Santri dan Horizon Dunia Baru
Santri dan Horizon Dunia Baru
Kisah tentang seorang santri Indonesia yang mengajar hukum Islam di Melbourne Law School bukanlah sekadar cerita personal yang inspiratif. Ia adalah penanda zaman, simbol pergeseran besar dalam wajah Islam Indonesia. Dari ruang-ruang pesantren yang sederhana, santri kini melangkah ke panggung akademik global, membawa tradisi keilmuan Islam yang ramah, rasional, dan berakar kuat pada nilai kemanusiaan.
Perjalanan ini menandai fase baru peradaban Islam Indonesia. Santri tidak lagi ditempatkan di pinggiran wacana dunia, tetapi hadir di pusat percakapan global. Mereka tidak hanya menjadi objek kajian, melainkan subjek aktif yang berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, hukum, dan etika lintas budaya. Dalam konteks ini, dakwah tidak selalu hadir dalam bentuk mimbar dan seruan verbal, melainkan melalui keteladanan intelektual, dialog ilmiah, dan sikap terbuka terhadap perbedaan.
Keberadaan santri di ruang-ruang akademik internasional juga menjadi jawaban atas berbagai stigma yang kerap dilekatkan pada Islam. Di tengah dunia yang sensitif terhadap isu ekstremisme, santri Indonesia membawa wajah Islam yang damai dan kosmopolit. Mereka menunjukkan bahwa Islam dapat berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan jati diri, serta mampu beradaptasi dengan nilai-nilai global tanpa tercerabut dari akar tradisi.
Namun, fase ini hanya akan berlanjut jika dijaga dengan kesadaran kolektif. Radikalisme harus terus dibendung, bukan hanya melalui regulasi, tetapi juga lewat pendidikan kritis dan penguatan nalar keagamaan yang moderat. Kosmopolitanisme Islam Indonesia perlu dirawat agar tetap berpijak pada nilai kebangsaan, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Jika arah ini konsisten dijalankan, masa depan Indonesia akan tumbuh dengan kedewasaan. Islam hadir sebagai kekuatan moral yang maju, Indonesia berdiri kokoh sebagai bangsa yang inklusif, dan kemanusiaan menjadi fondasi bersama. Di titik inilah santri menemukan perannya yang sejati: bukan sekadar penonton perjalanan sejarah, melainkan penulis yang ikut menentukan arah peradaban dunia.