bangun, dari keberanian mencoba, dan dari kesabaran menghadapi kegagalan. Ilmu semacam ini tidak selalu tertulis rapi di buku, tapi melekat kuat di ingatan mereka yang belajar dengan sungguh-sungguh.

Bumi Segandum Indramayu adalah tanah yang kaya. Kaya sejarah, kaya budaya, dan kaya potensi alam. Selama ini Indramayu lebih dikenal sebagai lumbung padi, wilayah agraris yang menopang kebutuhan pangan nasional. Namun di balik hamparan sawah itu, tersimpan potensi besar lain yang tidak kalah penting: pengembangan peternakan. Dan di sinilah ilmu yang ditransferkan Pak Anang menemukan relevansinya.

Belajar tentang pengembangan peternakan bukan hanya belajar memelihara hewan. Ia adalah proses memahami ekosistem: hubungan antara pakan, lingkungan, kesehatan ternak, manajemen kandang, hingga pemasaran hasil. Semua itu saling terkait. Kesalahan kecil di satu aspek bisa berdampak besar pada hasil akhir. Karena itu, pendekatan yang Pak Anang ajarkan—yang menyeluruh dan realistis—menjadi sangat berharga.

Yang kami rasakan, Pak Anang tidak hanya mengajar, tetapi membimbing. Tidak hanya memberi jawaban, tetapi mengajak berpikir. Tidak hanya menunjukkan cara, tetapi juga alasan di balik setiap langkah. Pendekatan ini membuat ilmu lebih mudah dipahami dan lebih siap diterapkan. Kami tidak hanya tahu “apa yang harus dilakukan”, tetapi juga “mengapa harus demikian”.

Dalam konteks Indramayu, pengembangan peternakan memiliki tantangan tersendiri. Iklim pesisir, ketersediaan pakan, pola pikir masyarakat, hingga fluktuasi harga pasar adalah faktor-faktor nyata yang harus dihadapi. Ilmu yang ideal tapi tidak membumi sering kali gagal diterapkan. Namun apa yang disampaikan Pak Anang justru sebaliknya: sederhana, aplikatif, dan sesuai dengan kondisi lokal.

Hal lain yang patut diapresiasi adalah semangat berbagi. Di zaman ketika ilmu sering diperlakukan sebagai komoditas mahal, sikap untuk berbagi dengan tulus adalah sesuatu yang langka. Ilmu yang ditransferkan Pak Anang tidak disampaikan dengan kesan menggurui, tetapi dengan kerendahan hati. Seolah ingin mengatakan bahwa kemajuan peternakan bukan kerja satu orang, melainkan hasil kolaborasi dan kebersamaan.

Kami belajar bahwa peternakan bukan sekadar soal hasil, tapi juga soal proses. Ada etika dalam memperlakukan ternak, ada tanggung jawab terhadap lingkungan, dan ada kejujuran dalam usaha. Nilai-nilai ini mungkin tidak selalu terlihat dalam hitungan angka, tetapi sangat menentukan keberlanjutan. Dan nilai-nilai inilah yang terasa kuat dalam setiap penjelasan dan contoh yang diberikan.

Harapan kami sederhana, tapi tulus: semoga Pak Anang selalu sehat. Karena kesehatan adalah kunci agar ilmu terus mengalir, pengalaman terus dibagikan, dan generasi baru peternak terus tumbuh. Ilmu yang sudah ditransferkan tentu tidak akan berhenti di kami. Ia akan kami teruskan, kami praktikkan, dan kami bagikan kembali sesuai kemampuan masing-masing.

Di Indramayu, pengembangan peternakan bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga jalan menuju kemandirian. Ketika peternak lokal mampu mengelola usahanya dengan baik, ketergantungan pada pihak luar berkurang. Ketika produksi meningkat dan kualitas terjaga, kesejahteraan masyarakat pun ikut terangkat. Semua itu berawal dari pengetahuan yang benar dan kemauan untuk belajar.

Kami menyadari bahwa belajar adalah proses panjang. Tidak semua langsung berhasil. Akan ada kegagalan, kerugian, dan kekecewaan. Tapi dengan bekal ilmu yang tepat, kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari pembelajaran. Dan itulah yang kami rasakan setelah belajar dari Pak Anang: keberanian untuk mencoba dengan perhitungan yang lebih matang.

Terima kasih juga karena telah menanamkan optimisme. Bahwa peternakan di Bumi Segandum Indramayu punya masa depan. Bahwa dengan manajemen yang baik, teknologi yang sesuai, dan kerja sama yang kuat, sektor ini bisa menjadi penopang ekonomi daerah. Optimisme semacam ini penting, terutama bagi generasi muda yang sering ragu untuk terjun ke dunia peternakan.

Kami berharap, apa yang telah diajarkan tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan individu, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama. Kelompok-kelompok peternak yang saling berbagi, saling menguatkan, dan saling belajar. Karena kemajuan yang sejati adalah kemajuan yang dirasakan bersama, bukan hanya oleh segelintir orang.

Sekali lagi, terima kasih Pak Anang atas ilmunya, waktunya, dan ketulusannya. Semoga setiap ilmu yang telah ditransferkan menjadi amal jariyah, mengalir manfaatnya, dan kembali sebagai kebaikan. Semoga Indramayu, Bumi Segandum yang kita cintai, terus tumbuh sebagai daerah yang tidak hanya subur tanahnya, tetapi juga subur pengetahuannya.

Dan semoga kami, sebagai para pembelajar, mampu menjaga amanah ilmu itu dengan praktik yang bertanggung jawab, kerja yang jujur, dan semangat untuk terus berkembang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel