Ads

Antara KDM, Fans Dadakan, dan Jurus Pepesan Kosong: Situ Berani Ngoncog?

Antara KDM, Fans Dadakan, dan Jurus Pepesan Kosong: Situ Berani Ngoncog?

Oleh: Akang Marta



Eh, denger-denger ada yang lagi harap-harap cemas nungguin notifikasi WhatsApp atau kurir dateng bawa undangan dari Lembur Pakuan? Waduh, kalau beneran kejadian, siap-siap aja deh vibrasi jiwa kamu naik drastis. Tapi jujur ya, fenomena ini makin ke sini makin lucu buat dibilas pakai tawa.

Kenapa lucu? Ya coba deh lihat sekitar. Dulu, ada orang-orang yang kerjaannya cuma nyinyir, ngetik komentar pedas, sampai sengit banget kalau denger nama KDM. Eh, sekarang? Angin berputar, Bos! Begitu lihat panggungnya makin gede, kok malah kelihatan dandan rapi, pasang aksi, dan seolah-olah ngasih kode: "Kapan ya gue diundang ke sana?" Ini nih yang namanya politik "Lidah Tak Bertulang". Dulu pahit, sekarang pengen nyicip manisnya viral. Mari kita bedah bareng-bareng sambil ngopi, kenapa sih fenomena "pengen diundang" ini jadi drama komedi paling hits di medsos kita?

Sengit di Mulut, Ngarep di Hati

Pernah nggak kamu punya temen yang kalau kita beli motor baru, dia yang paling rajin bilang, "Halah, itu mah kreditnya macet nanti!"? Tapi pas kita lagi jalan-jalan, dia yang paling kenceng nanya, "Eh, nebeng dong!". Nah, itulah gambaran kaum yang sengit tapi pengen melu (ikut) diundang.

Dulu mungkin mereka paling depan kalau urusan kritik "bae" (baik tapi nusuk). Sekarang, pas ngelihat betapa ampuhnya panggung KDM buat "bersihin nama" atau sekadar nambah follower, tiba-tiba berubah jadi fans garis keras. Perubahan karakternya lebih cepet daripada bunglon ganti warna di dahan pohon!

Masalahnya, rakyat sekarang itu udah pinter. Kita semua punya memori kayak harddisk 2 Terabyte. Kita inget siapa yang dulu "koar-koar" dan siapa yang sekarang "cari muka". Kalau cuma modal pengen viral tapi nggak punya isi, ya jatuhnya cuma jadi hiburan receh di sela-sela kita scroll video kucing.

Berani Nggak Ngoncog Penguasa?

Nah, ini pertanyaan yang paling greget: "Kin sih pada wani bli ngoncoge ning penguasa sekien?" (Sekarang sih pada berani nggak ngedatengin/protes ke penguasa sekarang?).

Dulu waktu zaman perjuangan atau pas lagi di bawah, suaranya lantang banget kayak toa masjid pas hari Lebaran. Semuanya dikritik, semuanya dianggap salah. Tapi pas penguasa sudah ganti, atau pas posisinya sudah nyaman, kok suaranya mendadak jadi autotune? Halus banget, nyaris nggak kedengeran.

Ngoncog (mendatangi/melabrak) itu butuh nyali, Bro. Bukan cuma modal jempol di layar HP sambil rebahan di sofa empuk. Kalau cuma berani teriak di kolom komentar medsos mah, semua orang juga bisa. Tapi pas disuruh tatap muka, jelasin fakta, eh malah mendadak amnesia atau pura-pura sibuk benerin genteng bocor.

Inilah bedanya antara "Singa Medsos" sama "Pejuang Realita". Banyak orang yang cuma berani ribut di grup WhatsApp, bikin suasana panas, tapi pas ketemu orangnya langsung, malah minta foto bareng sambil senyum pepsodent. Duh, geli-geli sedap gimana gitu melihatnya.

Pepesan Kosong dan Ribut yang Nggak Ada Ujungnya

Pernah beli pepesan di pasar, pas dibuka isinya cuma daun sama bumbu doang, tapi ikannya nggak ada? Rasanya pengen marah tapi ya gimana, udah dibeli. Itulah yang namanya Pepesan Kosong.

Banyak keributan di medsos kita sekarang itu isinya pepesan kosong. Ribut soal siapa yang lebih hebat, siapa yang paling berjasa, atau siapa yang paling layak diundang KDM. Padahal kalau diteliti lagi, argumennya cuma muter-muter di situ aja. Nggak ada solusinya, nggak ada vibrasi positifnya, yang ada cuma bikin pusing kepala barbie.

Kenapa sih hobi banget ribut? Mungkin karena baca buku udah males (kayak yang kita bahas sebelumnya), jadi energinya dipake buat debat kusir. Padahal, daripada ribut nggak jelas, mending kita fokus ke vibrasi diri sendiri. Daripada nungguin undangan yang belum tentu dateng, mending kita bikin karya yang bikin orang lain yang malah pengen ngundang kita. Betul apa betul?

Filosofi "Anteng" vs "Koar-Koar"

Di dunia ini ada dua tipe orang. Pertama, tipe yang anteng (tenang) tapi isinya padet. Dia nggak butuh validasi orang lain, nggak butuh diundang ke sana-kemari buat ngerasa penting. Dia kerja aja, berkarya aja, nanti juga dunia yang bakal nyari dia.

Kedua, tipe yang koar-koar tapi isinya angin doang. Tipe ini biasanya yang paling berisik pas ada yang viral. Mereka pengen selalu ada di tengah sorotan, meskipun perannya cuma jadi figuran yang lewat lima detik. Tipe inilah yang biasanya paling "sengit" kalau lihat orang lain sukses, tapi paling "ngarep" bisa kecipratan suksesnya.

Jangan sampai kita jadi tipe yang kedua ya, Gaes. Hidup itu singkat, sayang banget kalau cuma dipake buat dengki sama pencapaian orang lain. Kalau emang ngefans sama KDM, ya sampaikan dengan cara yang elegan. Kalau emang pengen diundang, ya tunjukin kalau kamu punya "sesuatu" yang layak dibahas, bukan cuma modal drama atau sensasi terluk (nggak jelas).

Seni Hidup Santai Tanpa Baper

Terus gimana dong cara ngadepin situasi ini biar tetep waras? Gampang! Pakai rumus "Bodo Amat 3000".

  1. Kalau ada yang diundang: Ucapin selamat, syukur-syukur kalau ada ilmu yang bisa diambil. Jangan langsung mikir, "Ih, kok dia sih? Harusnya kan gue!". Inget, rezeki udah ada yang ngatur, bukan diatur sama algoritma Instagram doang.

  2. Kalau ada yang sengit: Senyumin aja. Anggap aja lagi nonton pertunjukan sirkus gratis. Orang yang hatinya penuh rasa sengit itu biasanya capek sendiri. Kita mah santai aja, tetep vibing dengan vibrasi tinggi.

  3. Kalau dibilang anti-kritik: Balik lagi ke bahasan kita tadi. Tutup telinga kalau kritiknya cuma sampah. Buka telinga lebar-lebar kalau kritiknya bikin kita jadi manusia yang lebih oke.

Mending Ngopi daripada Emosi

Jadi, buat kalian yang lagi nungguin momen "Delat maning diundang KDM", saran gue sih satu: Mending jangan terlalu diharapin. Kenapa? Karena sesuatu yang terlalu diharapin itu kalau nggak kejadian bakal sakitnya tuh di sini (nunjuk dada, bukan dompet).

Mendingan kita sibuk memperbaiki diri, belajar lebih banyak (meskipun males baca buku, minimal dengerin podcast yang bener), dan jaga lisan biar nggak gampang ngoncog penguasa cuma karena urusan perut atau eksistensi sesaat.

Hidup itu indah kalau kita nggak kebanyakan ribut soal hal-hal yang isinya cuma pepesan kosong. Jadi, yuk kita balik lagi ke mode santai. Scroll boleh, ngakak boleh, tapi jangan sampai kehilangan jati diri cuma gara-gara pengen viral.

Ingat kata pepatah tongkrongan: "Vibrasi yang bagus bakal narik hal yang bagus." Kalau vibrasi kamu cuma isinya nyinyiran dan pengen diundang karena haus perhatian, ya yang dateng juga cuma drama-drama nggak penting.

Gimana? Masih mau ribut atau mending kita pesen kopi bareng sambil nungguin siapa lagi yang bakal "kena" panggung viral selanjutnya? Yang penting, tetep waras, tetep happy, dan jangan lupa... kalau nanti beneran diundang, jangan lupa bawa oleh-oleh buat temen nongkrong ya!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel