Ads

Drama ‘Tugu Nol’ Indramayu: Dari Simbol Kehormatan ke Meme Nasional!

 Drama ‘Tugu Nol’ Indramayu: Dari Simbol Kehormatan ke Meme Nasional!

Oleh Akang Marta

Kalau kamu pikir drama Korea itu selalu soal cinta segitiga, anak konglomerat, dan soundtrack sedih yang bikin air mata meleleh, tunggu dulu. Indramayu punya versi dramanya sendiri, dan tokohnya bukan artis K-pop, tapi Tugu Nol Kilometer! Ya, tugu kecil yang katanya jadi simbol kehormatan kota ini. Tapi jangan salah, sejak dibangun, tugu ini sudah bikin netizen dan warga lokal berebut scroll dan ketawa sekaligus gemas.

Mari kita mulai dari awal: tugu ini berdiri megah (atau setidaknya cukup tegak) di pusat kota. Tujuannya jelas: menunjukkan bahwa Indramayu punya identitas. Tapi siapa sangka, “identitas” itu bisa memicu debat lebih panas daripada sinetron sore. Ada yang bilang, tugu ini simbol kebanggaan, ada juga yang bilang, “Eh, ini cuma tongkat beton doang, apa pentingnya sih?”

Drama dimulai ketika foto-foto tugu ini beredar di media sosial. Netizen pun beraksi. Ada yang bikin meme, ada yang bikin komik mini, bahkan ada yang sampe bikin filter Instagram: “Coba posisimu seperti Tugu Nol” – ya, ini semacam latihan keseimbangan dengan ekspresi serius ala model fashion, tapi di pinggir jalan.

Nah, yang bikin orang benar-benar geregetan adalah desainnya. Beberapa warga bilang, “Ini tugu atau tiang listrik yang belum dicat?” Ada juga komentar satir: “Kalau ini tugu, berarti aku juga tugu, soalnya sama-sama diam nggak jelas di tengah keramaian.” Sementara sebagian lainnya membela dengan penuh semangat, seolah sedang audisi debat di K-drama: “Ini bukan cuma beton, ini sejarah kita!”

Dan, seperti di drama K-drama, kita nggak bisa lepas dari subplot politik. Ada yang bilang pembangunan tugu ini mubazir, tapi ada juga yang bilang: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi kita punya simbol keren?” Pertemuan-pertemuan resmi pun digelar, tapi entah kenapa, setiap pertemuan selalu terasa seperti episode cliffhanger: banyak yang ngomong, banyak yang saling tunjuk jari, tapi hasil akhirnya? Tetap sama—tugu itu tetap berdiri, diam, tapi penuh arti bagi sebagian orang.

Yang bikin semakin lucu adalah komentar di media sosial. Bayangkan ini: netizen bikin #TuguNolChallenge. Konsepnya sederhana: siapa yang bisa menirukan pose tugu paling kaku, paling serius, atau paling dramatis, dialah pemenangnya. Dalam sekejap, tugu itu berubah dari simbol kehormatan menjadi alat hiburan nasional. Meme-meme pun bermunculan: ada yang kasih caption “Ketika kamu sadar hari Senin lagi”, ada yang bikin versi anime, bahkan ada yang bikin Tugu Nol jadi karakter dalam game RPG.

Dan jangan lupakan yang paling dramatis: pertengkaran antar-warga di grup WhatsApp. Satu pihak bilang, “Kita harus rawat tugu ini, jangan dikomentarin sembarangan!” Pihak lain balas, “Kalau cuma beton, ya mari kita tertawakan saja!” Nah, di sini lah Indramayu tampil seperti adegan drama keluarga Korea: penuh emosi, tapi tetap menghibur.

Cerita tugu ini juga nggak lepas dari angle komersial. Beberapa pedagang mulai memanfaatkan tren tugu sebagai spot foto. Ada yang jualan es krim sambil nyolek-nyolek tugu, ada yang jualan kaos dengan tulisan “I Survived Tugu Nol”. Jadi, dari kontroversi muncul peluang ekonomi. Ini mirip banget sama plot twist di K-drama: yang awalnya masalah, berakhir jadi ladang cuan.

Tapi tentu saja, drama Tugu Nol nggak hanya soal meme dan kaos. Ada juga warga yang serius menekuni nilai sejarah. Mereka membuat tur sejarah mini, bercerita tentang alasan dibangunnya tugu, dan kenapa tugu ini penting sebagai pengingat perjalanan Indramayu. Kalau diperhatikan, ini semacam subplot edukasi ala K-drama: karakter yang tampak konyol di awal, ternyata punya sisi mendalam yang bikin penonton tersentuh.

Yang paling lucu dari semua ini adalah fenomena netizen kreatif. Ada yang bikin tugu versi cosplay. Ada yang bikin stop motion, Tugu Nol berjalan-jalan di alun-alun. Bahkan ada yang bikin versi TikTok dengan lagu viral: tugu itu seakan menari mengikuti beat. Seketika, tugu yang tadinya “diam dan serius” jadi selebritas lokal.

Dan seperti halnya drama K-drama yang nggak lengkap tanpa adegan “ketegangan romantis”, Tugu Nol pun punya kisah “romansa” tersendiri: romansa dengan perhatian publik. Banyak yang mulai peduli, sebagian yang lain mulai mencintai tugu dengan cara unik. Misalnya, pasangan muda datang untuk foto prewedding di depan tugu, menandai momen penting hidup mereka di samping beton tegak yang tiba-tiba punya makna emosional.

Namun, tidak semua endingnya manis. Drama Tugu Nol tetap kontroversial. Setiap pertemuan warga atau postingan viral selalu memunculkan pro dan kontra. Tapi justru di sinilah keindahan ceritanya: semua orang punya opini, semua orang bisa ikut “main peran” dalam drama ini. Tugu Nol menjadi panggung, dan warga Indramayu, netizen nasional, semuanya aktor dan penonton sekaligus.

Kalau ditarik kesimpulan, Tugu Nol bukan sekadar beton di tengah kota. Ia adalah simbol: simbol humor, simbol perdebatan, simbol kreativitas warga, dan simbol kemampuan kita untuk melihat sesuatu serius tapi tetap bisa ditertawakan. Di satu sisi, tugu ini memicu diskusi soal estetika, fungsi, dan sejarah. Di sisi lain, tugu ini memberikan hiburan yang kadang lebih efektif daripada sinetron sore di TV.

Drama ‘Tugu Nol’ Indramayu ini pun punya lesson learned tersendiri. Pertama, jangan meremehkan beton karena bisa jadi selebritas. Kedua, humor bisa jadi jembatan dalam perdebatan; dengan meme dan tantangan viral, orang bisa mengekspresikan opini tanpa bikin gaduh. Ketiga, sejarah tetap penting, tapi cara penyampaiannya bisa dikemas seru dan kreatif.

Jadi, kalau kamu suatu hari jalan-jalan ke Indramayu, jangan cuma selfie di alun-alun. Kunjungilah Tugu Nol. Perhatikan diamnya tugu itu, dengarkan drama di sekelilingnya, dan mungkin, dengan sedikit imajinasi ala K-drama, kamu bisa merasakan getaran kontroversi sekaligus tawa yang sudah mengudara sejak tugu itu dibangun. Dan siapa tahu, kamu bisa bikin meme sendiri yang bakal viral.

Akhir kata, Tugu Nol Indramayu adalah bukti nyata: kalau drama Korea bisa bikin kita terbawa perasaan di layar kaca, drama beton lokal pun bisa bikin kita tertawa, debat, dan akhirnya, merasa bangga punya sesuatu yang unik di kota sendiri. Siapa sangka, beton diam bisa menjadi bintang? Di Indramayu, semua mungkin.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel