Ads

Dialog yang Setara: Persahabatan sebagai Etika Intelektual

Dialog yang Setara: Persahabatan sebagai Etika Intelektual



Program Ruang Sahabat bukan sekadar sebuah format podcast yang mengikuti tren zaman. Ia menjelma menjadi simbol ruang intelektual yang semakin langka hari ini: ruang perjumpaan yang setara, di mana perbedaan usia, jabatan, pengalaman, dan latar belakang tidak berubah menjadi tembok hierarkis. Di ruang ini, gagasan tidak diukur dari siapa yang mengucapkannya, melainkan dari kejernihan dan kejujurannya.

Persahabatan antara Gus Nadir dan Pak Mahfud memberi pelajaran penting tentang bagaimana intelektualitas sejati dibentuk. Ia tidak lahir dari debat kusir yang hiruk-pikuk, apalagi dari adu suara di media sosial. Ia tumbuh dari dialog panjang yang sabar dan jujur. Dari secangkir kopi di pinggir sungai, dari obrolan santai di hotel Melbourne, dari pertemuan sederhana di pesantren, hingga diskusi serius tentang konstitusi dan politik nasional. Semua itu berlangsung tanpa kebutuhan untuk saling mengalahkan.

Dalam persahabatan semacam ini, perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sumber pengayaan. Ketika satu pihak berbicara dari sudut pandang santri dan tradisi keilmuan Islam, pihak lain menanggapi dari pengalaman panjang mengelola negara dan hukum. Keduanya bertemu di satu titik: keinginan untuk memahami, bukan untuk menguasai. Inilah etika intelektual yang jarang kita temui di ruang publik hari ini.

Lebih dari sekadar percakapan, Ruang Sahabat memperlihatkan bagaimana nilai-nilai perjuangan diturunkan secara halus. Tidak ada ceramah yang menggurui, tidak ada slogan yang dipaksakan. Yang ada adalah keteladanan: cara mendengar dengan hormat, cara berbeda tanpa bermusuhan, dan cara berpikir kritis tanpa kehilangan adab.

Di tengah budaya publik yang kerap bising dan reaktif, persahabatan semacam ini adalah pengingat bahwa ilmu pengetahuan membutuhkan ruang aman untuk bertumbuh. Ruang di mana manusia diperlakukan setara, dan gagasan diuji dengan akal sehat serta hati yang jernih.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel