Ads

Sejelek Apapun Kalimat, Kalau Ada Kebakaran… Keluar Saja!

 Sejelek Apapun Kalimat, Kalau Ada Kebakaran… Keluar Saja!

Oleh Akang Marta



Bro, gue serius nih. Kadang hidup itu simpel, tapi kita bikin ribet sendiri. Contohnya: kebakaran. Api berkobar, sirine meraung, orang panik… tapi kita malah sibuk mikirin intonasi kalimat orang yang kasih tahu. “Eh bro, api di belakang rumah lo tuh… tapi ngomongnya jelek banget.” Bro, serius? Jangan pedulikan intonasi kata-kata orang, keluar aja!

Gue paham sih, kadang orang ngomong pake nada drama berlebihan atau parahnya datar kayak robot, kita jadi mikir, “Ah, kayaknya nggak serius deh, dia cuma bercanda.” Padahal, bro, api nggak peduli. Api nggak nunggu komentar kita soal nada bicara. Api cuma nyebar. Jadi prinsip pertama: sejelek apapun kalimat orang, kalau ada kebakaran, keluar!

Lucunya, bro, ini berlaku juga di kehidupan modern digital. Misal, orang kasih info penting soal kejadian di medsos—entah itu viral, polimex, Upi, Onol, Ono—kita kadang lebih sibuk ngecek: “Ah, intonasi dia gimana ya, serius nggak sih?” Padahal yang penting itu pesan inti, bukan cara penyampaiannya.

Sama halnya dengan kebakaran nyata. Orang bisa bilang: “Bro, ada api kecil di pojok rumah!” tapi ngomongnya datar kayak baca berita cuaca. Jangan bingung, bro. Pesan penting = ada bahaya, harus keluar. Nada? Abaikan. Ekspresi wajah? Lupakan. Yang penting nyawa aman dulu.

Dan ini bukan cuma soal literal kebakaran. Ini filosofi hidup juga. Kadang orang kasih info, kritik, nasihat, atau bahkan gosip penting, tapi cara penyampaiannya nyeleneh, bikin kita males dengar. Misal: “Eh bro, Upi Onol Ono lagi ribut polimex!” Terus kita mikir: “Ah, ngomongnya aneh, nggak jelas.” Eh, kalau kita cuek, bisa rugi sendiri. Makanya, prinsip kedua: ambil inti pesannya, buang dramanya.

Lucunya, banyak orang malah nungguin drama lebih dulu sebelum bertindak. “Duh, dia ngomongnya kayak nonton sinetron, bener nggak ya?” Bro, api nggak nunggu kita validasi drama. Api cuma membesar. Hidup itu kadang sama: jangan tunggu orang menyampaikan dengan sempurna, langsung tangkap inti dan lakukan aksi.

Selain itu, humor ringan itu penting. Bayangin: ada orang teriak, “Kebakaran, bro!” tapi nada datar, wajah polos kayak robot. Kita bisa ngakak sebentar sambil mikir: “Wuih, dramatis banget dia, tapi beneran kebakaran!” Humor ala tongkrongan ini bikin kita nggak panik berlebihan, tapi tetap aware.

Dan bro, jangan lupa soal self-deprecating humor. Kadang kita suka overthinking: “Ah, gue pasti salah tanggap, jangan-jangan api nggak sebesar itu.” Nah, ketawa sama diri sendiri itu bikin otak tetap waras. Jangan biarkan stres dari nada bicara orang atau dramatisasi jadi penghalang aksi.

Sekarang, mari kita tarik pelajaran:

  1. Ambil inti, abaikan dramanya.
    Entah itu info kebakaran nyata atau gosip polimex Upi Onol Ono. Yang penting adalah apa yang harus kita lakukan, bukan bagaimana orang menyampaikan.

  2. Tindakan lebih penting daripada komentar.
    Daripada mikirin nada bicara, lebih baik langsung keluar, evakuasi, atau amankan diri. Dalam kehidupan sosial, tindakan juga lebih penting daripada cuma nge-scroll atau debat intonasi.

  3. Jangan menunda karena overthinking.
    Banyak orang jadi korban karena terlalu ribet mikirin cara orang ngomong. Kalau ada api, jangan tanya nada, keluar. Kalau ada info penting, jangan tanya gaya penyampaian, tangkap intinya.

  4. Gunakan humor sebagai pereda stres.
    Nada aneh, ekspresi absurd, komentar random—anggap aja sebagai komedi tambahan. Otak tetap waras, hati santai, tapi tetap tanggap situasi.

Lucunya, prinsip ini bisa diterapin ke semua aspek kehidupan. Misal, di kantor, ada info penting soal deadline, tapi dikasih dengan cara absurd: “Bro, project ini harus selesai… tapi gue bilang santai aja ya.” Jangan ribet mikirin nada santainya. Ambil aksi: kerjain project.

Di media sosial pun sama. Orang kasih info, update, gosip, drama viral—kadang intonasi ngawur, gaya nyeleneh—tapi pesan inti bisa berguna. Kita jangan cuma jadi penonton. Ambil yang penting, buang yang bikin bingung, lanjut hidup.

Dan ini yang bikin gaya hidup santai ala tongkrongan. Kita bisa ngakak sama absurdnya nada bicara, ekspresi, atau meme, tapi tetap aware, tetap tanggap. Vibrasi jiwa tetap naik karena kita bisa filter drama, ambil inti, dan enjoy hidup.

Selain itu, prinsip “sejelek apapun kalimat… keluar saja” itu ngajarin kita soal prioritas. Nyawa lebih penting daripada intonasi. Kesehatan mental lebih penting daripada opini absurd. Aksi lebih penting daripada komentar panjang lebar. Kalau kita bisa nangkep prinsip ini, hidup bakal lebih santai, lucu, tapi tetap efektif.

Bayangin lagi, bro: ada kebakaran nyata di gedung dekat rumah, orang teriak datar, kita ketawa sebentar, tapi langsung keluar. Atau di medsos, ada info polimex Upi Onol Ono lagi viral, cara penyampaian absurd, kita ketawa, tapi tetap baca intinya, ambil pelajaran, lanjut scroll. Itu seni hidup modern, bro.

Kesimpulannya:

  • Sejelek apapun kalimat orang, kalau ada bahaya, ambil tindakan.

  • Abaikan nada, ekspresi, atau gaya penyampaian.

  • Humor ringan bikin otak waras, tapi tetap aware.

  • Ambil inti, buang dramanya.

  • Vibrasi jiwa tetap terjaga kalau kita bisa filter informasi dan tetap tanggap.

Jadi bro, prinsip hidup ala tongkrongan modern: kalau ada api, keluar. Kalau ada info penting, ambil intinya. Kalau nada orang absurd, ketawa aja. Tapi tetap waras, tetap tanggap, dan tetap enjoy hidup.

Karena, bro, kadang yang bikin selamat dan tetap waras bukan cuma aksi, tapi sikap santai tapi aware. Jangan ribet mikirin nada orang, tapi jangan cuek sama inti pesan. Itu seni hidup di dunia nyata maupun digital.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel