Demokrasi dan Jalan Dewasa Santri Indonesia
Demokrasi dan Jalan Dewasa Santri Indonesia
Masuknya santri ke ruang politik pascareformasi kerap memunculkan kegelisahan. Ada yang bertanya, apakah kehadiran santri dan tokoh pesantren akan menggeser demokrasi ke arah negara agama? Ataukah justru demokrasi yang perlahan membentuk ulang cara berpikir dan bertindak mereka? Pertanyaan ini wajar, mengingat relasi antara agama dan politik selalu sensitif, baik di dalam negeri maupun dalam pandangan dunia internasional.
Pengalaman Indonesia memberikan jawaban yang relatif menenangkan. Sejak reformasi, tidak satu pun partai Islam mampu memenangkan pemilu presiden secara dominan. Fakta ini menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia tidak mudah ditaklukkan oleh satu identitas politik tunggal. Sebaliknya, demokrasi memaksa semua aktor—termasuk santri—untuk bernegosiasi, menyusun argumen rasional, serta berkompromi dalam batas-batas konstitusi. Politik identitas tidak bisa berjalan sendiri tanpa kemampuan membaca realitas kebangsaan yang plural.
Dalam praktiknya, demokrasi justru membentuk ulang ekspresi politik umat Islam. Santri yang terjun ke politik tidak hadir sebagai penjaga dogma semata, tetapi sebagai warga negara yang berhadapan dengan kompleksitas kepentingan publik. Kiai, ulama, dan tokoh pesantren tersebar di berbagai partai, baik nasionalis maupun berbasis agama. Hal ini menegaskan bahwa identitas keislaman tidak otomatis menentukan pilihan politik. Demokrasi membuka ruang seluas-luasnya, tetapi sekaligus menuntut kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Kekhawatiran sebagian kalangan Barat bahwa ketika umat Islam memiliki pengaruh politik mereka akan mengubah konstitusi menjadi negara agama, terbukti tidak sepenuhnya benar. Bahkan di Mahkamah Konstitusi, hakim-hakim yang berlatar belakang pendidikan agama justru tampil sebagai penjaga konstitusi. Mereka tidak membawa mimbar ke ruang sidang, melainkan metodologi berpikir yang disiplin, kehati-hatian dalam menafsirkan hukum, dan komitmen pada keadilan konstitusional.
Dari sini terlihat bahwa santri, politik, dan demokrasi di Indonesia tidak berada dalam relasi saling menaklukkan. Mereka justru saling menguji dan mematangkan. Demokrasi menjadi ruang belajar, dan santri menemukan perannya sebagai aktor politik yang beretika, bukan ancaman bagi kebangsaan.
Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi