Ruang Digital dan Tumbuhnya Harapan Baru
Ruang Digital dan Tumbuhnya Harapan Baru
Dalam lanskap modern, media sosial telah menjelma menjadi medium penting bagi penyebaran gagasan dan inspirasi. Popularitas seseorang hari ini tidak selalu lahir dari prestasi akademik semata, melainkan dari visibilitasnya di ruang digital. Banyak profesor berlatar santri yang luar biasa dalam keilmuan, menulis karya bermutu, dan berkontribusi besar bagi dunia akademik, tetapi nyaris tak dikenal publik karena tidak aktif di media sosial. Sebaliknya, mereka yang hadir secara konsisten di ruang digital kerap menjadi rujukan, diikuti, dan dikutip, meski kedalaman ilmunya belum tentu lebih unggul.
Namun fenomena ini seharusnya tidak dibaca semata-mata sebagai soal ketenaran personal. Intinya bukan pada siapa yang paling dikenal, melainkan bagaimana inspirasi didistribusikan. Media sosial bekerja sebagai jembatan psikologis. Ketika kisah santri yang berkiprah di tingkat global dibagikan, ia perlahan membongkar mentalitas inferior yang selama ini mengendap. Ia mengirim pesan diam-diam, tetapi kuat, kepada santri di pelosok pesantren: kamu bisa melangkah sejauh ini.
Pesan itu penting karena membuka cakrawala pilihan hidup. Santri tidak harus bermimpi menjadi politisi atau pejabat untuk dianggap berhasil. Menjadi ilmuwan, peneliti, dosen, atau intelektual publik adalah jalan yang sama mulianya. Media sosial, dalam konteks ini, berfungsi sebagai etalase kemungkinan, bukan panggung kesombongan. Ia menunjukkan bahwa ilmu dapat membawa santri ke ruang-ruang dunia tanpa harus menanggalkan identitas keislaman.
Karena itulah, setiap kali kembali ke Indonesia, pesantren kerap menjadi tujuan utama. Bukan untuk ceramah heroik atau narasi bombastis, melainkan untuk menyapa, berdialog, dan menanamkan harapan secara sederhana. Harapan bahwa menjadi muslim taat tidak bertentangan dengan hidup di Barat. Bahwa mencari makanan halal, membangun komunitas, mengaji, hingga khataman Al-Qur’an tetap dapat dijalani di negeri non-muslim.
Pada akhirnya, identitas tidak runtuh karena perbedaan geografis. Ia runtuh ketika ilmu ditinggalkan dan harapan dipadamkan. Di titik inilah media sosial menemukan makna terbaiknya: menyalakan kembali keyakinan bahwa masa depan santri terbuka dan mungkin diraih.
Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi