Ads

Majma' Al-Bahrain: Mencari 'Ikan Hidup' di Tengah Benturan Negeri

 

Majma' Al-Bahrain: Mencari 'Ikan Hidup' di Tengah Benturan Negeri

Oleh: Kang Fuad



Ketika Ikan Bakar Melompat dari Toples

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, yang termaktub dalam Al-Qur'an Surah Al-Kahfi, sering kita dengar dalam konteks ilmu dan kesabaran. Namun, ada satu detail kecil yang menyimpan filosofi besar: kisah ikan bekal yang melompat hidup kembali ke laut.

Dalam perjalanan spiritual yang jauh, Musa merasa lapar. Namun, ikan santapan yang sudah disiapkan—dan seharusnya siap disantap—tiba-tiba melompat dari wadahnya di suatu tempat yang disebut Majma' Al-Bahrain.

Majma' Al-Bahrain berarti "pertemuan dua lautan" atau benturan antara dua arus. Secara geografis, ia diidentifikasi sebagai Selat Gibraltar, tempat Samudra Atlantik berbenturan dengan Laut Mediterania. Dua massa air dengan suhu dan kadar garam yang berbeda jauh. Di titik benturan inilah, menurut kisah itu, keajaiban terjadi: sesuatu yang tadinya mati (ikan bakar) bisa hidup kembali.

Pelajaran filosofisnya tajam: Hidup kita, bahkan kehidupan berbangsa, seringkali seperti ikan itu, dan krisis yang kita hadapi adalah benturan di Majma' Al-Bahrain.

Benturan sebagai Pusat Kreativitas

Kita, sebagai individu maupun bangsa, seringkali meratapi kesulitan, menganggapnya sebagai hal negatif dalam hidup. Namun, hikmah dari Majma' Al-Bahrain mengajarkan kita untuk bersyukur atas benturan.

Benturan, kesulitan, atau keterbatasan yang kita anggap negatif, justru adalah cara Tuhan menyembunyikan rezeki, membuka buntu, dan menghidupkan kreativitas.

Bukankah ini yang kita saksikan dalam sejarah? Keterbatasan yang menekan justru memaksa kita untuk menjadi kreatif, lebih kuat bertahan, dan lebih siap berjuang. Di situlah letak pusat kreativitas yang sesungguhnya. Sesuatu yang kita pikir sudah buntu total, tiba-tiba terbuka. Sesuatu yang kita anggap "ikan mati" (tinggal menjadi sampah), justru mendapatkan kehidupan baru.

Jika kita tarik ke konteks kebangsaan, Majma' Al-Bahrain adalah titik-titik kesulitan nasional yang memaksa kita berubah.

Mencari Majma' Al-Bahrain Indonesia

Di Indonesia saat ini, Majma' Al-Bahrain itu hadir dalam berbagai wujud:

  • Benturan Kebijakan: Perdebatan sengit dalam revisi undang-undang atau tumpang tindih regulasi yang membuat implementasi di lapangan sulit.

  • Benturan Ekonomi: Tekanan global yang memaksa kita mencari solusi lokal dan mandiri, menekan impor, atau mendorong inovasi UMKM.

  • Benturan Sosial-Politik: Gesekan antar-ideologi atau antarkelompok kepentingan yang menantang kita untuk menemukan konsensus dan kohesivitas baru.

Seringkali, di tengah benturan inilah kita menemukan solusi yang tadinya tidak terpikirkan. Kebijakan yang terasa menyengsarakan di awal, justru memaksa kita untuk membangun fondasi yang lebih kuat di masa depan. Ibarat ikan, kita yang sudah hampir mati karena kesulitan, justru melompat dan hidup kembali.

Oleh karena itu, ketika kesulitan hadir, kita tidak boleh mencurigainya sebagai malapetaka semata. Jangan-jangan, saat Tuhan memberi kita "kemudahan" dan "kekayaan" secara instan, di situlah malapetaka yang sesungguhnya disembunyikan. Sebaliknya, ketika kesulitan hadir, di situlah rezeki kreativitas dan kekuatan tersembunyi.

Janji Allah, seperti yang dikisahkan Nabi Musa, tidak diterjemahkan melalui keajaiban yang mistis, melainkan melalui hukum-hukum alam dan proses-proses sejarah yang rasional.

Tugas kita sekarang adalah: temukan Majma' Al-Bahrain dalam hidup dan lingkungan kita. Di mana benturan itu terjadi? Syukuri, hadapi, dan carilah "ikan" yang tiba-tiba hidup kembali di sana.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel