Ads

Demokrasi sebagai Ujian Kedewasaan Umat

Demokrasi sebagai Ujian Kedewasaan Umat



Demokrasi Indonesia pascareformasi lahir dari harapan besar, tetapi juga membawa konsekuensi yang tidak ringan. Ia bukan sistem yang sempurna, penuh cacat dan kontradiksi, namun justru di situlah wataknya bekerja: demokrasi menguji, bukan menaklukkan. Ia menuntut kedewasaan semua aktor politik tanpa kecuali, termasuk umat Islam yang menjadi bagian penting dari sejarah dan realitas sosial Indonesia.

Dalam sistem demokrasi, umat Islam tidak berada di luar gelanggang, apalagi menjadi penonton. Mereka berada di dalam arena yang sama, berhadapan langsung dengan pluralitas pandangan, perbedaan kepentingan, serta aturan main konstitusional yang mengikat semua pihak. Demokrasi menuntut kemampuan berdialog, bernegosiasi, bahkan menerima kekalahan dengan lapang dada. Di sinilah iman tidak cukup hanya menjadi simbol, tetapi harus diterjemahkan menjadi etika publik.

Nilai-nilai pesantren menemukan relevansinya justru dalam situasi yang kompleks ini. Musyawarah mengajarkan bahwa keputusan terbaik lahir dari proses mendengar, bukan memaksakan kehendak. Adab menegaskan bahwa cara sering kali lebih penting daripada hasil. Kesabaran menjadi penyangga emosi di tengah hiruk-pikuk politik yang penuh provokasi. Etika menjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi keserakahan yang membutakan nurani.

Politik kiai, dalam makna substantif, bukanlah kiai yang sekadar terjun ke politik praktis demi jabatan. Ia adalah politik yang diberi ruh nilai-nilai kiai: kebijaksanaan, kehati-hatian, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat. Kiai hadir sebagai penuntun moral, bukan sebagai pedagang pengaruh. Ketika nilai-nilai ini dibawa ke ruang demokrasi, politik tidak lagi sekadar pertarungan angka, tetapi menjadi ikhtiar memperjuangkan kebaikan bersama.

Demokrasi Indonesia akan terus diuji oleh waktu dan dinamika. Namun selama umat Islam mampu menjadikannya ruang pembelajaran etis, bukan medan dominasi, demokrasi tidak akan menaklukkan nilai-nilai agama. Justru sebaliknya, demokrasi akan dimatangkan oleh akhlak, dan kekuasaan akan dibatasi oleh nurani. Di titik inilah demokrasi berfungsi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin kedewasaan bangsa.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel