Ads

Ketika Otoritas Diuji oleh Pertanyaan

Ketika Otoritas Diuji oleh Pertanyaan



Shock pertama bukanlah soal bahasa, bukan pula tentang makanan atau cuaca, melainkan tentang cara berpikir. Di pesantren, ketika sebuah kitab menyebut qala jumhurul ulama, persoalan dianggap tuntas. Mayoritas telah berbicara. Titik. Otoritas transmisi bekerja menenangkan. Namun di ruang kelas Barat, justru di situlah percakapan dimulai, bukan diakhiri.

“Kamu tahu dari mana ini mayoritas?” tanya profesor dengan nada datar. Pertanyaan sederhana, tetapi menghantam. Kitab kuning dijadikan rujukan, namun pertanyaan berlanjut: kitab itu ditulis abad ke berapa? Mayoritas pada masa siapa? Apakah mayoritas itu masih relevan hari ini? Bagaimana cara mengukurnya? Apakah ada data lintas zaman? Apakah ada perbedaan wilayah? Apakah ada bukti yang bisa diverifikasi?

Di titik ini, dunia pesantren yang selama ini terasa mapan mendadak berguncang. Bukan karena salah, melainkan karena tidak pernah diminta menjelaskan bagaimana sebuah kesimpulan dibentuk secara metodologis. Tradisi pesantren sangat kuat dalam transmisi otoritas keilmuan, sementara tradisi akademik Barat obsesif pada verifikasi, pengukuran, dan pembuktian. Yang satu menekankan sanad, yang lain menuntut metode.

Ibnu Rusyd menyebut jumhur, tetapi apakah jumhur itu statis? Bahkan dalam satu mazhab yang sama, seperti Syafi’i, terdapat perbedaan tajam antar-ulama dan antar-generasi. Maka ketika disebut “pendapat mayoritas”, mayoritas versi siapa? Zaman kapan? Wilayah mana? Pertanyaan-pertanyaan ini membongkar asumsi yang selama ini diterima tanpa resistensi.

Awalnya, semua terasa melelahkan. Hal-hal kecil yang dulu dianggap selesai kini berubah menjadi rumit dan penuh cabang. Kepala pening, keyakinan diuji, dan rasa aman epistemologis terguncang. Namun perlahan disadari, inilah cara ilmu bekerja. Ilmu tidak selalu hadir untuk menenangkan, tetapi sering kali untuk mengusik. Ia memaksa keluar dari kenyamanan menuju kedewasaan berpikir.

Di titik itulah pesantren dan dunia akademik modern bertemu. Bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling melengkapi. Otoritas tanpa metode bisa membeku, sementara metode tanpa tradisi bisa kehilangan arah. Shock ini bukan kehancuran, melainkan undangan untuk tumbuh.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel