Media Sosial Bukan Tempat Meminta: Catatan tentang Etika Digital dan Kemandirian
Media Sosial Bukan Tempat Meminta: Catatan tentang Etika Digital dan Kemandirian
Oleh Akang Marta
Dalam beberapa waktu terakhir, jagat media sosial diramaikan oleh tren konten yang sering disebut sebagai ciduk-ciduk followers. Sebuah fenomena yang, bagi sebagian orang, dianggap sebagai bentuk kepedulian sosial, solidaritas digital, atau bahkan strategi memperluas jejaring. Namun bagi saya pribadi, tren ini justru membuat saya mengambil jarak. Sejak tren tersebut marak, saya memilih untuk tidak lagi membuka pesan di chat messenger. Bukan karena saya anti tren, apalagi tidak mau terlibat dalam arus yang sedang populer, melainkan karena ada prinsip yang sejak awal saya pegang dan tidak ingin saya khianati hanya demi mengikuti keramaian.
Saya percaya bahwa kebaikan seharusnya dimulai dari yang paling dekat. Keluarga, sahabat, tetangga, dan orang-orang yang secara nyata hadir dalam kehidupan kita sehari-hari sering kali justru terlewatkan karena perhatian kita tersedot pada dunia yang lebih jauh, lebih luas, dan lebih ramai di layar gawai. Padahal, membantu orang terdekat bukan hanya soal materi, melainkan juga soal empati, kehadiran, dan kepedulian yang nyata. Dari sanalah nilai kemanusiaan dibangun secara kokoh, bukan dari sekadar respons cepat di kolom komentar atau direct message.
Selama ini, saya selalu berusaha mengedukasi para pengikut saya agar menggunakan media sosial secara lebih bermakna. Media sosial, menurut saya, bukan ruang untuk mengemis simpati, apalagi menjual kisah pilu yang kebenarannya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Media sosial adalah alat. Dan seperti alat lainnya, ia bisa digunakan untuk kebaikan atau justru membawa pada kebiasaan yang kurang sehat. Saya lebih memilih mendorong orang-orang untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana memperoleh tambahan penghasilan, membangun keterampilan, mengembangkan kreativitas, dan memperluas wawasan. Bukan menjadikannya tempat bergantung pada belas kasihan orang lain.
Saya sering menyampaikan bahwa meminta-minta, meskipun dibungkus dengan narasi menyentuh, bukanlah solusi jangka panjang. Ada perbedaan besar antara membutuhkan bantuan dalam kondisi darurat dan menjadikan permintaan sebagai pola. Ketika seseorang terus-menerus berada pada posisi meminta, tanpa upaya untuk bangkit dan mandiri, maka di situlah martabat perlahan tergerus. Saya tidak ingin ikut mendorong pola seperti itu, meskipun mungkin secara kasat mata terlihat sebagai tindakan mulia.
Namun, penting untuk saya tegaskan bahwa saya tidak pernah melarang siapa pun yang ingin mengikuti tren ciduk-ciduk tersebut. Setiap orang memiliki kemampuan, kapasitas, dan pertimbangan masing-masing. Jika ada yang merasa mampu dan dengan penuh kesadaran ingin membantu, itu adalah hak dan pilihan mereka. Kebaikan tidak memiliki satu wajah. Ia hadir dalam banyak bentuk dan cara. Saya menghormati itu sepenuhnya. Prinsip saya bukan untuk menghakimi, melainkan menjaga konsistensi nilai yang saya yakini.
Saya sendiri termasuk orang yang senang memberi. Memberi adalah sesuatu yang membahagiakan, apalagi jika dilakukan dengan hati yang lapang. Namun saya tidak menyukai dimintai, terutama jika permintaan itu disertai tekanan emosional, narasi yang manipulatif, atau tuntutan seolah-olah memberi adalah kewajiban. Memberi, bagi saya, harus lahir dari keikhlasan. Dan keikhlasan tidak bisa tumbuh jika diawali dengan paksaan, rasa bersalah, atau takut dicap tidak peduli.
Dalam konteks inilah, nilai keikhlasan karena Allah menjadi sangat penting. Ketika memberi dilakukan semata-mata untuk mencari ridha-Nya, maka tidak ada ruang untuk pamer, validasi sosial, atau pengakuan publik. Sebaliknya, jika memberi lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan sosial dan tren, maka esensinya berisiko bergeser. Kebaikan berubah menjadi performa, dan empati menjadi konten. Ini yang sejak awal saya coba hindari.
Setelah saya mengunggah konten yang menyampaikan sikap dan pandangan ini, saya sepenuhnya menyerahkan penilaian kepada masing-masing orang. Saya sadar bahwa di ruang publik, terutama media sosial, setiap pernyataan akan melahirkan beragam tafsir. Ada yang memahami, ada yang setuju, ada pula yang mungkin merasa tersinggung atau tidak sejalan. Semua itu adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Saya menerimanya dengan lapang dada.
Yang terpenting bagi saya adalah kesadaran bahwa setiap individu memiliki prinsip hidupnya sendiri. Prinsip itu lahir dari pengalaman, nilai, keyakinan, dan proses panjang yang tidak selalu bisa dijelaskan dalam satu atau dua unggahan. Oleh karena itu, prinsip tidak seharusnya dipaksakan agar sesuai dengan keinginan orang lain. Apa yang benar bagi satu orang belum tentu tepat bagi yang lain. Menghargai perbedaan sikap adalah bagian dari kedewasaan sosial.
Di tengah derasnya arus opini dan standar moral instan di media sosial, menjaga prinsip justru menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang seseorang dipaksa untuk mengikuti arus demi dianggap “baik”, “peduli”, atau “berhati mulia”. Padahal, kebaikan sejati sering kali sunyi, tidak terdokumentasi, dan tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia terjadi dalam ruang-ruang kecil yang tidak viral, tetapi berdampak nyata.
Saya tidak mengklaim diri sebagai orang yang paling benar atau paling bijak. Saya hanya berusaha jujur pada diri sendiri dan konsisten dengan nilai yang saya yakini. Jika suatu hari prinsip ini berubah, biarlah itu terjadi karena kesadaran dan pembelajaran, bukan karena tekanan atau tuntutan publik. Media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan, sementara integritas adalah bekal jangka panjang.
Pada akhirnya, saya ingin menegaskan satu hal: kebaikan tidak boleh kehilangan ruh keikhlasan. Entah itu memberi secara diam-diam, membantu orang terdekat, mengedukasi agar mandiri, atau memilih untuk tidak terlibat dalam tren tertentu semuanya sah selama dilandasi niat yang lurus. Biarlah setiap orang berjalan dengan prinsipnya masing-masing, tanpa saling memaksa, tanpa saling merendahkan.
Itu saja sikap saya. Selebihnya, silakan kalian menilai dengan sudut pandang masing-masing. Saya percaya, pada waktunya, ketulusan akan menemukan jalannya sendiri. Oke.
