Ads

Sains Sebagai Mitologi Baru

 

Sains, Kebenaran, dan Otak-Atik Gatuk: Antara Model, Mitologi, dan Makna




Sains Sebagai Mitologi Baru

Sains modern sering dipuja sebagai pengganti mitos kuno, seolah manusia telah meninggalkan kepercayaan pada dewa-dewi yang mengatur petir, badai, dan kesuburan. Namun ironisnya, sains justru menciptakan mitos baru. Istilah-istilah seperti “algoritma”, “AI”, “neural network”, dan “big data” dipercaya mampu meramalkan masa depan, seakan-akan mesin memiliki kesadaran sendiri. Padahal, semua itu hanyalah metafor teknologis, persis seperti mitos kuno yang berfungsi sebagai simbol spiritual. Kepercayaan modern ini memperlihatkan bahwa manusia tetap mencari pola, tanda, dan narasi yang memberi makna pada realitas, hanya bentuknya yang berbeda.

Dalam arti tertentu, kita hidup di era “dukun digital”: orang menatap dashboard data dan memetakan pola seolah membaca mangkuk air atau daun teh. Bedanya, dukun kuno menerima misteri dan ketidakpastian alam, sementara saintis modern sering menolak ruang yang belum terjelajahi. Padahal, seluruh pencarian ilmiah bergantung pada hal yang belum diketahui, pada pertanyaan yang belum terjawab, dan pada asumsi yang masih harus diuji. Ketergantungan pada data dan model dapat menimbulkan ilusi kepastian, seolah sains memetakan realitas secara utuh, padahal ia tetap merupakan bahasa simbolik dan alat interpretasi.

Dengan memahami sains sebagai mitologi modern, kita menyadari bahwa manusia selalu membutuhkan narasi untuk memberi makna pada dunia yang kompleks dan ambigu. Baik berbasis spiritual, simbolik, maupun empiris, narasi itu membantu manusia menafsirkan alam dan dirinya sendiri. Sains dan mitos, pada akhirnya, adalah dua wajah dari usaha yang sama: memahami realitas dan mencari tempat manusia di dalamnya, mengingatkan kita bahwa pencarian makna tidak pernah berhenti, meski cara kita menafsirkannya terus berubah.

Kontributor

Akang Marta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel