Kenapa Baca Buku Berasa Kayak Nanjak Rinjani?
“Kenapa Baca Buku Berasa Kayak Nanjak Rinjani?”
Oleh Akang Marta
Baca buku itu berat, bro. Serius. Jangan bilang gampang. Kadang baru buka halaman satu, mata udah ngantuk, pikiran udah kemana-mana. Rasanya kayak nanjak Rinjani, tapi tanpa pemandangan indah, tanpa angin seger, cuma ada tumpukan kata-kata yang nuntut perhatian. Eh, baru paragraf kedua, ponsel berdering, notifikasi masuk: “Diskon 50% sepatu baru nih!” udah deh, konsentrasi buyar, scroll toko online sampai checkout.
Di era digital, fokus baca buku itu ibarat misi mustahil. Satu paragraf aja bisa jadi penuh drama. Bacanya serius, mata fokus, pikiran ngerjain analisis. Eh, lima menit kemudian, zoom in ke smartphone: TikTok, Instagram, Twitter, WhatsApp, notifikasi game, email kerja semua manggil-manggil. Dan kamu? Tanpa sadar, halaman buku tetap di situ, nggak disentuh, sedangkan jari-jari udah geser layar ponsel kayak atlet lari cepat.
Kamu mungkin mikir: “Ah, itu cuma aku doang.” Nggak, bro. Semua orang ngalamin ini. Generasi sekarang belajar multitasking level dewa. Bisa baca buku sambil liat layar ponsel. Tapi realitanya, konsentrasi 100% cuma ada di satu hal: ponsel. Buku? Ya… di situ aja, diem. Kadang kita mikir, “Kenapa kata-kata di buku bisa panjang banget, sih?”
Lucunya, saat baru sadar, kita udah keliling internet, belanja online, nonton video kucing lucu, nge-scroll meme politik, tanpa sadar buku tetap di meja. Rasanya kayak nanjak gunung tanpa guide, tanpa air, tanpa ransel yang cukup hanya ada paragraf yang minta dibaca.
Fokus baca buku di era digital itu penuh godaan. Ada ponsel, ada laptop, ada TV di pojokan, bahkan suara orang lain ngobrol di rumah pun bisa bikin mata kabur dari halaman. Satu kata aja bikin kita kepikiran: “Eh, tadi ada promo sepatu ya? Eh, beli tiket konser nggak ya?”dan begitu sadar, halaman buku tetep di situ.
Yang paling kocak, kita sering mulai dengan niat mulia: “Hari ini aku bakal baca buku minimal satu bab.” Tapi lima menit kemudian, niat itu udah hancur lebur. Pikiran: “Ah, nggak apa-apa, aku cuma liat satu video tutorial masak.” Eh, ternyata nonton sampai tiga episode, terus scroll Instagram. Buku? Tetep diem.
Kadang baca buku itu berasa kayak ngejar puncak Rinjani: nanjak perlahan, ngos-ngosan, keringetan, capek, tapi nggak ada yang bilang “selamat datang di puncak, bro.” Puncak itu nggak kelihatan, cuma ada halaman berikutnya yang nunggu. Dan setiap kali kita tergoda, kita turun lagi ke lembah ponsel: scroll, scroll, scroll.
Tapi di balik semua itu, ada kebenaran lucu: buku ngajarin kita sabar. Status medsos ngajarin kita instan. Dua-duanya penting, tapi fokus itu mahal banget di era digital. Kadang kita iri sama orang-orang yang bisa duduk tenang, baca buku setengah jam tanpa gangguan. Kita? Baru satu halaman, eh checkout sepatu.
Dan jangan lupa, tiap kali kita gagal fokus, muncul rasa bersalah. “Kenapa aku nggak bisa fokus?”—padahal sebenarnya, godaan digital itu kayak magnet super kuat. Satu klik aja, pikiran langsung melayang ke dunia maya. Kita mencoba, gagal, nyoba lagi, gagal lagi. Ini kayak nanjak Rinjani, tapi tiap 10 meter ada warung martabak yang manggil: “Mau nyoba martabak keju nggak, bro?”
Lucu juga kalau dipikir, perjuangan ini bikin kita sadar: membaca buku di era digital itu skill level expert. Kamu bukan cuma baca kata-kata, tapi melawan diri sendiri, melawan notifikasi, melawan dorongan beli online, melawan video kucing yang lucu banget. Kalau menang, rasanya puas luar biasa. Kalau kalah, yaudah… scroll lagi aja, sambil ketawa kecil karena gagal fokus.
Kadang solusi sederhana: baca buku di tempat tanpa sinyal. Tapi, bro, siapa yang tahan tanpa ponsel 10 menit aja? Rasanya kayak amputasi jari. Fokus? Bisa, tapi menderita. Jadi, strategi paling realistis: baca sedikit-sedikit, sambil nikmatin godaan digital sesekali. Anggap ini hiking ringan, bukan nanjak Rinjani.
Yang paling penting, humor diri sendiri itu wajib. Jangan sedih kalau baru satu paragraf udah scroll TikTok. Itu normal. Semua orang ngalamin. Bahkan penulis buku sendiri kadang bilang: “Baca buku itu berat, bro, jangan nyalahin diri sendiri.” Jadi, self-deprecating humor itu obat paling mujarab buat fokus di era digital.
Dan akhirnya, kenapa baca buku berasa kayak nanjak Rinjani? Karena fokus itu susah, godaan digital kuat, konsentrasi gampang buyar, halaman panjang banget, dan kita manusia biasa yang nggak selalu kuat. Tapi itu lucu, itu manusiawi, itu relatable banget. Dan setiap kali kita kembali ke buku, kita belajar sedikit-sedikit, sambil ngakak sendiri karena sadar: “Eh, baru satu paragraf udah belanja online lagi.”
Jadi kesimpulannya, baca buku di era digital itu perjuangan epic. Satu paragraf bisa jadi misi besar, ponsel jadi musuh utama, fokus itu emas, dan self-deprecating humor itu penyelamat. Jangan sedih kalau gagal fokus, jangan panik kalau scroll feed ketimbang baca halaman. Anggap aja hiking ringan nanjak Rinjani, kadang turun dulu, kadang naik lagi, tapi tetap ada puncak yang nunggu: satu buku yang akhirnya selesai dibaca.
Dan begitu, bro… dunia membaca di era digital itu kocak, lucu, menantang, bikin kita sadar diri, tapi juga bikin kita pinter ngerjain multitasking. Buku itu tetap jaman, ponsel juga tetap jaman. Tinggal gimana kita nikmatin perjalanan nanjak Rinjani ini: sambil ketawa, sambil scroll, sambil baca buku sedikit demi sedikit.
