Ketika Angka Menjadi Kesepakatan: Cahaya, Ilmu, dan Kerendahan Hati Pengetahuan
Ketika Angka Menjadi Kesepakatan: Cahaya, Ilmu, dan Kerendahan Hati Pengetahuan
Dalam imajinasi banyak orang, sains sering dipahami sebagai kumpulan kebenaran pasti yang ditemukan langsung dari alam. Angka-angka fisika dianggap sakral, hukum-hukum alam diperlakukan seolah tertulis abadi di jagat raya, dan para ilmuwan digambarkan hanya sebagai pembaca setia kitab semesta. Namun, jika ditelusuri lebih jujur, sains ternyata jauh lebih manusiawi. Ia tidak hanya menemukan, tetapi juga menyepakati; tidak sekadar mengungkap, tetapi juga membangun. Kisah tentang kecepatan cahaya adalah salah satu jendela paling terang untuk memahami sifat ini.
Kecepatan cahaya sering disebut sebagai konstanta fundamental, sesuatu yang tidak berubah dan menjadi fondasi berbagai teori fisika. Ia tampil dalam persamaan yang sangat terkenal, diposisikan sebagai batas kosmik yang tak bisa dilampaui, dan dijadikan simbol kepastian ilmiah. Dalam buku pelajaran, kecepatan cahaya hadir sebagai angka tunggal yang seolah turun langsung dari alam. Namun di balik angka itu, tersembunyi proses panjang yang penuh koreksi, perdebatan, dan kompromi epistemik.
Pada awalnya, manusia hanya bisa memperkirakan bagaimana cahaya bergerak. Perkiraan itu sangat bergantung pada alat, metode, dan asumsi yang digunakan. Ketika alat ukur berubah, hasil pengukuran pun ikut bergeser. Setiap generasi ilmuwan membawa instrumen yang lebih presisi, sekaligus membuka kemungkinan kesalahan lama. Yang menarik, perubahan angka ini tidak dianggap sebagai kegagalan sains, melainkan sebagai tanda kemajuannya. Sains tidak malu mengoreksi dirinya sendiri; justru di sanalah kekuatannya.
Namun, perubahan yang terus-menerus ini memunculkan kegelisahan lain. Jika nilai kecepatan cahaya selalu bergeser mengikuti teknologi, di mana letak kepastiannya? Bagaimana mungkin teori besar bertumpu pada sesuatu yang tampaknya tidak stabil? Dari kegelisahan inilah muncul langkah yang sangat penting dalam sejarah pengetahuan: manusia memutuskan untuk berhenti mengejar angka “alami” dan mulai menyepakati angka “konvensional”.
Kecepatan cahaya akhirnya ditetapkan sebagai nilai tetap, bukan lagi sebagai hasil pengukuran yang bisa berubah-ubah. Keputusan ini bukan berarti alam dipaksa mengikuti kehendak manusia, melainkan manusia menata sistem pengukurannya sendiri agar konsisten. Meter dan detik, sebagai satuan dasar, diselaraskan dengan kecepatan cahaya yang disepakati. Sejak saat itu, cahaya tidak lagi diukur untuk menentukan meter, tetapi meter didefinisikan melalui cahaya.
Di titik inilah terlihat jelas bahwa sains bukan hanya kegiatan menemukan, tetapi juga menyusun kesepakatan simbolik. Angka kecepatan cahaya yang sering dianggap mutlak sebenarnya berdiri di atas definisi yang dibuat manusia. Cahaya tetap bergerak sebagaimana adanya, tetapi manusia memilih cara tertentu untuk memberi makna pada gerak itu. Angka tidak melekat pada alam; angka adalah bahasa yang kita gunakan untuk berbicara tentang alam.
Kesadaran ini membawa implikasi filosofis yang dalam. Jika bahkan konstanta fundamental bergantung pada kesepakatan, maka klaim tentang kebenaran ilmiah perlu ditempatkan secara lebih rendah hati. Ini bukan berarti sains menjadi relatif tanpa pijakan, melainkan sains diakui sebagai sistem yang fungsional, bukan absolut. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang bekerja dengan baik dalam kerangka tertentu, bukan cerminan sempurna dari realitas itu sendiri.
Dengan cara pandang ini, sains terlihat lebih dekat dengan praktik manusia lainnya. Ia mirip bahasa, hukum, atau sistem sosial yang lain: dibangun untuk tujuan tertentu, disepakati bersama, dan terus disempurnakan. Ketika sistem lama tidak lagi efektif, manusia merevisinya. Bukan karena realitas berubah, tetapi karena cara kita memahaminya berkembang.
Kisah kecepatan cahaya juga mengajarkan bahwa objektivitas sains tidak identik dengan kemandirian dari manusia. Objektivitas justru lahir dari konsensus kolektif yang transparan dan dapat diuji. Ketika sebuah nilai disepakati secara terbuka dan digunakan bersama, ia menjadi stabil secara sosial, meskipun tetap bersifat konstruksi. Stabilitas ini penting agar sains bisa menjadi fondasi teknologi, komunikasi, dan kehidupan modern.
Di sisi lain, kisah ini menantang sikap saintisme yang memuja sains sebagai pemilik tunggal kebenaran. Jika angka-angka paling fundamental pun lahir dari kesepakatan, maka tidak bijak menjadikan sains sebagai alat untuk merendahkan bentuk pengetahuan lain. Sains unggul dalam presisi dan prediksi, tetapi ia tidak berdiri di luar sejarah, budaya, dan keputusan manusia.
Pemahaman ini membuka ruang dialog yang lebih sehat antara sains dan ranah pengetahuan lain. Tradisi, filsafat, dan agama tidak perlu dipaksa tunduk pada standar ilmiah yang memang tidak dirancang untuk mengukur makna, nilai, atau tujuan hidup. Sebaliknya, sains pun tidak perlu dibebani tugas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berada di luar wilayah kerjanya. Setiap sistem memiliki domain validitasnya sendiri.
Kecepatan cahaya, dalam konteks ini, bukan hanya fenomena fisika, tetapi juga simbol epistemik. Ia menunjukkan bahwa bahkan dalam sains yang paling ketat sekalipun, terdapat unsur keputusan, kesepakatan, dan kebijaksanaan kolektif. Kebenaran ilmiah tidak turun dari langit sebagai paket jadi, melainkan dirakit melalui dialog panjang antara manusia dan alam.
Pada akhirnya, kisah ini mengajak kita untuk melihat sains dengan sikap dewasa. Menghargainya tanpa memutlakannya, menggunakannya tanpa mengkultuskannya. Sains adalah alat yang sangat kuat, tetapi tetap alat. Ia membantu manusia menavigasi dunia, bukan menguasai maknanya sepenuhnya. Dengan kesadaran ini, pengetahuan tidak menjadi sumber kesombongan, melainkan sarana untuk belajar rendah hati di hadapan kompleksitas realitas.
Cahaya terus bergerak, melampaui angka dan definisi. Manusia, dengan segala keterbatasannya, berusaha menangkap jejak gerak itu melalui simbol dan kesepakatan. Dari upaya inilah lahir sains: bukan sebagai kebenaran mutlak, tetapi sebagai jembatan yang memungkinkan kita memahami dunia secukupnya untuk hidup, berkarya, dan bertanya lebih jauh.
Kontributor
Akang Marta
