Ads

Keyakinan yang Menjadi Jangkar

Keyakinan yang Menjadi Jangkar



Keputusan untuk melangkah ke Barat tidak pernah bebas dari kecemasan. Dalam imajinasi banyak santri, Barat sering digambarkan sebagai ruang penuh orientalisme, skeptisisme, dan godaan intelektual yang dikhawatirkan dapat mengikis iman. Kekhawatiran itu manusiawi. Namun di tengah keraguan tersebut, satu hal menjadi penopang utama: kepercayaan Abah bahwa fondasi keislaman telah tertanam kuat. Hafalan dasar, tradisi keilmuan, adab, dan disiplin pesantren bukan sekadar bekal awal, melainkan jangkar yang menjaga arah.

Dengan fondasi itu, Barat perlahan tidak lagi tampak sebagai ancaman. Ia berubah menjadi arena. Arena untuk bertarung secara ilmiah, bukan ideologis. Arena untuk menguji daya tahan metode berpikir pesantren di hadapan epistemologi modern. Arena untuk membuktikan bahwa Islam tidak anti-kritik, dan santri tidak alergi pada pertanyaan. Justru pertanyaanlah yang menghidupkan tradisi ilmu, selama dihadapi dengan adab dan kejujuran metodologis.

Pilihan jalan pun tidak mengikuti arus besar. Bukan McGill, bukan Leiden, bukan jalur mainstream yang telah dilalui banyak dosen IAIN dan akademisi Muslim Indonesia. Australia dipilih sebagai jalur sunyi: minoritas, sepi rujukan, dan penuh risiko. Tidak ada peta yang jelas, tidak ada komunitas besar sebagai penyangga psikologis. Beasiswa tidak datang dari program prestisius yang mapan, melainkan hasil dari perjuangan personal yang panjang.

Prosesnya pun jauh dari mulus. Bertarung, kalah-menang, jatuh-bangun, dan berkali-kali ditolak menjadi bagian dari perjalanan. Ada fase ragu, ada fase lelah, ada fase ingin kembali. Namun fondasi yang telah ditanam sejak pesantren bekerja diam-diam. Ia menahan agar tidak goyah, mengingatkan tujuan ketika semangat menurun, dan menjaga agar ambisi tidak berubah menjadi kesombongan.

Pada akhirnya, diterima bukan sekadar soal lolos seleksi. Ia adalah konfirmasi bahwa fondasi yang kokoh memungkinkan santri berdiri tegak di medan mana pun. Barat tidak menumbangkan iman, justru mengujinya. Dan dari ujian itu, keyakinan tidak runtuh, melainkan matang.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel