Menaklukkan Diri, Merawat Peradaban
Menaklukkan Diri, Merawat Peradaban
Gagasan tentang “menaklukkan Barat” sering disalahpahami sebagai ambisi mengalahkan peradaban lain. Padahal, makna terdalamnya justru terletak pada upaya menaklukkan diri sendiri. Ego intelektual, rasa minder yang diwariskan sejarah, serta kemalasan berpikir adalah musuh utama yang harus dihadapi. Dalam konteks inilah pesan menjadi khadimul ilm menemukan relevansinya: melayani ilmu dengan kerendahan hati, bukan memanfaatkannya untuk menaklukkan siapa pun.
Menjadi pelayan ilmu berarti bersedia terus belajar tanpa merasa paling benar. Ia menuntut keberanian untuk mempertanyakan asumsi sendiri, membuka diri pada kritik, dan memperbaiki kesalahan. Santri yang melangkah ke ruang global tidak sedang membawa misi dominasi, melainkan kesiapan untuk diuji. Dunia akademik internasional tidak memberi karpet merah pada identitas, tetapi menguji argumen, konsistensi metodologi, dan kejujuran berpikir.
Santri tidak kehilangan jati diri ketika memasuki dunia global. Justru di sanalah jati diri itu diuji secara paling jujur. Apakah nilai-nilai yang dibawa hanya slogan, atau benar-benar berakar dalam etika dan cara berpikir? Ketika fondasi keilmuannya kuat, santri tidak sekadar bertahan menghadapi perbedaan, tetapi mampu berkontribusi secara nyata. Ia tidak datang sebagai peniru, melainkan sebagai mitra dialog yang setara.
Pengalaman ini mengajarkan satu hal penting: ilmu tidak mengenal batas Timur dan Barat. Ia tidak tunduk pada geografi atau identitas politik. Yang menentukan martabat ilmu adalah kejujuran metodologis dan adab kemanusiaan. Ketika ilmu disampaikan dengan integritas, ia akan dihormati tanpa perlu klaim berlebihan. Ketika perbedaan dihadapi dengan etika, dialog akan tumbuh tanpa rasa curiga.
Di titik inilah pesan Abah menemukan maknanya yang paling dalam. Bahwa tujuan belajar bukanlah kemenangan simbolik, melainkan kematangan pribadi dan kebermanfaatan sosial. Menjadi santri di dunia global berarti siap melayani ilmu, merawat peradaban, dan menempatkan diri bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai penjaga akal sehat dan kemanusiaan.
Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi
