Ads

Emang Masih Jaman Buku? Zaman Sekarang Baca Status Doang!

 Emang Masih Jaman Buku? Zaman Sekarang Baca Status Doang!

Oleh Akang Marta



Emang masih jaman buku, tah? Pertanyaan ini bisa bikin kepala orang tua atau guru seni bahasa mendidih, tapi buat anak muda zaman sekarang, ini cuma bikin ngakak. Soalnya, jaman sekarang siapa sih yang mau ribet buka buku tebal, baca kata demi kata, habis itu ngerjain resume yang panjangnya kayak skripsi orang lain? Enggak, bro. Sekarang itu zamannya android, zamannya layar kecil yang penuh notifikasi, swipe sana-swipe sini, dan yang dibaca… tunggu dulu… “SET TA TUS.” Yup, status di media sosial.

Beneran, bro, ini kenyataan pahit tapi lucu. Orang lebih cepat baca status teman ketimbang buku klasik Shakespeare atau novel sejarah yang tebelnya bisa bikin tangan keram. Dan jangan salah, status itu nggak asal baca. Ada strategi, ada ilmu, ada seni. Kalau kamu scroll feed Instagram atau timeline Twitter, kamu nggak cuma liat caption, tapi membaca dunia. Ada yang galau, ada yang bahagia, ada yang nyindir halus semuanya dikemas dalam satu kalimat atau meme yang bikin ngakak.

Dulu, buku adalah jendela dunia. Sekarang? Layar ponsel itu jendelanya. Bedanya, layar ponsel bisa ngomong balik. Bisa ada like, komentar, share. Buku diam, cuma ada kata-kata kaku di halaman yang ngga bisa nyapa kamu, sedangkan status bisa nyapa, bikin perasaanmu campur aduk, kadang bikin panas, kadang bikin geli. Jadi jangan heran kalau generasi sekarang lebih cepat kenal budaya “SET TA TUS” daripada budaya literasi klasik.

Status itu ibarat mini-buku. Cuma mini banget, ukurannya kayak gigitan snack. Tapi sekali baca, efeknya bisa gede. Misalnya, satu status galau temanmu bisa bikin kamu ikut sedih, satu meme politik bisa bikin kamu ngakak, satu caption motivasi bisa bikin kamu refleksi—atau pura-pura refleksi sambil scroll feed. Intinya, status punya kekuatan untuk mempengaruhi emosi dan pikiran orang dalam hitungan detik. Buku butuh jam, bahkan hari, untuk bikin efek yang sama.

Gimana nggak, zaman sekarang semua orang pengen instan. Mau tahu kabar dunia? Tinggal buka Twitter atau TikTok. Mau belajar skill baru? YouTube siap 24 jam. Mau tahu resep masakan? Instagram penuh tutorial singkat. Semua serba cepat. Buku? Aduh, buku perlu waktu, konsentrasi, dan kadang kudu beli baru. Kalau enggak sabar, bisa ketiduran sebelum halaman sepuluh selesai dibaca.

Tapi jangan salah. Status itu juga punya kelemahan. Kadang terlalu pendek, kadang bikin salah paham. Misal ada teman nulis: “Bete banget hari ini.” Wah, tanpa konteks, kamu bisa mikir: “Kenapa dia bete? Lagi galau? Putus cinta? Lupa makan siang?” Di buku, semua dijelasin panjang lebar, ada alur, ada karakter, ada konflik yang jelas. Di status, semua serba singkat. Makanya kadang generasi sekarang pinter membaca caption, tapi agak kikuk kalau baca buku panjang.

Tapi, ya, ini jaman modern. Semua serba cepat. Anak-anak lebih suka scroll daripada buka halaman buku. Mahasiswa lebih suka diskusi di grup WhatsApp daripada kuliah buku teks. Dunia kerja? Laporan disingkat, presentasi pake grafik warna-warni, proposal cukup slide deck. Buku tetap ada, tapi posisinya mulai kayak dinosaurus: keren, tapi jarang disentuh.

Meskipun begitu, jangan salah. Buku nggak mati. Buku tetap punya pesona. Ada sensasi sendiri waktu pegang buku tebal, ngerasain aroma kertas, ngerasain beratnya, meresapi kata demi kata. Ada kenikmatan membaca yang nggak bisa diganti oleh layar digital. Buku ngajarin kesabaran, refleksi, dan cara berpikir panjang. Status nggak ngajarin itu. Status ngajarin kamu cepat tanggap, peka terhadap tren, dan ngerti meme terbaru. Dua-duanya punya tempatnya masing-masing.

Yang lucu, kalau ada orang tua bilang: “Emang masih jaman buku, tah?” jawaban anak muda biasanya santai: “Emang… tapi sekarang yang penting kita update status dulu, biar dunia tau kita masih hidup.” Lucu, kan? Status jadi semacam bukti eksistensi. Orang nulis status bukan cuma buat diri sendiri, tapi juga buat orang lain liat: aku ada, aku galau, aku bahagia, aku pinter, aku lucu. Buku nggak bisa gitu, buku diem aja, nggak peduli sama siapa yang baca.

Di sisi lain, status itu juga mengajarkan literasi baru. Literasi cepat, literasi visual, literasi sosial. Bisa menilai orang dari meme, dari caption, dari thread panjang di Twitter. Bukan sekadar baca, tapi ngerti konteks sosial dan budaya. Kalau kamu paham cara membaca status teman, berarti kamu paham perilaku manusia di dunia modern. Itu ilmu, bro!

Idealnya, perpaduan buku dan status digital itu keren. Buku ngajarin kedalaman, logika, refleksi. Status ngajarin kecepatan, kreativitas, dan tren. Anak muda yang bisa gabungin keduanya? Wah, pinter banget. Bisa mikir kritis, tapi juga gaul dan update. Pendidikan modern juga harus adaptif: ajarin anak baca buku, tapi juga ngerti dunia digital.

Jadi kesimpulannya, emang masih jaman buku? Iya, buku tetep jaman. Tapi emang bener juga, zaman sekarang baca status doang juga jaman. Yang penting, jangan sampai cuma scroll tanpa mikir, tapi juga jangan cuma baca buku tanpa ngerti dunia digital. Dunia modern itu fleksibel, kita harus fleksibel juga. Buku dan status sama-sama penting, cuma bentuknya beda.

Jadi, buat anak muda, jangan takut bilang: “Aku lebih suka baca status.” Dan buat orang tua, jangan panik kalau anak nggak pernah pegang buku tebal. Selama mereka tetap belajar, mikir, dan ngerti dunia, itu sudah cukup. Buku dan status? Dua-duanya jaman, dua-duanya penting. Tinggal gimana kita membacanya: serius, santai, atau sambil ketawa.

Nah, kalau ada yang nanya lagi: “Emang masih jaman buku, tah?” jawaban gampang: “Iya, tapi jangan lupa update status dulu, biar dunia tahu kamu hidup dan pinter juga!”

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel