Ads

Kebenaran Sebagai Perjalanan

 

Sains, Kebenaran, dan Otak-Atik Gatuk: Antara Model, Mitologi, dan Makna

Kebenaran Sebagai Perjalanan





Kebenaran sejati mungkin terlalu luas dan kompleks untuk dijinakkan oleh satu paradigma tunggal. Sains, filsafat, agama, dan mistisisme hanyalah jendela kecil menuju panorama yang sama: realitas yang terus berubah, ambigu, dan multi-dimensi. Sains memberikan model terbaik yang kita miliki saat ini; ia berguna, elegan, dan mampu menjelaskan banyak fenomena, tetapi bukan wahyu terakhir. Setiap teori, hukum, atau persamaan hanyalah representasi sementara dari cara manusia memahami alam. Bahkan penemuan revolusioner lahir dari keisengan dan percobaan, seperti de Broglie yang membalik logika Einstein, menunjukkan bahwa kreativitas ilmiah selalu dimulai dari spekulasi dan intuisi.

Kebenaran bukan tujuan akhir yang bisa digenggam secara definitif, melainkan proses menjadi. Ia adalah perjalanan kontemplatif untuk memahami dunia dan diri secara berulang, di mana pertanyaan lebih penting daripada jawaban final. Dalam setiap eksperimen ilmiah, refleksi filsafat, atau ritual spiritual, manusia mempraktikkan usaha menamai misteri yang lebih besar dari dirinya. Setiap narasi — baik empiris maupun simbolik — membuka ruang pemahaman yang berbeda dan saling melengkapi, memperkaya cara kita berinteraksi dengan dunia. Menyadari hal ini menuntun kita pada kerendahan hati epistemik: bahwa kebenaran tidak dimiliki siapa pun, dan selalu melampaui jangkauan lensa pengetahuan manusia.

Dengan pandangan ini, dialog antara sains, tradisi, dan spiritualitas seharusnya tidak dipandang sebagai konflik, melainkan sebagai perjalanan kolaboratif. Kebenaran menjadi ruang bersama, tempat manusia dapat menemukan makna, menghormati kompleksitas realitas, dan mengakui keterbatasan perspektif masing-masing. Di ruang itu, setiap narasi memiliki peran, dan perbedaan antara laboratorium, kuil, atau ritual tidak lagi dipolitisasi sebagai superioritas, melainkan dilihat sebagai kontribusi unik dalam mosaik pemahaman manusia yang tak pernah lengkap, namun selalu bergerak maju.

 

Kontributor

Akang Marta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel