Ads

Model, Makna, dan Kerendahan Hati Pengetahuan

Model, Makna, dan Kerendahan Hati Pengetahuan




Sains sering dipersepsikan sebagai puncak pencapaian intelektual manusia, seolah ia berdiri paling dekat dengan kenyataan sebagaimana adanya. Dalam pandangan populer, hukum-hukum fisika dianggap sebagai deskripsi mutlak tentang cara alam bekerja, sementara sistem pengetahuan lain ditempatkan sebagai alternatif yang kurang sahih. Padahal, secara filosofis, sains tidak pernah mengklaim diri sebagai pencipta realitas, apalagi pemilik kebenaran absolut. Ia adalah sistem modeling: upaya manusia menyusun representasi simbolik untuk mendekati kenyataan, bukan menggantikan kenyataan itu sendiri.

Model dalam sains bekerja seperti peta. Ia membantu navigasi, memudahkan prediksi, dan menghemat tenaga berpikir. Namun, peta bukan wilayah itu sendiri. Ia menyederhanakan, memilih detail tertentu, dan mengabaikan yang lain. Hukum alam dalam fisika, misalnya, tidak menyatakan hakikat terdalam alam semesta, melainkan cara paling efektif untuk menjelaskan fenomena dalam batas tertentu. Ketika batas itu terlampaui, model akan direvisi atau diganti. Dalam konteks ini, kebenaran sains bersifat operasional, bukan ontologis.

Persoalan muncul ketika kebenaran operasional disalahpahami sebagai kebenaran mutlak. Kata “benar” sering digunakan tanpa refleksi: benar menurut kerangka apa, dan untuk tujuan apa. Secara filosofis, kebenaran selalu mengandaikan sudut pandang. Ia tidak pernah berdiri di ruang hampa. Setiap sistem pengetahuan—baik sains, agama, maupun perdukunan—memiliki kriteria kebenarannya sendiri, yang ditentukan oleh tujuan, metode, dan asumsi dasarnya.

Dalam sains modern, salah satu kriteria utama adalah falsifiability. Sebuah teori dianggap ilmiah jika ia bisa diuji dan berpotensi salah. Kekuatan teori bukan terletak pada klaim kepastiannya, melainkan pada keberaniannya menghadapi kemungkinan dibantah. Dengan demikian, sains justru dibangun di atas pengakuan ketidaksempurnaan. Ia bergerak melalui koreksi, bukan melalui dogma.

Namun, kriteria ini tidak berlaku universal. Dalam sistem perdukunan, kebenaran dinilai dari keampuhan ritual, dari dampak yang dirasakan, dari terciptanya keseimbangan atau ketenangan. Agama menilai kebenaran dari kesesuaian dengan wahyu, dari koherensi moral, dan dari kemampuan memberi arah hidup. Setiap sistem memiliki logika internal yang konsisten di dalam kosmosnya masing-masing.

Masalah muncul ketika satu sistem memaksakan kriterianya pada sistem lain. Menilai praktik pawang hujan dengan standar eksperimentasi laboratorium akan menghasilkan kesimpulan bahwa praktik tersebut keliru. Sebaliknya, menilai sains dengan kriteria metafisika akan membuatnya tampak hampa makna. Konflik semacam ini bukan soal benar atau salah secara moral, melainkan kesalahan kategoris dalam berpikir. Kita mencampuradukkan alat ukur tanpa memahami apa yang sedang diukur.

Kesalahan ini sering melahirkan sikap arogan dalam berpengetahuan. Sains, yang sejatinya rendah hati terhadap batasnya sendiri, berubah menjadi ideologi yang mengklaim otoritas tunggal. Rasionalitas tidak lagi dipahami sebagai metode, melainkan sebagai identitas. Siapa pun yang tidak berbicara dalam bahasa data dan statistik dianggap berada di luar lingkaran kewarasan. Padahal, sikap ini justru bertentangan dengan semangat ilmiah itu sendiri.

Sains beroperasi di koridor empiris. Ia mencari keteraturan, pola, dan prediksi. Ia sangat kuat dalam menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja, tetapi tidak selalu mampu menjawab mengapa sesuatu bermakna. Di sinilah wilayah agama, tradisi, dan simbol memainkan perannya. Mereka bekerja pada ranah makna, nilai, dan relasi sosial—wilayah yang tidak sepenuhnya bisa direduksi menjadi angka.

Menganggap sistem simbolik sebagai musuh sains adalah bentuk penyederhanaan realitas. Manusia tidak hidup hanya dari penjelasan kausal, tetapi juga dari makna. Ketika seseorang menghadapi penderitaan, penjelasan ilmiah tentang mekanisme biologis tidak selalu cukup untuk menopang batin. Di saat seperti itu, simbol, doa, atau ritual memiliki fungsi psikologis dan sosial yang nyata, meskipun tidak bisa diverifikasi secara empiris.

Sebaliknya, sistem simbolik juga tidak perlu memposisikan diri sebagai pengganti sains. Ia tidak dirancang untuk memprediksi gerak benda atau mengoptimalkan teknologi. Ketika masing-masing sistem memahami wilayah kerjanya, dialog menjadi mungkin tanpa rasa saling mengancam. Sains tetap menjadi alat yang sangat kuat, sementara tradisi dan agama tetap menjadi sumber makna.

Pluralitas epistemik bukan tanda kebingungan intelektual, melainkan pengakuan atas kompleksitas pengalaman manusia. Dunia tidak sesederhana satu narasi tunggal. Ada banyak cara sah untuk memahami realitas, selama kita jujur pada batas dan tujuan masing-masing. Dengan kesadaran ini, perdebatan tentang “ilmiah versus mistis” kehilangan daya provokatifnya. Ia digantikan oleh percakapan yang lebih matang tentang fungsi dan konteks.

Kerendahan hati epistemik menjadi kunci dalam sikap ini. Ia mengajarkan bahwa mengetahui sesuatu bukan berarti menguasai segalanya. Setiap pengetahuan adalah potongan, bukan keseluruhan. Dengan kerendahan hati ini, manusia tidak tergesa menghakimi, tetapi bersedia mendengar dan memahami. Ia menyadari bahwa kebenaran bukan monumen yang bisa dimiliki, melainkan horizon yang terus didekati.

Dalam kerangka ini, sains tidak kehilangan wibawanya, justru menemukannya kembali. Ia kembali menjadi metode yang terbuka, kritis, dan reflektif. Ia tidak dijadikan senjata untuk merendahkan, tetapi alat untuk memahami. Agama dan tradisi pun tidak dipaksa membuktikan diri dengan bahasa yang bukan miliknya.

Akhirnya, dunia pengetahuan tampak lebih luas dan berlapis. Ia tidak lagi terbelah secara kasar antara benar dan salah, ilmiah dan mistis. Ia menjadi ruang dialog yang dinamis, tempat berbagai sistem pengetahuan berkontribusi sesuai kapasitasnya. Dalam ruang ini, manusia belajar bahwa memahami realitas bukan soal memenangkan argumen, melainkan soal merawat kebijaksanaan.

Kontributor

Akang Marta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel