Ads

Kosmopolitanisme Islam dan Putaran Ilmu Dunia

Kosmopolitanisme Islam dan Putaran Ilmu Dunia



Kecurigaan terhadap studi Islam di Barat sesungguhnya berakar pada trauma sejarah yang panjang. Ada kekhawatiran bahwa belajar ke Barat identik dengan sekularisasi, relativisme nilai, bahkan pengaburan iman. Kegelisahan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi sering kali lupa bahwa sejarah Islam sendiri tumbuh dari perjumpaan lintas peradaban yang sangat kosmopolit.

Islam tidak lahir dalam ruang tertutup. Ia berkembang melalui dialog intens dengan berbagai kebudayaan. Andalusia, wilayah yang hari ini disebut Barat, pernah menjadi pusat keilmuan Islam yang memengaruhi Eropa. Ibnu Rusyd bukan hanya filsuf Islam, tetapi juga rujukan utama pemikiran Eropa abad pertengahan. Karya-karyanya dibaca di universitas-universitas Barat, bahkan ketika dunia Islam sendiri mulai melupakannya. Imam Syatibi, tokoh besar maqashid syariah, hidup dan berpikir dalam lanskap peradaban yang plural, tempat tradisi Islam, Yunani, dan Latin saling berkelindan.

Sejarah mencatat, dahulu orang-orang Barat datang belajar ke dunia Islam. Mereka menyerap ilmu kedokteran, filsafat, matematika, dan hukum dari pusat-pusat keilmuan Muslim. Kini, arus itu berbalik. Umat Islam, termasuk santri, belajar ke Barat. Fenomena ini kerap dibaca sebagai kemunduran atau bahkan pengkhianatan. Padahal, ia lebih tepat dipahami sebagai perputaran sejarah. Ilmu tidak pernah statis. Ia bergerak, berpindah, dan bercampur, mengikuti dinamika kekuasaan dan peradaban. Tidak ada satu pun peradaban besar yang hidup dalam ruang hampa.

Karena itu, belajar ke Barat tidak otomatis membuat santri kalah atau kehilangan jati diri. Justru santri yang kuat secara epistemologis akan mampu berdialog secara setara. Mereka tidak datang sebagai peniru, melainkan sebagai mitra intelektual yang membawa tradisi keilmuan sendiri. Yang berbahaya bukanlah Baratnya, tetapi ketidaksiapan intelektual dan mental inferior yang membuat ilmu ditelan tanpa disaring.

Jika sejarah dibaca dengan jernih, maka perjumpaan Islam dan Barat hari ini bukanlah pengkhianatan, melainkan pengulangan pola lama dengan konteks baru. Di sanalah martabat keilmuan diuji, dan kedewasaan peradaban ditentukan.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel