Ads

Ketika Kebebasan Menjadi Anugerah yang Terlupakan

 Ketika Kebebasan Menjadi Anugerah yang Terlupakan

Penulis: Akang Marta



Di tengah gegap gempita perbincangan publik tentang demokrasi, hukum, dan rasa keadilan, ada kisah-kisah kecil yang jarang mendapat ruang: kisah manusia yang bergulat dengan nestapa, menghadapi fitnah, merawat harapan, dan pada akhirnya menemukan kembali makna kebebasan. Kisah-kisah semacam ini bukan sekadar narasi personal, tetapi cermin dari kondisi sosial kita—tentang bagaimana negara memperlakukan warganya, bagaimana masyarakat merespons ketidakadilan, dan bagaimana seseorang bisa tetap berdiri ketika semuanya terasa runtuh.

Tulisan ini bukan tentang pembelaan diri siapa pun, bukan pula tentang membuka kembali berkas perkara. Ini sebuah renungan, sebuah opini mengenai nilai-nilai yang sering kita anggap sepele sampai kehidupan menegur kita dengan keras. Renungan yang lahir dari pengalaman seseorang yang baru saja keluar dari gelapnya penjara, lalu menemukan kembali terang kebebasan yang selama ini dianggap biasa.

Kawan Sejati dalam Gelap Penjara

“Teman sejati adalah yang tetap hadir ketika semua orang memilih pergi.” Kalimat klise ini selalu kita dengar, tetapi jarang sungguh-sungguh diuji. Dalam situasi rumah tangga politik, tekanan hukum, dan stigma publik, banyak yang memilih menjaga jarak, bukan karena benci, tetapi karena takut terseret dalam arus persoalan orang lain. Ketakutan, pada titik tertentu, adalah naluri paling manusiawi.

Tetapi ada orang-orang yang memilih jalan berbeda: bertahan, menemani, bahkan menjadi tempat bersandar. Salah satunya seorang akademisi—mentor sekaligus sosok yang lebih layak disebut ayah. Bukan karena faktor usia, melainkan kehadirannya dalam masa paling gelap: saat seseorang diperkarakan, dijauhi, dan tidak tahu harus mengadu pada siapa.

Di negeri ini, relasi guru dan murid tak jarang bersifat formal belaka. Tetapi di momen seperti ini, justru hubungan spiritual itu menguat. Orang bilang, keluarga bukan hanya mereka yang lahir dari rahim yang sama, tetapi mereka yang tetap memegang tangan kita ketika seluruh dunia melepaskannya.

Yang menarik, momen-momen kedekatan seperti ini selalu melampaui hitungan rasional. Ia lebih mirip ikatan batin yang terbentuk justru ketika seseorang kehilangan semua kemewahan sosialnya—jabatan, posisi, reputasi. Dari situlah sebuah pelajaran sederhana muncul: manusia tidak dinilai dari atributnya, melainkan dari siapa yang tetap memeluknya ketika atribut itu dicopot.

Mensyukuri Hal-Hal yang Kita Anggap Remeh

Sebelum penahanan, berjalan di Lapangan Banteng sambil mendengar musik zumba—suara yang biasanya mengganggu—adalah hal biasa. Tapi setelah kembali menghirup udara bebas, suara bising itu berubah menjadi nyanyian keindahan. Hal-hal kecil yang dulu dianggap remeh ternyata adalah nikmat yang selama ini tidak kita syukuri.

Kita sibuk mengejar banyak hal: jabatan, stabilitas, pengakuan, kenyamanan. Tetapi kita lupa bahwa kebebasan itu sendiri adalah anugerah paling mahal. Seperti yang ditulis Kamaruddin Hidayat, ada dua nikmat besar yang sering terabaikan: kebebasan dan iman. Tanpa keduanya, manusia akan mudah tersesat dan tercerai-berai dalam kegelisahan. Dengan keduanya, dunia seolah kembali ke dalam genggaman.

Tidak banyak orang membayangkan bahwa berjalan di trotoar, duduk di taman, atau menghirup udara pagi adalah nikmat besar. Namun mereka yang pernah kehilangan kebebasan tahu persis betapa berharganya hal-hal sederhana itu. Di ruang isolasi tiga kali tiga meter, tanpa jendela, tanpa suara manusia lain, seseorang dipaksa menghadapi dirinya sendiri dan waktu yang bergerak sangat lambat. Di ruang seperti itu, bahkan napas pun terasa sebagai kemewahan yang tak ternilai.

Mengadu Pada Tuhan di Titik Terendah

Ketika seseorang berada di ruang isolasi, ia tidak lagi bisa bersandar pada siapa pun kecuali Tuhan. Semua kesibukan dunia yang selama ini menyita perhatian mendadak hilang. Tidak ada lagi rapat, pesan WhatsApp, agenda kantor, atau publik yang bersorak. Yang tersisa hanyalah kesunyian dan kesadaran: diri ini terlalu kecil untuk memahami rencana besar Tuhan.

Di tengah kesunyian itulah muncul pertanyaan yang paling manusiawi: “Mengapa saya diuji sekeras ini?” Pertanyaan yang mungkin pernah kita ajukan saat menghadapi kemalangan berat. Tetapi pertanyaan itu pula yang menggiring seseorang pada titik pencarian spiritual paling murni.

Dalam sebuah buku karya Helwa, dijelaskan bahwa kata “fitnah” berasal dari kata fatana—yang berarti membakar emas agar menjadi lebih murni. Fitnah, dalam makna spiritual, bukan sekadar tuduhan palsu, tetapi proses pemurnian. Proses yang menyakitkan, tetapi justru mengeluarkan manusia dari kotoran-kotoran yang menempel pada dirinya.

Membaca itu, seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil menemukan kelegaan baru. Mungkin rasa sakit ini adalah proses pemurnian. Mungkin Tuhan sedang mencuci karat-karat ego, ambisi, dan rasa sombong yang selama ini tak disadari.

Kesadaran itu menemukan puncaknya ketika membuka kembali Surat Ad-Duha. Kalimat sederhana dalam ayat itu menghantam hati: Tuhan tidak pernah melupakan manusia. Bukankah engkau dulu yatim? Bukankah engkau dulu miskin, lalu Aku cukupkan? Bukankah engkau dulu tersesat, lalu Aku beri petunjuk?

Ayat itu menjadi turning point, sebuah titik balik—bahwa rasa ditinggalkan ternyata bukan kenyataan, melainkan perasaan. Tuhan tidak pernah pergi; kitalah yang menjauh.

Ketika Bantuan Datang dari Tempat yang Tak Diduga

Ada satu ironi dalam pengalaman dipenjara: seseorang bisa lebih miskin dari sebelumnya, tetapi justru lebih kaya dalam rasa kemanusiaan. Rekening diblokir, akses keuangan terputus, harta tidak bisa digerakkan. Tetapi di saat yang sama, bantuan datang dari arah yang tidak pernah dibayangkan.

Anak buah yang gajinya kecil tiba-tiba datang membawa uang tunai untuk sekadar bertahan hidup. Teman mengirimkan mie instan, telur, minyak goreng. Semua hal yang bagi orang kota mungkin terlihat remeh, tetapi bagi yang berada dalam jurang kesulitan, itu adalah bentuk cinta paling nyata.

Pelajaran moralnya sederhana: solidaritas manusia tidak pernah hilang. Ia hanya tertutupi oleh hiruk-pikuk kepentingan dalam situasi normal. Tetapi saat seseorang jatuh, solidaritas itu muncul kembali dari tempat-tempat yang tak terduga. Menandakan bahwa kebaikan, meskipun sering kalah bising dibandingkan kebencian, tetap punya akar kuat di masyarakat kita.

Ketika Nasib Berubah dalam Sekejap

Salah satu hal paling dramatis dalam kisah ini adalah perubahan nasib yang begitu cepat. Kemarin seseorang masih berada dalam sel, hari ini ia menghirup udara bebas. Rehabilitasi presiden datang sebagai hadiah yang tak disangka. Bukan sekadar pembebasan, tetapi pemulihan total—seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Itulah yang mengajarkan sebuah kebenaran: manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhan menentukan. Kita sering berpikir bahwa hidup harus berjalan sesuai skenario yang kita anggap paling baik. Tetapi realitas justru menunjukkan sebaliknya. Terkadang jalan yang paling menyakitkan justru membawa kita pada titik yang jauh lebih luhur.

Kisah tentang perubahan nasib yang begitu cepat ini juga mengingatkan kita bahwa hukum tidak selalu bergerak linier. Terdapat ruang kemanusiaan, ruang kebijaksanaan, dan ruang moralitas yang tidak tertulis dalam pasal-pasal undang-undang. Ruang itulah yang memungkinkan munculnya keputusan-keputusan yang tidak saja legal, tetapi juga etis dan berkeadilan.

Politik, Ketakutan, dan Nilai yang Harus Dijaga

Tidak sedikit orang yang menjauh saat kasus hukum muncul. Ketakutan itu realistis. Di negeri ini, kedekatan bisa disalahartikan, loyalitas bisa dituduh kolusi, dan solidaritas bisa dianggap berbahaya. Tetapi justru di saat-saat seperti itu, ukuran nilai seseorang terlihat jelas.

Sebagian memilih menjauh. Tetapi sebagian lain, meski hanya sedikit, memilih tetap berada di sekitar. Mereka yang bertahan bukan hanya menunjukkan keberanian pribadi, tetapi juga keyakinan bahwa persahabatan bukan transaksi politik. Di masyarakat yang kerap terasa pragmatis, nilai-nilai seperti ini perlu kembali dimuliakan.

Di Balik Rasa Syukur, Ada Tanggung Jawab Publik

Meskipun pengalaman ini sangat personal, ia menyimpan pelajaran publik yang penting: bahwa negara harus menjamin kebebasan warga, bahwa proses hukum harus berjalan adil, dan bahwa masyarakat tidak boleh buru-buru menghakimi seseorang sebelum proses tuntas.

Kisah ini bukan ajakan untuk memperdebatkan kembali perkara yang telah lewat, tetapi untuk merenungkan: betapa mudahnya hidup seseorang berubah hanya karena satu keputusan. Betapa rapuhnya rasa aman jika negara tidak berhati-hati. Betapa berharganya kebebasan yang kita anggap biasa.

Ketika seseorang yang pernah merasakan penjara kini berdiri di ruang bebas, ia tidak hanya membawa rasa syukur, tetapi juga tanggung jawab. Tanggung jawab untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain, untuk tidak mengulang kesombongan lama, dan untuk menjaga nilai-nilai yang selama ini dianggap ideal namun sering dikorbankan saat keadaan menjadi sulit.

Mimpi Bersama: Negeri yang Lebih Baik

Pada bagian akhir, seseorang yang baru saja keluar dari jeruji besi mengucapkan terima kasih kepada semua yang masih mau menemani. Tetapi lebih jauh dari itu, ada pesan yang jauh lebih penting: bahwa kita semua, siapapun kita, memimpikan satu hal yang sama—negeri ini menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Nilai itulah yang menyatukan kita melampaui perbedaan pilihan politik, latar sosial, bahkan pengalaman hidup. Bahwa tanah tempat kita lahir ini harus dijaga, diperbaiki, dan dirawat bersama. Bahwa kebebasan bukan sekadar kata dalam konstitusi, tetapi pengalaman hidup yang harus dirayakan dan dipertahankan.

Kebebasan sebagai Titik Awal Baru

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang seseorang yang keluar dari penjara. Ini adalah kisah tentang manusia yang menemukan kembali dirinya, imannya, dan kemanusiaannya. Tentang bagaimana penderitaan bisa berubah menjadi pemurnian. Tentang bagaimana solidaritas muncul dari tempat yang tak diduga. Tentang bagaimana kebebasan, yang selama ini dianggap biasa, ternyata adalah anugerah paling besar.

Di tengah hiruk-pikuk politik Indonesia, opini semacam ini mengajak kita untuk sejenak berhenti dan bertanya: sudahkah kita mensyukuri kebebasan kita hari ini? Sudahkah kita membantu mereka yang sedang didera kesulitan? Sudahkah kita menjaga nilai-nilai yang membuat negeri ini layak disebut rumah?

Sebab pada akhirnya, kebebasan bukan hanya tentang tidak berada dalam penjara. Kebebasan adalah keadaan batin—kemampuan untuk tetap bersyukur, tetap mencintai, tetap memuliakan manusia lain, dan tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Dan dari titik itulah, perjalanan baru selalu dimulai.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel