Jejak Tradisi Apem (Cimplo) dalam Ingatan Spiritual Masyarakat Jawa (Khususnya Indramayu)
Dari Bala Menjadi Berkah
Jejak Tradisi Apem (Cimplo) dalam Ingatan Spiritual Masyarakat Jawa
Bulan Bala dan Keresahan Kolektif
Dalam khazanah penanggalan Jawa, setiap bulan tidak sekadar dimaknai sebagai penanda waktu, melainkan juga sarat dengan simbol, isyarat, dan makna spiritual. Salah satu bulan yang paling sering disebut dalam cerita-cerita lisan masyarakat adalah bulan Syafar, yang dalam tradisi lokal kerap dijuluki sebagai bulan bala. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Pada masa lalu, Syafar diyakini sebagai periode yang rawan bencana, wabah penyakit, serta berbagai peristiwa yang membawa kesedihan kolektif.
Di banyak desa, bulan ini dikenang sebagai waktu penuh kecemasan. Penyakit menular merebak, hasil panen gagal, dan berbagai musibah seolah datang bertubi-tubi. Kondisi tersebut menimbulkan keresahan yang mendalam di tengah masyarakat. Tidak sedikit warga yang merasa hidup berada dalam bayang-bayang ketidakpastian, seakan alam dan takdir sedang menguji keteguhan iman dan kebersamaan mereka.
Dalam situasi semacam itulah, masyarakat desa biasanya mencari pegangan. Mereka tidak hanya mengandalkan ikhtiar lahiriah, tetapi juga mendekatkan diri pada ikhtiar batin dan spiritual. Salah satu cara yang ditempuh adalah mendatangi tokoh agama setempat, seorang kiai yang dipandang memiliki kebijaksanaan, ketenangan, dan kedalaman ilmu.
Pertemuan dengan Sang Kiai
Dikisahkan, sekelompok warga desa mendatangi sang kiai dengan perasaan resah dan penuh harap. Mereka berkumpul di rumah atau langgar kecil tempat kiai biasa memberikan pengajian. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, mereka mengutarakan kegelisahan yang dirasakan bersama.
“Pak Kiai,” demikian kira-kira pertanyaan mereka, “bagaimana caranya agar desa kami terhindar dari wabah dan bencana?”
Pertanyaan itu bukan sekadar ungkapan ketakutan, melainkan juga bentuk kepercayaan. Di mata masyarakat, kiai bukan hanya pemuka agama, tetapi juga penuntun spiritual yang mampu membaca tanda-tanda zaman dan memberikan solusi yang menenangkan.
Sang kiai, dengan sikap tenang dan wajah penuh welas asih, tidak menjawab dengan mantra rumit atau ritual yang sulit dijalankan. Ia justru memberikan jawaban yang sederhana namun sarat nilai: sedekah makanan saja.
Makna Sedekah yang Membumi
Jawaban tersebut sempat membuat warga terdiam. Sedekah makanan terdengar sederhana, bahkan nyaris sepele jika dibandingkan dengan ancaman wabah dan bencana besar. Karena itu, mereka kembali bertanya, ingin memperoleh penjelasan yang lebih rinci.
“Sedekah makanan apa, Pak Kiai?”
Pertanyaan ini menunjukkan betapa masyarakat ingin memastikan bahwa apa yang mereka lakukan benar-benar memiliki makna dan tujuan. Sang kiai kemudian menjawab dengan kalimat yang kelak menjadi awal dari sebuah tradisi panjang: sedekah makanan apa embuh apa.
Dalam bahasa Jawa, ungkapan tersebut bermakna “apa saja, terserah apa pun yang ada.” Intinya bukan pada jenis makanan, melainkan pada niat, keikhlasan, dan semangat berbagi. Namun, dalam perjalanan waktu, ungkapan lisan ini mengalami pergeseran bunyi dan pemaknaan di telinga masyarakat.
Dari ‘Apa Embuh Apa’ ke Apem
Masyarakat desa yang mendengar nasihat tersebut kemudian menangkapnya dengan cara mereka sendiri. Ungkapan apa embuh apa terdengar samar, dan dalam dialek lisan sehari-hari, perlahan berubah menjadi apem embuh apem. Dari sinilah kata “apem” mulai melekat.
Apem, atau di beberapa daerah dikenal sebagai cimplo, adalah makanan tradisional yang sudah lama akrab dengan kehidupan masyarakat Jawa. Terbuat dari bahan sederhana seperti tepung beras, santan, dan gula, apem mencerminkan kesahajaan hidup desa. Bentuknya bulat, rasanya manis, dan proses pembuatannya relatif mudah, sehingga bisa dilakukan oleh hampir setiap keluarga.
Tanpa disadari, masyarakat kemudian menjadikan apem sebagai simbol sedekah yang dianjurkan sang kiai. Apem bukan dipilih karena kemewahan, melainkan karena kemudahannya untuk dibagi dan dimiliki bersama.
Apem sebagai Simbol Spiritual
Seiring waktu, sedekah apem tidak lagi dipahami sekadar sebagai pemberian makanan. Ia berkembang menjadi simbol permohonan ampun, keselamatan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Dalam tradisi Jawa, apem sering dikaitkan dengan kata afwan atau afwun dalam bahasa Arab, yang berarti maaf atau ampunan. Meski hubungan etimologis ini tidak selalu disepakati secara akademis, secara simbolik ia diterima luas dalam budaya masyarakat.
Dengan membagikan apem, masyarakat seolah mengungkapkan doa tanpa kata: memohon agar kesalahan diampuni, bencana dijauhkan, dan kehidupan kembali seimbang. Tradisi ini kemudian dilakukan secara kolektif, biasanya pada bulan Syafar, sebagai bentuk tolak bala dan penguat solidaritas sosial.
Ritual Sosial yang Menyatukan
Pelaksanaan sedekah apem biasanya melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kaum perempuan menyiapkan adonan dan memasak apem bersama, sementara kaum laki-laki membantu distribusi atau persiapan acara doa bersama. Anak-anak ikut meramaikan suasana, belajar secara tidak langsung tentang makna berbagi dan kebersamaan.
Apem yang telah dibuat kemudian dibagikan kepada tetangga, sanak saudara, dan siapa pun yang datang. Tidak ada batasan siapa yang boleh menerima. Dalam momen ini, sekat sosial seakan melebur. Kaya dan miskin, tua dan muda, semua berada dalam satu lingkaran kebersamaan.
Warisan Lisan yang Bertahan
Menariknya, asal-usul tradisi apem ini lebih banyak diwariskan melalui cerita lisan daripada catatan tertulis. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, kisah tentang bulan bala, nasihat kiai, dan sedekah apem terus diceritakan. Setiap daerah mungkin memiliki versi cerita yang sedikit berbeda, namun inti pesannya tetap sama: menghadapi ketidakpastian hidup dengan berbagi dan kebersamaan.
Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi ini masih bertahan di banyak tempat. Meski sebagian masyarakat kini tidak lagi memaknai bulan Syafar sebagai bulan penuh bala, sedekah apem tetap dijalankan sebagai bentuk penghormatan pada leluhur dan kearifan lokal.
Dari Tradisi ke Identitas Budaya
Apem (cimplo) akhirnya bukan hanya makanan tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya Jawa. Ia menjadi pengingat bahwa di balik kesederhanaan, terdapat nilai-nilai luhur yang mampu menjaga harmoni sosial. Tradisi ini mengajarkan bahwa solusi atas keresahan kolektif tidak selalu harus rumit, tetapi bisa berangkat dari tindakan kecil yang dilakukan bersama.
Dari cerita tentang apa embuh apa hingga lahirnya tradisi apem, masyarakat Jawa menunjukkan kemampuan luar biasa dalam merangkai makna, bahasa, dan praktik sosial menjadi satu kesatuan budaya yang hidup. Sebuah warisan yang mengajarkan bahwa di saat bala datang, berbagi dan mengingat sesama adalah jalan menuju berkah.
