Ketika Santri Menembus Dunia dan Ilmu Menjadi Dakwah
Ketika Santri Menembus Dunia dan Ilmu Menjadi Dakwah
Perjalanan seorang santri tidak selalu berujung di mimbar pesantren, ruang bahtsul masail, atau podium ceramah. Pada sebagian orang, jalan hidup itu justru membentang jauh melampaui batas geografis dan imajinasi sosial yang selama puluhan tahun membatasi peran santri. Ketika seorang santri Indonesia mengajar hukum Islam di Melbourne Law School—fakultas hukum terbaik nomor satu di Australia dan sepuluh besar dunia—yang sedang berlangsung bukan sekadar capaian personal, melainkan sebuah babak penting dalam sejarah mobilitas intelektual umat Islam Indonesia.
Untuk pertama kalinya, mata kuliah Islamic Law hadir secara resmi di ruang akademik tersebut. Ia tidak ditempatkan sebagai eksotisme Timur, bukan pula sebagai studi pinggiran yang hanya dikaji karena rasa ingin tahu budaya. Hukum Islam hadir sebagai bagian sah dari perdebatan hukum global, duduk sejajar dengan tradisi hukum lain yang telah mapan. Ini menandai perubahan posisi: dari objek kajian menjadi subjek diskursus.
Bagi sang pengajar, apa yang dilakukan di ruang kelas itu adalah dakwah. Namun bukan dakwah mimbar, bukan pula ceramah di majelis taklim. Ia adalah dakwah melalui argumen, metodologi, dan kedalaman ilmu. Dakwah yang tidak meminta keimanan, tetapi mengundang pengujian. Dakwah yang justru hidup karena kritik paling tajam, pertanyaan paling mendasar, dan debat paling terbuka.
Mahasiswa di Melbourne tidak mencari legitimasi moral atau pembenaran teologis. Mereka mencari koherensi logika. Mereka tidak puas dengan dalil normatif yang berdiri sendiri, tetapi menuntut penjelasan metodologis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Mengapa satu pendapat diambil dan yang lain ditinggalkan? Bagaimana konflik norma diselesaikan? Apa dasar rasional di balik maqashid syariah?
Justru di ruang seperti itulah hukum Islam diuji sekaligus dimuliakan. Ia tidak dihargai karena klaim kesuciannya, melainkan karena daya tahan rasionalitasnya. Dalam demokrasi ilmu pengetahuan yang menguji semua gagasan tanpa kecuali, santri Indonesia hadir bukan sebagai pembela dogma, tetapi sebagai pengelola tradisi berpikir. Di sanalah terlihat bahwa santri global bukan kehilangan identitasnya, melainkan menemukan bentuk paling dewasa dari dakwah: dakwah ilmu yang tahan diuji dan terbuka pada dialog.
Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi