Jejak Dedikasi Perempuan Multiperan dari Anjatan ( Ayu Widiyana, S.I.Pust., M.M.)
Jejak Dedikasi Perempuan Multiperan dari Anjatan
(Ayu Widiyana, S.I.Pust., M.M.)
Oleh: Yahya Anshori
Di tengah dinamika sosial yang terus bergerak, sosok perempuan yang mampu menempatkan diri dalam berbagai peran strategis menjadi cerminan perubahan zaman. Dari ruang pendidikan, organisasi, hingga pengabdian masyarakat, hadir figur yang menunjukkan bahwa kepemimpinan dan dedikasi tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang ditempa oleh pengalaman, komitmen, dan ketekunan. Salah satu representasi dari perjalanan tersebut adalah Ayu Widiyana, S.I.Pust., M.M., seorang wanita karier penuh prestasi yang berasal dari Desa Bugis, Kecamatan Anjatan.
Akar kehidupannya yang tumbuh dari lingkungan desa tidak menjadi batas bagi langkah dan cita-cita. Justru dari sanalah terbentuk karakter kuat yang menjunjung nilai kerja keras, kemandirian, dan kebermanfaatan. Pengalaman pernah menjadi Srikandi Kecamatan Anjatan menjadi penanda awal keterlibatannya dalam ruang sosial yang lebih luas. Peran tersebut bukan sekadar simbol, melainkan ruang pembelajaran tentang kepemimpinan, empati, dan keberanian mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat.
Dikenal sebagai pribadi multitalenta, Ayu Widiyana mengembangkan dirinya di berbagai bidang secara simultan. Dunia usaha, akademik, dan organisasi dijalani dengan kesungguhan yang sama. Kemampuannya mengelola beragam peran ini menunjukkan kecakapan manajerial sekaligus kedewasaan berpikir. Dalam konteks perempuan modern, hal ini menjadi bukti bahwa profesionalisme dan pengabdian sosial dapat berjalan beriringan tanpa saling meniadakan.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Indramayu merupakan refleksi dari kapasitas kepemimpinan yang telah teruji. Dalam organisasi perempuan muda Nahdlatul Ulama tersebut, peran ketua menuntut ketajaman visi, kemampuan membangun jejaring, serta kepekaan terhadap isu-isu perempuan dan sosial kemasyarakatan. Amanah tersebut dijalani sebagai bentuk tanggung jawab moral sekaligus ruang pengabdian ideologis yang berlandaskan nilai keislaman dan kebangsaan.
Di bidang akademik, perjalanan intelektual Ayu Widiyana menunjukkan konsistensi yang kuat. Statusnya sebagai Kandidat Doktor Ilmu Pendidikan di Universitas Islam Nusantara Bandung mencerminkan komitmen untuk terus mengembangkan kapasitas keilmuan. Dunia pendidikan tidak dipandang sekadar sebagai profesi, melainkan sebagai jalan panjang pembentukan peradaban. Melalui kajian dan riset, ia menempatkan pendidikan sebagai instrumen perubahan sosial yang berkelanjutan.
Selain itu, perannya sebagai dosen muda profesional di IAI Ma’arif Darul Fikri Indramayu memperlihatkan keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran generasi muda. Menjabat sebagai Kepala Program Studi Manajemen Haji dan Umroh, ia tidak hanya bertanggung jawab pada aspek administratif, tetapi juga pada pengembangan kurikulum, mutu akademik, dan pembinaan mahasiswa. Posisi tersebut menuntut keseimbangan antara keilmuan, kepemimpinan, dan keteladanan.
Komitmen terhadap pendidikan juga diwujudkan melalui kiprah sebagai Kepala PKBM Ma’arif Ar Rosyid Indramayu. Lembaga ini menyediakan Program Kejar Paket A, B, dan C sebagai bentuk pelayanan pendidikan nonformal bagi masyarakat. Berlokasi di Blok Pasar Desa Bugis, Kecamatan Anjatan, PKBM tersebut menjadi ruang harapan bagi mereka yang sebelumnya terpinggirkan dari akses pendidikan formal. Melalui peran ini, pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai privilese, tetapi sebagai hak yang harus diperjuangkan bersama.
Apa yang dilakukan Ayu Widiyana mencerminkan sinergi antara pemikiran, tindakan, dan pengabdian. Ia menempatkan dirinya bukan hanya sebagai pelaku perubahan, tetapi juga sebagai jembatan antara nilai akademik dan realitas sosial. Pendidikan, organisasi, dan masyarakat dirangkai dalam satu garis perjuangan yang saling menguatkan.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak lahir dari ambisi personal semata, melainkan dari kesadaran akan tanggung jawab sosial. Dari Desa Bugis, Kecamatan Anjatan, tumbuh sosok yang menjadikan ilmu, organisasi, dan pelayanan publik sebagai medium pengabdian. Jejak dedikasi tersebut menjadi inspirasi bahwa peran perempuan hari ini tidak lagi berada di pinggiran, melainkan di pusat perubahan yang memberi makna bagi banyak orang.
