Anti-Kritik Garis Keras: Seni Menutup Telinga Biar Tetep Waras
“Anti-Kritik Garis Keras: Seni Menutup Telinga Biar Tetep Waras”
Oleh Akang Marta
Bro, serius deh, kenapa kita manusia modern ini paling males denger kritikan “bae” alias yang seharusnya baik tapi bikin mood anjlok? Gue jelasin, ini bukan soal kamu lemah, tapi soal psikologi dasar manusia. Kritik, kalau nggak dikemas pas, bisa langsung bikin telinga panas, kepala muter, dan hati dag dig dug. Nah, di sini lah seni menutup telinga biar tetap waras muncul.
Pertama-tama, mari kita bedain dulu: kritik yang membangun sama kritik yang cuma mau bikin kita down itu beda jauh. Kritik membangun itu kayak temen nongkrong yang bilang, “Bro, gaya lo keren sih, tapi kalau kaosnya ganti warna, lebih jos lagi.” Langsung masuk akal, nggak bikin baper, dan bisa kita terapin. Sementara kritik yang cuma mau ngerendahin itu kayak, “Eh bro, gaya lo jelek banget, jangan sok keren deh.” Wuih… langsung pengen banting kursi, kan?
Masalahnya, kita sering nggak bisa langsung bedain. Kadang kritik yang seharusnya baik, karena dikemas pake nada yang salah, jadi terdengar nyerang. Apalagi kalau dikasih sama orang yang doyan banget nyerang random, entah temen nongkrong, keluarga, atau grup WhatsApp keluarga. Eh, satu kalimat aja bisa bikin kita meringis dan mikir, “Ini kritik atau bully sih?”
Nah, di sinilah seni menutup telinga muncul. Bukan maksudnya jadi bodo amat atau sombong. Tapi lebih ke strategi self-preservation. Gue kasih tips ala tongkrongan:
-
Filter dulu sebelum nyerap
Bayangin kritik itu kayak lagu di playlist. Ada yang enak didengar, ada yang bikin telinga sakit. Pilih yang masuk akal, buang yang cuma noise. Contohnya, temen bilang, “Eh, lo suka lambat banget nyelesain kerjaan.” Kalau ini bener, catet, perbaiki. Kalau temen bilang, “Lo goblok, kerjaan lo nggak guna!”… skip, bro, itu noise. -
Ganti nada dalam kepala
Saat kritik masuk, jangan langsung tersinggung. Coba bayangin orang itu lagi bermain karakter villain di film. Semua kata-katanya absurd, cuma buat drama. Jadi, daripada baper, lo ketawa sendiri: “Hahaha, drama deh elu.” Teknik ini ampuh banget biar waras. -
Ganti medium
Kalau kritik datang lewat chat, baca sekejap, terus taruh lagi. Jangan langsung reply atau mikir panjang. Kadang kritik yang kita baca di layar itu lebih nyakitin daripada aslinya, soale kita nggak dapet ekspresi wajah, intonasi, dan nada bercanda. -
Self-talk positif
Ini penting. Kritik itu nggak selalu benar, dan nggak selalu salah. Kalau lo ngerasa down, bilang ke diri sendiri: “Bro, lo udah oke, kritik ini nggak define lo.” Self-talk ini kayak perisai mental, bikin kita tetap waras. -
Tongkrongan itu penting
Curhat ke temen yang ngerti kita itu kayak reboot sistem otak. Mereka bakal bilang: “Ah, itu mah nggak usah dipikirin.” Kadang mereka malah bikin kita ketawa guling-guling, langsung lupa kritikan yang nyerang tadi.
Lucunya, teknik menutup telinga ini nggak cuma buat kritik pedas. Kritik “bae” juga kadang bikin mood anjlok kalau kita lagi nggak siap mental. Misal, boss bilang: “Kerjaan lo bagus, tapi perlu lebih rapi sedikit.” Sekilas kelihatannya membangun, tapi kalau lo lagi lelah, bisa terdengar kayak: “Lo payah, bro!” Otak kita kadang ngasih interpretasi dramatis, dan itu manusiawi banget.
Nah, psikologi di balik ini sederhana: otak manusia lebih peka terhadap ancaman daripada pujian. Jadi, kritik—apalagi yang dikemas setengah nyerang—langsung bikin kita stres, padahal niat pengasuhnya mungkin baik. Makanya, menutup telinga bukan berarti bodoh, tapi strategi adaptasi biar nggak stress.
Satu hal lagi: jangan lupa, kritik yang membangun harus disaring pake otak kita. Jangan asal serap. Misal, temen bilang, “Lo harus lebih disiplin.” Bisa lo catet, tapi jangan langsung nyeret semua self-esteem ke lantai. Kadang orang cuma nyoba ngasih tips, bukan nyerang kita. Tapi kalau lo lagi mood jelek, semua bisa terdengar nyerang. Nah, di sini seni menutup telinga itu muncul: ambil yang baik, buang yang bikin baper.
Selain itu, penting juga buat ngasih jarak sama kritik. Jangan langsung balas atau defend diri. Tarik napas, minum kopi, scroll meme lucu. Biar mood stabil. Otak kita butuh waktu buat mentransformasi input kritikan jadi learning point daripada drama pribadi.
Dan yang paling penting: jangan lupa ketawa sama diri sendiri. Self-deprecating humor itu senjata ampuh. Misal, baru kritik masuk, lo bisa bilang: “Waduh, lo mah doyan kritik ya? Gue waras kok, santai aja.” Dengan cara ini, kita tetap waras, tetap senyum, dan tetap bisa menikmati hidup tanpa drama berlebihan.
Kalau elo pikir menutup telinga itu egois, nggak juga. Ini skill hidup modern. Zaman sekarang, orang bisa kritik kapan aja, di mana aja: chat, media sosial, grup WhatsApp, komentar TikTok. Kalau kita serap semua, stress. Jadi, filter, tanggepin seperlunya, terus lanjut hidup.
Kesimpulannya, seni menutup telinga biar tetap waras itu kombinasi:
-
filter kritik masuk
-
ganti nada di kepala
-
self-talk positif
-
tongkrongan dan curhat
-
ketawa sama diri sendiri
Dengan cara ini, kritik tetap bisa diterima tanpa bikin kita down. Buku panduan hidup? Belum ada, tapi pengalaman pribadi dan humor ala tongkrongan itu cukup ampuh.
Jadi, bro, kalau ada kritik pedas atau “bae”, jangan langsung baper. Bayangin villain, tarik napas, catet yang penting, buang yang nggak penting. Nikmatin proses, ketawa, dan tetap waras. Karena hidup itu terlalu singkat buat stress gara-gara kritik yang nggak penting.
Dan itu seni anti-kritik garis keras: menutup telinga tapi tetap peka, waras tapi nggak bego, santai tapi nggak cuek. Biar hidup tetap enak, bro.
