Ads

Dualitas Kehidupan dan Panggilan Himalaya

 

Dualitas Kehidupan dan Panggilan Himalaya

Melampaui Dualitas: Kisah Arya, Sang Pemberani dari Utara

Penulis: Akang Marta



Jauh sebelum berkecimpung di bisnis, Arya telah akrab dengan dunia spiritual. Sejak remaja, ia mulai merenung tentang kematian dan makna hidup. Ia mulai rutin bermeditasi sejak SMA menjelang kuliah. Ia menyadari bahwa mengontrol napas adalah kunci ketenangan. Meditasi mengajarkannya tentang filosofi Dualitas Kehidupan:

"Kita kelihatan baik karena ada pembanding buruk. Kita terlihat kaya karena ada yang miskin. Jangan pernah menyesali keterbatasan, karena itu adalah berkah yang memberi kita pembanding."

Kemiskinan dan status sosialnya ia pandang sebagai pemicu untuk bangkit. Melalui meditasi, ia belajar melampaui dualitas, memosisikan diri sebagai pengamat. Ia menyadari bahwa hidup hanyalah jeda antara tarikan dan hembusan napas. Kesadaran ini menjadi pondasi batinnya saat menghadapi masa-masa paling sulit.

Semasa kuliah, spiritualitas Arya semakin kuat. Ia bahkan memiliki cita-cita tersembunyi untuk menjadi seorang Pembabar Dharma atau Bikkhu untuk melayani nilai-nilai kehidupan. Ia telah memenuhi syarat, tetapi terhenti karena harus mendapatkan izin orang tua untuk hidup selibat (tidak menikah).

"Membuat orang tua bersedih itu juga tidak benar," putusnya.

Ia membuang cita-cita status itu, namun mempertahankan fungsinya. Ia kini adalah seorang Presiden Direktur, membuktikan bahwa modal terbesar bukan warisan, melainkan jiwa petarung dan keberanian untuk beradaptasi.

Pada usia 40-an, ia mulai menyeimbangkan jiwa petarungnya (menurunkan porsinya) untuk memberi ruang pada ketenangan batin. Namun, ia tak pernah lupa bahwa sejak kecil, ia pernah mencoret-coret gambar candi dan gunung yang mirip Pegunungan Himalaya. Suatu hari, di luar kepentingan bisnis, ia menempuh perjalanan jauh ke Lembah Kali Gandaki, Nepal, satu-satunya perjalanan internasional murni pribadinya.

Arya percaya bahwa visi masa depan terkadang diinformasikan melalui kepolosan pikiran masa kecil. Kisah hidupnya membuktikan bahwa apa yang tampak tidak mungkin akan menjadi mungkin ketika kita berani bermimpi, bertarung, dan menerima dualitas takdir.

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel