Ngakak Bareng Tugu Nol Indramayu: Filosofi ‘Onol-Onol’ di Balik Sebuah Monumen
Ngakak Bareng Tugu Nol Indramayu: Filosofi ‘Onol-Onol’ di Balik Sebuah Monumen
Oleh Akang Marta
Kalau kamu pikir hanya drama Korea yang bisa bikin hati deg-degan, ketawa, dan geregetan sekaligus, berarti kamu belum kenal Tugu Nol Indramayu. Ya, tugu yang namanya resmi “Tugu Nol Kilometer” itu tiba-tiba viral dengan julukan baru: Tugu Onol-Onol.Kenapa Onol-Onol? Yah, kita semua tahu masyarakat itu kreatif. Ada yang melihat tugu itu tegak, sederhana, dan polos, terus spontan bilang: “Eh, ini mah Onol-Onol banget sih!” Kata Onol-Onol sendiri sebenernya campuran antara geli, lucu, dan sedikit gemas. Jadilah tugu yang tadinya serius mendadak jadi bahan lelucon nasional.
Drama ini mulai terasa kocak ketika foto tugu tersebar di media sosial. Orang-orang mulai men-tag teman-temannya dengan caption macam:
“Liat nih, Onol-Onol kita lagi berdiri gagah di Indramayu!”
Tidak perlu waktu lama, meme-meme bermunculan. Ada versi anime, ada versi kartun, bahkan ada yang bikin filter TikTok: siapa pun bisa jadi Onol-Onol. Tugu itu pun mendadak punya kehidupan baru—dari beton biasa jadi selebritas komedi.
Yang paling lucu, warga sendiri ikut nimbrung. Di grup WhatsApp RW sampai RT, topik tugu Onol-Onol jadi bahan diskusi hangat. Satu pihak: “Ini monumen bersejarah, jangan cuma dijadiin bahan guyonan.” Pihak lain: “Lah, serius amat, namanya juga Onol-Onol, harus ketawa donk!” Dan begitulah, debat berlangsung seperti adegan sinetron sore—penuh drama tapi tetap bikin ngakak.
Fenomena ini bisa kita lihat sebagai filosofi ala kadarnya: Onol-Onol mengajarkan kita bahwa tidak semua yang penting harus selalu serius. Kadang, hal sederhana bisa jadi hiburan, bisa bikin kita tersenyum, bahkan jadi pemersatu. Siapa sangka beton diam bisa memicu kreativitas warga, meme, challenge viral, dan obrolan santai yang kadang lebih berfaedah daripada debat politik panjang lebar?
Ngomongin filosofi Onol-Onol, tugu ini seakan bilang: “Santai aja, bro. Hidup itu kadang absurd, tapi itu wajar.” Ada yang sampe bikin analogi hidup: kita semua kadang Onol-Onol—berdiri kaku, dianggap serius, tapi sebenarnya dalam hati pengen bercanda. Ada yang bilang, “Kalau Tugu Nol bisa jadi Onol-Onol, kenapa kita nggak bisa jadi versi lucu dari diri sendiri?”
Tidak berhenti sampai di situ, Tugu Onol-Onol juga bikin ekonomi lokal ikut ikutan senyum. Pedagang di sekitar alun-alun mulai memanfaatkan tren ini. Ada yang jual kaos bertuliskan “Aku Onol-Onol Banget!”, ada yang bikin gelas kopi bertema tugu, bahkan ada yang nyediain spot foto dengan background tugu lengkap lampu LED mini. Jadi, tugu ini bukan cuma hiburan, tapi juga ladang cuan kreatif.
Selain itu, Onol-Onol mengajarkan kita tentang resiliensi. Bayangkan tugu itu, diam di tengah kota, kena hujan, panas, komentar netizen yang kadang pedas, tapi tetap tegak. Mirip manusia yang kadang dihujani masalah tapi tetap harus berdiri. Filosofi ringan tapi nyata: kadang, ketegaran itu terlihat sederhana, tapi punya makna.
Tentu saja, meme dan lelucon Onol-Onol tetap menjadi hiburan utama. Beberapa favorit netizen antara lain:
-
Tugu Onol-Onol versi “pose kerja dari rumah” – diam, tegak, dan ekspresinya datar banget.
-
Tugu Onol-Onol versi “Monday Mood” – siapa pun yang lihat langsung nyengir karena ingat betapa kaku tapi lucunya hidup Senin.
-
Tugu Onol-Onol versi anime – complete dengan efek kilau mata, seolah tugu ini protagonis penuh rahasia.
Dan nggak cuma itu, ada juga challenge kreatif: Onol-Onol Challenge. Caranya sederhana: tiru pose tugu se-kaku dan se-serius mungkin, tapi dengan ekspresi wajah lucu. Hasilnya? Foto dan video kocak yang bikin timeline medsos meledak. Tugu yang tadinya simbol resmi kota, kini jadi aktor komedi nasional.
Dari semua ini, bisa kita tarik pelajaran lain. Onol-Onol mengajarkan tentang fleksibilitas. Satu benda, satu simbol, bisa memiliki banyak makna tergantung perspektif. Bagi sebagian orang, tugu itu serius, simbol kehormatan. Bagi sebagian lain, tugu itu lucu, bahan meme. Dan semua perspektif itu valid. Filosofi ringan ala Indramayu: jangan menilai sesuatu hanya dari satu sisi, karena dunia itu terlalu kaya untuk sekadar serius.
Bahkan ada sisi romantis dari Onol-Onol. Pasangan muda kerap menjadikan tugu ini sebagai spot prewedding. Ada yang bilang: “Kalau tugu bisa berdiri kokoh dan lucu sekaligus, kenapa kita nggak bisa menghadapi hidup dengan cara yang sama?” Jadi, tugu ini ternyata bisa jadi metafora cinta: ada ketegaran, ada kelucuan, ada cerita untuk dikenang.
Dan jangan lupakan sisi viral nasional. Media sosial menyoroti Onol-Onol bukan cuma karena bentuknya, tapi juga karena namanya yang nyeleneh. Terkadang nama bisa jadi magnet perhatian. Dari Tugu Nol Kilometer biasa, menjadi Onol-Onol yang dikenal di timeline semua orang. Filosofi singkatnya: jangan meremehkan kekuatan nama—bisa bikin kamu terkenal tanpa perlu usaha ribet.
Fenomena ini juga mengajarkan soal kreativitas warga. Meme, filter, challenge, kaos, gelas kopi, prewedding photoshoot—semua lahir dari satu tugu sederhana. Bayangkan, dari beton polos menjadi simbol hiburan, inspirasi, dan peluang usaha. Filosofi ringan tapi kocak: kalau hidup memberi beton, buatlah Onol-Onol.
Tentu saja, drama Onol-Onol tidak selalu mulus. Ada komentar negatif, ada yang merasa tugu harus dijaga keseriusannya. Tapi justru di sinilah keindahan ceritanya: perbedaan opini, interaksi warga, debat lucu di media sosial, semuanya membuat tugu ini hidup. Filosofi ringan lain: keberagaman opini membuat hidup lebih berwarna.
Pada akhirnya, Tugu Onol-Onol mengajarkan kita tiga hal sederhana tapi berarti:
-
Tertawalah pada hal kecil – humor sederhana bisa jadi perekat sosial.
-
Tetap tegak meski dihujani kritik – resiliensi itu sederhana, tapi berarti.
-
Lihat dunia dari berbagai perspektif – satu simbol, bisa punya banyak makna.
Jadi, kalau suatu hari kamu berkunjung ke Indramayu, jangan cuma lewat. Singgahlah, berdirilah di samping Tugu Onol-Onol, ambil pose kaku tapi lucu, dan rasakan filosofi ringan ala beton yang bisa bikin senyum dan ngakak sekaligus.
Siapa sangka, dari tugu polos, nama unik, dan sedikit humor, lahirlah simbol yang tidak hanya mewakili Indramayu, tapi juga kreativitas, filosofi ringan, dan hiburan nasional. Di dunia yang kadang terlalu serius, Onol-Onol mengingatkan kita: kadang, yang paling penting adalah mampu berdiri dengan tegak, sambil tetap bisa ketawa.
Dan begitu, Tugu Nol Indramayu resmi menjadi Tugu Onol-Onol—simbol kehormatan, meme, filosofi, dan hiburan sekaligus. Kalau drama Korea bisa bikin kita mewek, Onol-Onol bikin kita ngakak sambil mikir: hidup itu kadang kaku, kadang absurd, tapi selalu bisa ditertawakan.
