Mandat Sunyi Menjadi Pelayan Ilmu
Mandat Sunyi Menjadi Pelayan Ilmu
Ada satu momen kunci dalam perjalanan intelektual seorang santri yang tidak selalu hadir dalam bentuk keberangkatan ke luar negeri, gelar akademik, atau posisi bergengsi. Momen itu justru lahir dari dialog sunyi, intim, dan menentukan: percakapan antara anak dan ayah, antara murid dan guru. Di sanalah prinsip dasar keilmuan diletakkan dengan jernih. “Kalau kamu, justru harus ke Barat,” kata Abah. Bukan karena Barat lebih unggul, melainkan karena fondasi keislaman sudah cukup kuat untuk tidak mudah tergoyahkan. Dari kalimat itulah gagasan besar itu tumbuh: menaklukkan Barat bukan dengan emosi, melainkan dengan ilmu.
Ucapan Abah terdengar sederhana, tetapi bobotnya berat. Ia bukan sekadar izin untuk pergi, melainkan mandat intelektual yang mengandung tanggung jawab moral. Bukan pula dorongan untuk membuktikan kehebatan diri, melainkan panggilan untuk mengabdi pada ilmu. Abah menegaskan posisinya dengan rendah hati, “Abah ini khadimul fikih, pelayan fikih.” Lalu pesan itu diarahkan lebih jauh, “Kamu harus jadi khadimul ilm, pelayan ilmu.” Di titik inilah arah hidup bergeser secara mendasar.
Ilmu tidak lagi dipahami sebagai alat kebanggaan, simbol status, atau sarana menegaskan superioritas identitas. Ilmu menjadi amanah. Ia harus dirawat, diperdalam, diuji, dan dibagikan dengan adab. Menjadi pelayan ilmu berarti siap bekerja keras tanpa tepuk tangan, siap dikritik tanpa defensif, dan siap belajar ulang meski telah merasa tahu. Dalam logika ini, Barat bukan musuh yang harus ditundukkan, melainkan ruang belajar yang menantang dan jujur.
Dengan fondasi pesantren yang kokoh, perjumpaan dengan Barat berubah makna. Ia tidak lagi dibaca sebagai ancaman iman, tetapi sebagai arena pengabdian intelektual. Arena untuk menunjukkan bahwa tradisi Islam mampu berdialog setara, bukan dengan teriakan ideologis, melainkan dengan ketekunan metodologis. Menjadi khadimul ilm berarti menempatkan diri sebagai jembatan, bukan benteng.
Pada akhirnya, menaklukkan Barat tidak berarti mengalahkan siapa pun. Ia berarti menaklukkan ego, rasa minder, dan kemalasan berpikir. Dalam pelayanan sunyi itulah, ilmu menemukan martabatnya, dan santri menemukan jalan hidupnya yang paling jujur.
Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi