Makam dan Tumbal Pesugihan di Belakang Studio
Makam dan Tumbal Pesugihan di Belakang
Studio
Penulis: Akang Marta
Setelah urusan dengan Yusniah selesai, suasana di studio radio sempat terasa
lebih ringan. Malam-malam kembali sunyi tanpa tangisan, tanpa tawa asing, tanpa
kehadiran yang mengikuti langkah Teh Riri ke mana pun ia pergi. Namun
ketenangan itu hanya berlangsung singkat. Seolah ada lapisan cerita lain yang
belum sepenuhnya terbuka, menunggu saat yang tepat untuk memperlihatkan wajah
aslinya.
Pada malam berikutnya, ketika Teh Riri baru saja selesai membersihkan kamar
dan hendak beristirahat, hawa dingin yang tidak biasa kembali menyelimuti
halaman belakang. Angin berembus pelan, namun terasa berat. Lampu halaman
berkedip satu kali sebelum kembali stabil. Saat itulah sosok yang sudah ia
kenal muncul kembali.
Buta Cebol berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
Tubuhnya masih sama—pendek, gemuk, botak, dengan mata merah kehitaman yang
memantulkan cahaya lampu. Namun kali ini, ekspresinya tidak mengancam. Ia
tampak ingin berbicara. Dengan suara berat namun terkendali, ia memanggil Teh Riri
dan memperkenalkan kembali dirinya dengan nama yang lebih ia sukai.
“Aku Ki Gede,” katanya singkat.
Teh Riri menelan ludah. Nama itu terasa jauh lebih berat daripada sebutan
Buta Cebol. Ada wibawa yang menyertainya, seolah nama itu bukan sekadar
identitas, melainkan kedudukan. Ki Gede lalu menjelaskan bahwa dirinya adalah
penguasa wilayah tersebut—bukan hanya studio radio, tetapi kawasan sekitarnya,
termasuk wilayah industri yang berkembang pesat di sana.
Ia berbicara tentang hal-hal yang selama ini hanya Teh Riri dengar sebagai
bisik-bisik: pesugihan.
Menurut Ki Gede, tempat itu sejak lama dimanfaatkan oleh banyak orang untuk
mencari kekayaan instan. Mereka datang dengan niat tersembunyi, membawa janji,
dan meninggalkan tumbal. Studio radio, lapangan futsal, dan beberapa bangunan
tua di sekitarnya berdiri di atas tanah yang sudah “dipakai” jauh sebelum beton
dan besi berdiri.
Ki Gede mengatakan bahwa ia ingin berbicara dengan “leluhur” yang menjaga
Teh Dewi. Ia menyebut bahwa tidak semua manusia bisa tinggal lama di wilayah
itu tanpa perlindungan. Ada garis keturunan tertentu yang membuat seseorang
tidak mudah diganggu. Dan Teh Dewi, menurutnya, berada dalam lindungan leluhur
yang tidak sembarangan.
Ia lalu menjelaskan bahwa dirinya bersemayam di tiga titik utama di daerah
tersebut. Salah satunya adalah studio radio. Tepatnya, di belakang kamar Teh
Dewi.
Mendengar itu, dada Teh Riri terasa sesak. Ia menoleh ke arah belakang
kamar—ke area yang selama ini hanya ia anggap halaman kosong dengan tanah
sedikit meninggi. Ki Gede tersenyum tipis dan mengatakan bahwa di sana terdapat
sebuah makam yang sangat besar. Bukan makam biasa, bukan pula makam umum.
Ukurannya jauh lebih besar dibandingkan makam lain, dan keberadaannya sengaja
disamarkan.
Hari itu juga, dengan perasaan tidak menentu, Teh Riri baru menyadari kontur
tanah yang tidak wajar di belakang kamarnya. Tanahnya lebih tinggi, memanjang,
dan terasa padat. Ki Gede mengatakan bahwa makam itu bisa berisi jasad manusia,
bisa pula berisi benda-benda keramat—atau keduanya. Ia sendiri tidak
menjelaskan secara rinci, seolah tidak semua hal boleh diucapkan dengan
kata-kata.
Sebagai Ki Gede—sosok yang diagungkan di wilayah itu—ia biasa menerima
persembahan yang disebut Rujak Wuni. Namun sekali lagi ia menegaskan, Rujak
Wuni bukanlah rujak buah. Itu adalah tumbal. Daging mentah. Persembahan darah
dan nyawa.
Teh Riri mendengarkan dengan tubuh kaku saat Ki Gede menjelaskan jenis
tumbal yang pernah diberikan. Ada yang berupa kambing. Ada yang sapi. Ada pula
kerbau. Namun untuk permintaan besar—kekayaan cepat, kekuasaan, atau
keselamatan bisnis di wilayah industri—tumbalnya bisa berupa manusia.
Kalimat itu menghantam kesadaran Teh Riri seperti palu godam.
Dengan suara datar, seolah sedang menceritakan cuaca, Ki Gede mengaku telah
menerima banyak tumbal sepanjang keberadaannya. Salah satunya adalah anak dari
pengusaha terbesar di wilayah itu. Anak kandung yang ditumbalkan oleh ayahnya
sendiri demi kelancaran usaha. Kisah itu disampaikan tanpa emosi, seolah
pengorbanan manusia hanyalah bagian dari perjanjian yang sah.
Teh Riri menahan napas. Dalam ketakutan yang mendalam, ia memohon agar
dirinya tidak dijadikan bagian dari perjanjian semacam itu. Ia berkata bahwa ia
hanya ingin bekerja, hidup tenang, dan pulang dengan selamat.
Mendengar permohonan itu, Ki Gede tertawa.
Tawanya menggema, berat, dan membuat dada Teh Riri bergetar. Namun setelah
tawanya reda, Ki Gede berkata dengan nada mengejek namun anehnya menenangkan,
bahwa daging Teh Riri pahit. Tidak cocok dijadikan tumbal. Kalimat itu, meski
terdengar mengerikan, justru membuat Teh Riri sedikit lega.
Percakapan mereka hampir berakhir ketika sesuatu yang lain menarik perhatian
Ki Gede. Dari arah sumur tua di sudut halaman, muncul sosok yang membuat darah
Teh Riri seakan membeku. Sebuah kepala botak muncul perlahan, diikuti lidah
panjang yang menjulur keluar. Tubuhnya tinggi kurus tidak proporsional, dan
ketika ia bergerak, terdengar suara aneh—tok… lek… tok… lek…—seperti orang
berjalan menggunakan egrang.
Kaki makhluk itu panjang seperti bambu, menopang tubuhnya yang menjulang tak
wajar. Ia mencoba mendekat, matanya menatap ke arah Teh Riri dengan lapar.
Belum sempat Teh Riri bereaksi, Ki Gede langsung membentak dengan suara
menggelegar. Bentakan itu membuat udara bergetar. Makhluk tinggi kurus itu
berhenti seketika, tubuhnya gemetar, lalu mundur perlahan ke arah sumur. Dalam
hitungan detik, ia menghilang kembali ke kegelapan, seolah ditelan tanah.
Ki Gede menoleh kembali ke arah Teh Riri dan berkata singkat bahwa tidak
semua makhluk di wilayah itu tahu batas. Ada yang hanya tahu lapar.
Setelah itu, tanpa pamit panjang, Ki Gede melangkah pergi. Langkahnya
perlahan, berat, namun akhirnya lenyap di balik gelap halaman.
Teh Riri terduduk lemas di lantai kamar. Nafasnya memburu, pikirannya penuh.
Malam itu ia memahami satu kenyataan pahit: di balik studio radio tempat suara
dan musik mengalir, berdiri sejarah gelap tentang makam, tumbal, dan
keserakahan manusia. Dan ia—tanpa pernah meminta—telah tinggal tepat di
atasnya.
