Di Antara “Benar” dan “Kebenaran”
Sains,
Kebenaran, dan Otak-Atik Gatuk: Antara Model, Mitologi, dan Makna
Di Antara “Benar” dan “Kebenaran”
Bahasa
Indonesia menyatukan konsep “right” dan “truth” dalam satu kata: “benar”.
Padahal, secara filosofis, keduanya berbeda secara mendasar. “Right” merujuk
pada sesuatu yang sesuai dengan aturan, prosedur, atau kriteria tertentu; ia
bersifat relatif terhadap sistem atau konteks yang mengaturnya. Sementara
“truth” menunjuk pada sesuatu yang berdiri sendiri, independen dari ukuran
eksternal, dan ada secara ontologis, tanpa bergantung pada pengamatan atau
interpretasi manusia. Dalam ranah sains, kita bergerak di wilayah “right”:
suatu teori dianggap benar jika memenuhi prosedur ilmiah, dapat diuji,
direplikasi, dan konsisten dengan fakta empiris. Kriteria ini memungkinkan
komunitas ilmiah menilai dan memverifikasi pengetahuan secara sistematis, namun
tetap bersifat sementara, karena setiap teori terbuka untuk diuji ulang atau
digantikan oleh model yang lebih baik.
Kebenaran
dalam arti “truth”, di sisi lain, sering berada di luar jangkauan sains. Ia
muncul dalam seni, filsafat, atau pengalaman spiritual, yang memberikan makna
dan resonansi batin yang tidak bisa diukur secara empiris. Kita dapat memahami
secara ilmiah bagaimana hujan terbentuk, bagaimana awan menggumpal atau uap air
mengembun, namun tidak dapat menjelaskan mengapa hujan pertama di musim kemarau
bisa memicu perasaan haru atau nostalgia dalam diri manusia. Begitu pula, kita
memahami neuron menembakkan sinyal listrik, tetapi sains tidak mampu mereduksi
cinta, empati, atau inspirasi kreatif menjadi persamaan matematis. Di sinilah
batas sains: ia menjelaskan mekanisme, bukan makna.
Pemisahan
antara “right” dan “truth” menjadi penting untuk menyadari bahwa kebenaran
bersifat multi-dimensi. Setiap sistem pengetahuan—sains, filsafat, agama,
maupun tradisi mistik—memiliki wilayah validitasnya masing-masing. Menyadari
perbedaan ini membantu kita menghindari absolutisme epistemik, di mana satu
sistem dianggap sebagai pemilik tunggal kebenaran, dan membuka ruang dialog
antar-kosmos pengetahuan. Dengan memahami batas dan lingkup masing-masing
sistem, manusia dapat menghargai pluralitas narasi, menggabungkan observasi
empiris dengan makna batin, serta membangun pemahaman yang lebih utuh dan
manusiawi tentang realitas.
Kontributor
Akang Marta
