Ads

Buku Tersingkir? Sekarang yang Penting Status Medsos!

Buku Tersingkir? Sekarang yang Penting Status Medsos!

Oleh Akang Marta



Enak, gha maca buku tebal, tah. Sekarang ini jaman android, gaes. Lupa dulu buku-buku tebel dengan sampul keras, aroma kertas, dan kata-kata yang bisa bikin mata ngantuk. Sekarang yang dibaca adalah SET TA TUS. Status di media sosial. Ya, status teman, status seleb, status orang nggak dikenal yang tiba-tiba muncul di feed. Enak, soale ana gambaré, warna-warni, bagus-bagus pisan. Kadang pengen tak tulis bagus bahenol, mlesnong, putih bersih, bokat disewoti—tapi mending cuman like lan comment, soale mles gawe nulis panjang-panjang.

Beneran, zaman sekarang itu lucu. Buku? Lupa dulu. Anak muda lebih tertarik scroll feed, lihat meme, baca status yang singkat tapi kena banget di hati. Ada yang bikin ngakak, ada yang bikin galau, ada yang bikin mikir “kok iso ya gini?”. Dan kadang, cuma satu kalimat status bisa bikin kita mikir panjang, padahal cuma 140 karakter doang.

Dulu buku itu jendela dunia. Sekarang layar ponsel adalah jendela yang sama, tapi lebih hidup. Bisa klik like, bisa comment, bisa share. Buku diem aja, nggak bisa interaktif. Status bisa bikin kamu ketawa, sedih, atau kesel dalam hitungan detik. Anak muda sekarang pinter banget membaca status, ngerti makna di balik emoji, ngerti sindiran halus, ngerti trending topic. Literasi digital mereka tajam.

Tapi jangan salah paham. Status nggak cuma hiburan. Status bisa jadi mini-buku. Bisa cerita tentang kehidupan orang dalam satu kalimat. Ada yang galau, ada yang bahagia, ada yang nyindir orang lain tapi lucu banget. Dalam satu scroll, kita bisa ikut perjalanan emosi orang lain tanpa harus membaca halaman demi halaman. Cepet, instan, tapi kena.

Buku memang berbeda. Buku ngajarin kesabaran, konsentrasi, refleksi. Buku bikin kita mikir panjang. Bacaan satu halaman aja kadang perlu waktu lama buat paham maksudnya. Status? Cukup satu scroll, satu emoji, dan kita ngerti maksudnya. Dunia berubah, literasi pun berubah. Anak muda zaman sekarang lebih cepat ngerti tren daripada paham buku sejarah.

Eh tapi lucu juga, ya. Kalau ada orang tua bilang, “Emang masih jaman buku, tah?” jawabannya sederhana: “Iya, tapi sekarang kita update status dulu, biar dunia tahu kita masih hidup dan pinter juga!” Status itu bukti eksistensi digital. Kita ada, kita galau, kita bahagia, kita lucu, semua bisa terlihat di feed. Buku nggak bisa gitu, buku diem aja.

Fenomena ini bikin generasi sekarang punya skill unik: literasi visual, literasi sosial, literasi cepat. Bisa baca meme, paham caption, ngerti joke sarkasme, ngerti trending hashtag. Kadang kita lebih paham dunia digital daripada dunia nyata, soale kita tiap hari scroll feed, liat gambar, video, GIF, meme. Semua informasi dikemas pendek tapi jelas, gampang dimengerti.

Di sisi lain, ini juga bikin orang malas baca buku. Buku tebal, ribet, lama, kadang bikin mata pedih. Status, sekali lihat, langsung paham. Anak muda lebih seneng belajar skill baru di YouTube daripada baca buku manual. Mahasiswa lebih seneng diskusi di grup WhatsApp daripada kuliah buku teks. Dunia kerja juga sama: laporan disingkat, presentasi pake slide deck warna-warni, proposal cukup satu PDF singkat. Buku akademik tetap ada, tapi posisinya kayak dinosaurus: keren tapi jarang disentuh.

Tapi jangan salah, buku tetap hidup. Ada kenikmatan tersendiri waktu buka buku, pegang halaman, bau kertas, ngerasain cerita berjalan perlahan. Buku ngajarin kita kesabaran dan ketekunan. Status ngajarin kita cepat tanggap dan peka sama trend. Dua-duanya penting, cuma cara bacanya beda.

Yang lucu, kadang anak muda mikir kreatif buat nulis komentar atau caption. Liat gambar teman, eh pengen nulis: “Bagus bahenol, mlesnong, putih bersih, bokat disewoti.” Tapi sering cuma like, biar nggak ribet. Meme, GIF, dan gambar itu bikin kita cepat tangkap maksud, lebih dari sekadar kata-kata. Visual itu penting banget di dunia digital.

Idealnya, kombinasi buku dan status digital itu paling jos. Buku bikin kita mikir panjang, status bikin kita cepat tanggap. Anak muda yang bisa gabungin keduanya? Wah, pinter banget. Bisa kritis tapi tetap update. Pendidikan modern juga harus adaptif: ajarin siswa baca buku, tapi juga ngerti dunia digital.

Akhirnya, pertanyaan “Emang masih jaman buku, tah?” bukan cuma tentang buku. Ini sindiran halus soal perubahan budaya baca, tantangan literasi, dan pergeseran cara manusia memahami dunia. Literasi sekarang bukan cuma soal baca buku, tapi juga baca zaman, baca teknologi, dan baca perilaku manusia.

Jadi, memang bener zaman sekarang baca status doang juga jaman. Yang penting jangan cuma scroll tanpa mikir, tapi juga jangan cuma baca buku tanpa ngerti dunia. Buku dan status bisa jadi teman belajar yang saling melengkapi. Tinggal gimana kita menyeimbangkan keduanya.

Kalau ada yang nanya lagi: “Emang masih jaman buku, tah?” jawaban gampang: “Iya, buku tetap jaman. Tapi jangan lupa update status dulu, biar dunia tahu kita hidup dan pinter juga!” Status bikin kita selalu connect sama dunia, buku bikin kita ngerti dunia lebih dalam. Dua-duanya penting. Tinggal gimana kita nikmatin.

Dan itulah dunia literasi modern: cepat, lucu, penuh gambar, penuh emoji, penuh notifikasi, tapi tetap ada ruang buat buku. Kadang kita scrolling sambil ketawa, kadang buka buku sambil nyeruput kopi. Semua punya tempatnya masing-masing. Yang penting tetap baca, tetap mikir, tetap ngerti dunia—baik melalui status maupun buku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel