Ketika Adab Diuji oleh Kemanusiaan
Ketika Adab Diuji oleh Kemanusiaan
Shock kedua tidak datang dalam bentuk perdebatan intelektual atau tuntutan akademik, melainkan hadir secara lebih subtil dan personal: relasi sosial. Di pesantren dan kampus IAIN, menjaga jarak fisik dengan lawan jenis adalah bentuk kehati-hatian. Tidak bersalaman, tidak bersentuhan, tidak mendekat, semua dipahami sebagai ikhtiar menjaga adab dan kehormatan. Tubuh dilatih untuk patuh, refleks dibentuk sejak lama.
Namun di Australia, dinamika sosial bekerja dengan kode yang berbeda. Kerja kelompok menuntut kedekatan fisik yang wajar. Diskusi dilakukan sambil duduk berdekatan, saling menunjuk layar, bertukar catatan. Ketika seorang mahasiswi mendekat untuk berdiskusi, tubuh refleks menjauh. Ia mendekat lagi. Tubuh kembali menjauh. Gerakan kecil itu berulang, hingga akhirnya muncul pertanyaan jujur yang menusuk: “What’s wrong with you? Do I smell? Are you uncomfortable with me?”
Pertanyaan itu menjadi cermin yang memaksa refleksi. Di titik itu, kesadaran muncul bahwa persoalan ini bukan lagi semata-mata soal fiqh, melainkan soal kemanusiaan. Ketika sikap personal, meski diniatkan sebagai ketaatan, justru membuat orang lain merasa tidak pantas, tidak layak, atau bermasalah, maka ada sesuatu yang perlu ditimbang ulang. Bukan tentang benar atau salahnya ajaran agama, tetapi tentang bagaimana agama hadir dalam ruang sosial tanpa melukai martabat manusia lain.
Agama, pada hakikatnya, tidak hanya mengatur relasi vertikal, tetapi juga relasi horizontal. Hablum minallah tidak bisa dilepaskan dari hablum minannas. Ketika adab berubah menjadi tembok yang mengasingkan, ketika kehati-hatian menjelma menjadi isyarat penolakan, maka nilai kemanusiaan perlu dihadirkan sebagai penyeimbang.
Dari pengalaman itu, jalan tengah mulai dicari. Bukan dengan menanggalkan prinsip, tetapi dengan menemukan ukuran. Ada adab, ada batas, tetapi juga ada konteks. Menjaga diri tidak harus membuat orang lain merasa direndahkan. Agama tidak boleh menjadi alasan untuk menghapus empati. Justru di ruang perjumpaan lintas budaya, agama diuji bukan oleh larangan, melainkan oleh kemampuannya menjaga martabat manusia.
Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi