Ads

Merawat Keragaman Cara Mengetahui Dunia

Merawat Keragaman Cara Mengetahui Dunia



Manusia selalu hidup di antara keinginan untuk memahami dan keterbatasan untuk menjangkau. Dari situ lahir beragam cara mengetahui dunia, yang masing-masing tumbuh dari kebutuhan, pengalaman, dan konteks kesadaran manusia. Ketegangan antara pendekatan rasional dan pendekatan simbolik sering kali dianggap sebagai pertentangan mutlak, seolah salah satunya harus menyingkirkan yang lain. Padahal, jika dicermati lebih dalam, perbedaan tersebut justru memperlihatkan kekayaan cara manusia menafsirkan realitas yang jauh lebih luas daripada kemampuan satu sistem tunggal.

Pendekatan ilmiah membangun pengetahuan melalui pengamatan terukur, perumusan hipotesis, dan pengujian berulang. Ia mengandalkan konsistensi data dan keterulangan hasil sebagai fondasi keabsahan. Cara ini sangat efektif untuk memahami pola-pola fisik dan kausalitas yang dapat diamati. Namun, efektivitas tersebut sering disalahartikan sebagai klaim atas kebenaran total. Ketika sains diposisikan sebagai satu-satunya pintu menuju kebenaran, ia berubah dari alat menjadi ideologi.

Di sisi lain, tradisi simbolik dan praktik intuitif lahir dari hubungan manusia dengan makna, rasa, dan pengalaman batin. Pendekatan ini tidak berusaha menguasai alam, melainkan berdialog dengannya. Simbol, ritual, dan intuisi menjadi bahasa untuk membaca isyarat yang tidak selalu dapat diukur, tetapi dirasakan. Pengetahuan semacam ini sering diremehkan karena tidak memenuhi standar formal, meskipun ia telah lama berfungsi menjaga keseimbangan psikologis dan sosial manusia.

Benturan antara dua pendekatan tersebut sering kali berangkat dari kesalahpahaman epistemik. Pertanyaan tentang siapa yang paling benar kerap diajukan tanpa terlebih dahulu memahami wilayah kerja masing-masing. Setiap sistem pengetahuan beroperasi dalam horizon yang berbeda. Sains bergerak dalam ruang yang menuntut verifikasi empiris, sementara pendekatan simbolik bergerak dalam ruang pengalaman subjektif dan kolektif. Membandingkan keduanya secara langsung sama seperti mengukur warna dengan timbangan.

Kebijaksanaan epistemik tidak menuntut penyeragaman cara berpikir, melainkan kemampuan membaca konteks. Ketika sebuah persoalan bersifat teknis dan membutuhkan presisi, pendekatan ilmiah menjadi relevan. Namun, ketika persoalan menyentuh makna hidup, kecemasan, atau relasi manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, bahasa simbolik sering kali lebih memadai. Mengakui hal ini bukan bentuk kemunduran rasional, melainkan tanda kedewasaan berpikir.

Sejarah pengetahuan menunjukkan bahwa setiap sistem selalu memiliki batas. Teori-teori yang dahulu dianggap final kemudian direvisi atau diperluas oleh pendekatan baru. Hal ini tidak berarti teori sebelumnya salah, melainkan belum mencakup keseluruhan realitas. Pengetahuan bergerak secara akumulatif dan korektif, bukan dengan meniadakan sepenuhnya apa yang telah ada. Kesadaran akan ketidaklengkapan inilah yang seharusnya melahirkan kerendahan hati intelektual.

Praktik intuitif dan simbolik pun memiliki batasnya sendiri. Ia tidak dirancang untuk menjelaskan mekanisme fisik secara rinci atau memprediksi fenomena alam dengan presisi matematis. Namun, ia memiliki keunggulan dalam merawat dimensi makna yang sering terabaikan oleh pendekatan teknis. Ketika manusia hanya diperlakukan sebagai objek data, ia kehilangan ruang untuk menjadi subjek yang merasakan dan menafsirkan.

Masalah muncul ketika manusia memaksakan satu sistem untuk menjawab semua pertanyaan. Ketika sains dipaksa menjelaskan makna hidup secara reduksionis, ia menjadi kering. Ketika simbol dan intuisi dipaksa menggantikan penalaran kritis dalam urusan teknis, ia berpotensi menyesatkan. Kegagalan bukan terletak pada sistemnya, melainkan pada cara manusia menggunakannya tanpa kesadaran batas.

Alih-alih mempertentangkan, pendekatan yang lebih produktif adalah melihat pengetahuan sebagai mosaik. Setiap kepingan memiliki bentuk dan fungsi sendiri. Ketika satu kepingan tidak mampu menutup celah tertentu, kepingan lain dapat melengkapinya. Dalam mosaik ini, tidak ada pusat tunggal yang mendominasi, melainkan keterhubungan yang saling menguatkan.

Fleksibilitas epistemik menjadi kunci dalam merawat mosaik tersebut. Fleksibilitas bukan berarti relativisme tanpa pijakan, melainkan kemampuan berpindah perspektif dengan tetap menjaga integritas berpikir. Manusia yang fleksibel secara epistemik tidak terjebak pada fanatisme metode, tetapi mampu menilai kegunaan suatu pendekatan berdasarkan konteksnya.

Kedewasaan berpikir juga menuntut tanggung jawab etis. Setiap sistem pengetahuan dapat menjadi alat pembebasan atau justru alat penindasan, tergantung pada niat dan cara penggunaannya. Rasionalitas dapat digunakan untuk membenarkan kekerasan, sebagaimana spiritualitas dapat dipakai untuk menutup nalar. Oleh karena itu, pertanyaan etis harus selalu menyertai pertanyaan epistemik.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering memadukan berbagai cara mengetahui tanpa menyadarinya. Ia menggunakan logika untuk bekerja, intuisi untuk mengambil keputusan personal, dan simbol untuk memberi makna pada pengalaman. Perpaduan ini menunjukkan bahwa pluralitas epistemik bukan konsep abstrak, melainkan realitas hidup yang terus berlangsung.

Dengan menyadari keragaman cara mengetahui, manusia dapat keluar dari jebakan superioritas intelektual. Tidak semua yang tidak terukur itu tidak bermakna, dan tidak semua yang terukur itu cukup. Kesadaran ini membuka ruang dialog antar pendekatan, bukan untuk saling menundukkan, tetapi untuk saling melengkapi.

Pada akhirnya, kebijaksanaan epistemik bukan tentang memilih satu jalan dan menutup jalan lain. Ia tentang kemampuan berjalan di antara berbagai jalan dengan kesadaran penuh akan arah, tujuan, dan keterbatasan diri. Dari situ lahir sikap rendah hati, terbuka, dan bertanggung jawab dalam menggunakan pengetahuan. Dengan sikap inilah manusia dapat memahami dunia bukan sebagai medan pertarungan kebenaran, melainkan sebagai ruang belajar yang terus berkembang.

Kontributor

Akang Marta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel