Kisah Penyiar Melawan Penguasa Studio Angker
Interaksi dan Peringatan Gaib: Kisah Penyiar Melawan Penguasa Studio Angker
Penerimaan Diri dan Peringatan Ustaz
Penulis: Akang Marta
Sejak pertama kali bekerja sebagai penyiar radio malam, Teh Riri sebenarnya
sudah menyadari bahwa dirinya berbeda. Ia bukan hanya mendengar suara-suara
yang tak kasatmata, tetapi juga kerap melihat bayangan, sosok, dan pergerakan
yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Kepekaan terhadap dunia astral itu
bukan hal baru baginya, namun berada di studio radio yang dikenal angker
membuat semua kemampuan itu terasa lebih berat dan menguras batin.
Setiap kali pulang siaran, Teh Riri sering bertanya dalam hati, mengapa ia
harus diberi kemampuan seperti ini. Ia tidak pernah merasa bangga, apalagi
menikmati. Yang ia rasakan justru ketakutan, kelelahan, dan rasa tidak adil.
Dalam banyak malam, ia menangis sendirian di kamar studio, memohon agar Allah
mencabut kepekaan itu darinya.
Suatu hari, dengan perasaan yang sudah terlalu penuh, Teh Riri memberanikan
diri bercerita kepada seorang Pak Ustaz yang ia percaya. Ia mengungkapkan semua
kegelisahannya—tentang penampakan, gangguan, dan ketakutan yang terus
mengikutinya. Dengan suara bergetar, ia bertanya, “Kenapa saya harus bisa
melihat hal-hal seperti itu, Ustaz? Apa salah saya?”
Pak Ustaz mendengarkan dengan tenang, tanpa memotong pembicaraan. Wajahnya
teduh, matanya menatap penuh empati. Setelah Teh Riri selesai, ia tersenyum
tipis dan menjawab dengan suara lembut namun tegas. Menurutnya, kemampuan
tersebut bukanlah kutukan, melainkan anugerah. Tidak semua orang diberi
kepekaan itu, dan tidak semua orang pula mampu menjalaninya.
“Kalau Allah memberi, berarti Allah juga tahu kamu mampu,” kata Pak Ustaz.
Ia menasihati Teh Riri untuk berhenti menolak dan mulai menerima. Menikmati
bukan berarti mencari gangguan, tetapi berdamai dengan diri sendiri. Ikhlas dan
sabar adalah kuncinya.
Nasihat itu tidak serta-merta menghilangkan ketakutan Teh Dewi, namun ada
ketenangan kecil yang mulai tumbuh. Ia menyadari bahwa melawan takdir hanya
akan membuatnya semakin lelah. Sejak saat itu, ia berusaha menerima kepekaan
tersebut sebagai bagian dari hidupnya, sambil memperkuat ibadah dan menjaga
niat.
Di tengah pembicaraan yang terasa menenangkan itu, Pak Ustaz tiba-tiba
mengubah nada bicaranya. Wajahnya menjadi lebih serius. Ia mengatakan bahwa ada
satu hal penting yang harus diketahui Teh Dewi, khususnya terkait tempat ia
bekerja.
Pak Ustaz menjelaskan bahwa di studio radio tersebut, selain makhluk-makhluk
yang biasa menampakkan diri seperti Kuntilanak, ada satu entitas yang jauh
lebih berbahaya. Makhluk itu berbentuk cebol, bertubuh pendek namun padat,
dengan wajah yang buruk dan menyeramkan. Ia menegaskan bahwa sosok itu sama
sekali tidak lucu seperti Semar dalam pewayangan, melainkan lebih menyerupai
raksasa—Buta—dalam versi kecil.
Pak Ustaz menduga kuat bahwa makhluk inilah yang pernah Teh Riri lihat
sekilas. Sosok yang melintas cepat ketika pintu studio dibuka, bergerak
tergesa-gesa seolah sedang berlari, lalu menghilang sebelum sempat dikenali.
Selama ini Teh Riri mengira itu hanya bayangan atau kelelahan mata, namun
penjelasan Pak Ustaz membuat ingatan itu kembali terasa jelas dan menakutkan.
Makhluk tersebut, menurut Pak Ustaz, adalah penguasa paling ganas di wilayah
itu. Ia galak, tidak suka diganggu, dan sangat protektif terhadap wilayah
kekuasaannya. Tidak semua orang bisa melihatnya, dan tidak semua orang yang
melihatnya bisa selamat secara batin.
Mendengar itu, Teh Riri sedikit merasa lega karena selama ini ia hanya
berinteraksi dengan Kuntilanak dan sosok-sosok lain yang relatif “komunikatif.”
Ia berpikir bahwa mungkin makhluk ganas itu belum tertarik padanya. Namun Pak
Ustaz segera mematahkan pikiran tersebut.
Ia menjelaskan bahwa makhluk itu sudah sangat tua dan sangat kuat.
Berkali-kali para kiai dengan derajat spiritual tinggi mencoba mengusirnya,
namun selalu gagal. Bahkan, beberapa di antaranya terpental secara gaib dan
mengalami muntah darah setelah ritual pengusiran. Cerita itu bukan untuk
menakut-nakuti, melainkan peringatan agar Teh Riri tidak meremehkan kekuatan
yang ada di sana.
Mendengar kisah itu, hati Teh Riri menciut. Ia merasa kecil, rapuh, dan
sendirian. Ia hanyalah seorang perempuan yang bekerja malam hari, tinggal di
dalam studio radio, jauh dari keluarga. Bayangan menghadapi penguasa gaib yang
begitu ganas membuatnya nyaris kehilangan keberanian.
Dengan suara pelan, Teh Riri mengungkapkan ketakutannya. Ia bertanya apa
yang harus ia lakukan agar tetap aman. Pak Ustaz tidak memberikan amalan aneh
atau ritual khusus. Ia justru memberikan pesan yang sangat sederhana, namun
berat maknanya.
“Jangan berbuat macam-macam,” katanya. Maksudnya, jangan sombong, jangan
menantang, jangan meremehkan, dan jangan mengotori tempat tersebut—baik secara
fisik maupun batin. Makhluk penguasa itu sangat tidak suka wilayahnya
dilanggar, apalagi jika dianggap ternodai oleh perilaku manusia.
Pak Ustaz juga berpesan agar Teh Riri menjaga adab, memperbanyak doa, dan
selalu menyebut nama Allah dalam setiap aktivitas. Bukan untuk melawan,
melainkan untuk berlindung. Ia menegaskan bahwa manusia tidak perlu mencari
konfrontasi dengan dunia gaib, karena pada dasarnya manusia hanya tamu di
banyak tempat yang ia tinggali.
Sepulang dari pertemuan itu, Teh Riri merasakan campuran emosi yang sulit
dijelaskan. Ada ketenangan karena merasa dipahami, namun juga ada ketakutan
baru yang lebih dalam. Setiap sudut studio kini terasa memiliki mata yang
mengawasi. Setiap langkahnya terasa diawasi oleh sesuatu yang tak terlihat.
Namun sejak hari itu pula, Teh Riri berubah. Ia lebih berhati-hati dalam
bersikap, menjaga ucapan, dan tidak lagi mengeluh sembarangan. Ia belajar bahwa
keberaniannya bukan terletak pada melawan, melainkan pada bertahan dengan iman.
Di tengah studio radio yang angker, di bawah bayang-bayang penguasa gaib yang
ganas, Teh Riri memilih satu sikap: bertahan dengan keyakinan, dan menyerahkan
keselamatan hanya kepada Allah.
