Ads

Dari Mengawasi ke Menumbuhkan: Supervisi Akademik yang Memanusiakan Guru

 

Dari Mengawasi ke Menumbuhkan: Supervisi Akademik yang Memanusiakan Guru

Ditulis oleh: Akang Marta


Selama bertahun-tahun, kata supervisi di telinga guru sering terdengar sebagai ancaman yang halus. Ia identik dengan inspeksi mendadak, pemeriksaan dokumen, dan daftar temuan yang membuat ruang kelas terasa seperti ruang sidang. Dalam praktiknya, supervisi akademik kerap dipahami sebagai kegiatan mencari kekurangan, bukan proses menumbuhkan kualitas pembelajaran.

Model lama supervisi bertumpu pada administrasi. Pengawas dan kepala sekolah datang dengan instrumen, memeriksa RPP, mencocokkan format, lalu menilai kepatuhan guru terhadap standar tertulis. Relasi yang terbangun bersifat hierarkis dan satu arah. Guru menjadi objek penilaian, bukan subjek pembelajaran profesional.

Perubahan kebijakan supervisi akademik model baru mencoba membongkar cara pandang tersebut. Supervisi tidak lagi ditempatkan sebagai inspeksi administratif, melainkan sebagai proses coaching yang dialogis dan reflektif. Fokusnya bergeser dari kelengkapan dokumen ke kualitas praktik pembelajaran di kelas.

Dalam pendekatan coaching, pengawas dan kepala sekolah hadir sebagai mitra belajar. Mereka tidak datang membawa vonis, tetapi membawa pertanyaan. Mereka tidak mencari kesalahan, tetapi membantu guru menemukan potensi dan solusi. Supervisi berubah menjadi ruang aman untuk bertumbuh, bukan ruang ketakutan untuk dinilai.

Coaching dalam supervisi akademik menempatkan guru sebagai profesional yang memiliki kapasitas berpikir dan refleksi. Guru diajak menganalisis praktiknya sendiri, mengenali kekuatan, serta merumuskan langkah perbaikan yang realistis. Dengan cara ini, perubahan tidak dipaksakan dari luar, melainkan tumbuh dari kesadaran internal.

Model supervisi ini sejalan dengan paradigma Merdeka Belajar. Guru diberi kepercayaan untuk mengelola pembelajaran, sementara pengawas dan kepala sekolah berperan sebagai fasilitator peningkatan mutu. Hubungan yang terbangun bukan atasan dan bawahan, tetapi kolega dalam satu tujuan pendidikan.

Dalam praktik coaching, percakapan menjadi inti supervisi. Pengawas atau kepala sekolah mengamati pembelajaran, lalu mengajak guru berdialog secara reflektif. Pertanyaan seperti “Apa yang menurut Bapak/Ibu sudah berjalan baik?” atau “Bagian mana yang ingin diperbaiki?” menjadi pintu masuk utama. Dari sini, supervisi berubah menjadi proses belajar bersama.

Pendekatan ini juga menggeser indikator keberhasilan supervisi. Keberhasilan tidak lagi diukur dari jumlah temuan atau skor instrumen, melainkan dari perubahan praktik pembelajaran. Apakah guru menjadi lebih sadar akan proses mengajarnya. Apakah siswa menjadi lebih terlibat. Apakah suasana kelas menjadi lebih hidup dan bermakna.

Bagi guru, supervisi berbasis coaching menghadirkan pengalaman yang berbeda. Mereka merasa didengar, dihargai, dan dipercaya. Rasa defensif perlahan berganti dengan keterbukaan. Guru berani bercerita tentang kesulitan, karena tahu bahwa supervisi bukan forum penghukuman.

Namun, perubahan model supervisi ini menuntut kesiapan dari pengawas dan kepala sekolah. Coaching bukan sekadar mengganti istilah, tetapi membutuhkan keterampilan khusus. Mendengar aktif, mengajukan pertanyaan reflektif, dan menahan diri untuk tidak langsung menghakimi adalah kompetensi yang harus dilatih.

Jika tidak dipahami dengan benar, coaching bisa terjebak menjadi supervisi administratif dengan bahasa yang lebih halus. Oleh karena itu, pelatihan dan pendampingan bagi pengawas dan kepala sekolah menjadi sangat penting. Supervisi berbasis coaching adalah seni memimpin pembelajaran, bukan sekadar menjalankan prosedur.

Supervisi model baru juga menuntut perubahan budaya sekolah. Sekolah harus menjadi komunitas belajar, bukan sekadar organisasi birokratis. Guru saling berbagi praktik baik, berdiskusi tentang tantangan, dan belajar dari pengalaman masing-masing. Supervisi menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran profesional yang berkelanjutan.

Dari sisi peserta didik, dampak supervisi berbasis coaching terasa secara tidak langsung namun nyata. Guru yang merasa aman dan didukung akan lebih berani bereksperimen dengan strategi pembelajaran. Mereka tidak takut gagal, karena kegagalan dipandang sebagai bagian dari proses belajar. Kelas pun menjadi ruang eksplorasi, bukan ruang ketakutan.

Supervisi akademik model baru juga menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak bisa dibangun dengan kontrol berlebihan. Kontrol yang kaku justru mematikan kreativitas. Sebaliknya, kepercayaan yang disertai pendampingan akan melahirkan tanggung jawab profesional yang lebih kuat.

Dalam konteks ini, peran kepala sekolah menjadi sangat strategis. Kepala sekolah bukan lagi sekadar manajer administrasi, tetapi pemimpin pembelajaran. Ia hadir di kelas, berdialog dengan guru, dan menjadi contoh praktik reflektif. Kepemimpinannya diukur dari kemampuan menumbuhkan orang lain, bukan dari banyaknya laporan.

Pengawas pun mengalami transformasi peran. Dari “penilai eksternal” menjadi “coach lintas sekolah”. Mereka membantu guru dan kepala sekolah melihat praktik pendidikan dari perspektif yang lebih luas, tanpa kehilangan empati terhadap konteks lokal.

Pada akhirnya, supervisi akademik berbasis coaching adalah upaya memanusiakan pendidikan. Ia mengakui bahwa guru adalah manusia pembelajar yang terus bertumbuh. Kesalahan bukan aib, melainkan bahan refleksi. Perbaikan bukan perintah, melainkan kesepakatan.

Model supervisi ini mengajak kita percaya bahwa perubahan pendidikan yang berkelanjutan tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari kesadaran. Bukan dari inspeksi, tetapi dari percakapan. Bukan dari kontrol, tetapi dari kolaborasi. Dari mengawasi ke menumbuhkan, supervisi menemukan kembali ruhnya sebagai seni membimbing manusia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel